Ringkasan Khotbah

31
Mei 2020
Yakobus 3:13-18
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.

Apa yang ditampilkan di iklan dan kenyataan kadang bisa sangat jauh berbeda.

  

Kira-kira pembeli kecewa tidak ya? Antara iklan dan kenyataan kadang bisa sangat jauh berbeda. Beberapa tujuan iklan: untuk memasarkan/menyebarluaskan produk,  menarik minat para pembeli, menimbulkan rasa suka pada masyarakat akan produk yang diiklankan, membujuk masyarakat untuk mencoba produk yang diiklankan, dan menyadarkan masyarakat akan keberadaan perusahaan yang memproduksi produk/barang yang diiklankan. Pembuatan iklan tidak terlepas dari proses branding!Brand = Persepsi orang tentang produk/perusahaan. Proses branding adalah sebuah proses untuk membangun persepsi sebuah produk/perusahaan. Banyak iklan dibuat agar masyarakat berpikir bahwa produk tersebut hebat, keren, awet, ekonomis, modern, trendi, dll. Pernah dengar tentang personal branding? Setiap orang melakukan personal branding. Personal branding adalah: “Bagaimana cara kita memperkenalkan diri kita kepada orang lain/publik”. Personal branding sebagai "tindakan yang kita lakukan karena kita ingin dinilai atau dikenal orang sebagai pribadi seperti apa." Contoh dalam kehidupan para rohaniwan Yudaisme pada masa awal kekristenan: Matius 23:5-7Rohaniwan Yudaisme pada zaman itu sedang melakukan personal branding, ingin dikenal sebagai orang yang suci, rohani, terhormat, dll. Bagaimana kenyataannya? Tuhan Yesus mengenali kualitas rohaniwan Yudaisme yang sebenarnya: Matius 23:27-28. Pilatus, yang bahkan belum bertobat juga mengenali para rohaniwan Yudaisme yang datang kepadanya: Markus 15:9-11. Intinya: branding boleh saja dilakukan, tetapi masyarakat pada akhirnya bisa mengenali apakah produk yang ditawarkan benar-benar sesuai dengan yang diiklankan atau tidak. Jika produk yang diiklankan tidak sebaik yang didapatkan maka masyarakat bisa menilai bahwa iklan tersebut penuh kepalsuan!

Yakobus mengatakan bahwa kebijaksanaan atau budi kita harus dibuktikan melalui cara hidup kita. Kebijaksanaan surgawi berbeda dengan kebijaksanaan duniawi. Jika ada jemaat yang memandang dirinya bijaksana, ia harus hidup secara demikian sebagai bukti kebijaksanaannya, namun jika mereka melakukan hal yang sebaliknya, maka mereka sedang memutarbalikkan kenyataan atau berdusta. Yakobus berkata bahwa kebijaksanaan/hikmat yang berasal dari surga dibuktikan dengan kualitas kehidupan yang baik: A. Murni, B. Suka berdamai, C. Peramah, D. Penurut, E. Penuh belas kasihan, F. Berbuat kasih, G. Tidak memihak/adil, H. Tidak berpura-pura/tulus, I. Rendah hati, dll. Kebijaksanaan/hikmat duniawi ditunjukkan lewat cara hidup duniawi: A. Cemburu, B. Sakit hati, C. Mementingkan diri sendiri/egois, D. Dan lain-lain, yang berupa sifat yang bertentangan dengan kebijaksanaan surgawi. Intinya Yakobus sedang mengajar kepada kita bahwa kualitas pribadi kita yang sesungguhnya berbicara jauh lebih kuat dan permanen daripada apa yang ingin kita tampilkan.

Apa hikmah yang dapat kita petik dari renungan firman hari ini?

1. Jadilah otentik! Otentik adalah asli. Menjadi otentik bukan berarti kita tidak mau berubah lalu menampilkan semua kejelekan kita apa adanya. Sebaliknya menjadi otentik itu mewajibkan kita berubah, dan tampilkan perubahan diri kita apa adanya. Setiap orang memiliki sebuah keinginan untuk menjadi baik. Tuhan meletakkan hal ini di dalam diri setiap manusia. Bahkan orang yang sedang berbuat hal yang tidak baik pun sebenarnya memiliki keinginan untuk menjadi baik di dalam lubuk hati mereka, masalahnya hanyalah apakah mereka mengusahakannya atau tidak. Personal branding itu sebenarnya muncul dari beberapa hal: kepentingan dan keinginan untuk menjadi orang baik. Apa yang diajarkan oleh Yakobus adalah jangan hanya ingin dikenal sebagai orang yang baik/rohani, tetapi jadilah orang yang sungguh-sungguh rohani/asli baik. Natanael adalah contoh pribadi yang otentik, ketika ia berbicara tidak ada kepentingan atau agenda tersembunyi dalam hatinya, ia berbicara jujur apa adanya (Yohanes 1:47). Apakah Anda pernah tertipu dengan penampilan seseorang? Bagaimana perasaan Anda saat itu? Kita harus menjadi orang percaya yang otentik! Orang akan mengenali kita dari buah kehidupan kita, yaitu perubahan hidup kita, keputusan, tutur kata, tindakan kita(Matius 7:16).

2. Menjadi otentik perlu kerja keras. Setiap prototipe produk dibuat dengan kualitas terbaik, bagaimana dengan produk berikutnya? Apakah dibuat dengan kualitas yang minimal sama bagusnya?Upayakanlah untuk bekerja keras, hasilkan “produk” yang bagus sesuai dengan model atau teladan yang diajarkan oleh firman Tuhan (Roma 12:2). Menjadi otentik berbicara mengenai perubahan. Contoh: Rasul Petrus bertumbuh menjadi otentik, awalnya: Galatia 2:11-12Hasil perubahannya: Kisah Para Rasul 15:7-11. Yakobus memberi teladan sebagai pribadi yang otentik dengan mengakui bahwa ia pun belum sempurna: Yakobus 3:2. Halangan menjadi otentik: A. Ego dan kesombongan. B. Keras kepala. C. Kepentingan, dll. Itulah sebabnya jadilah murni. Buka hati untuk Roh Kudus menolong kita. Amin!

5
Jul 2020
Bp. Bambang Sulistyo, M.Th.
28
Jun 2020
Ps. Benny Yulianto, S. Th.
21
Jun 2020
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
14
Jun 2020
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.