Ringkasan Khotbah

4
Feb 2024
1 Samuel 25:17
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.

Di hari raya Imlek, orang-orang yang memiliki hubungan kekerabatan saling kunjung-mengunjungi dan berbagi berkat berupa menjamu tamu dengan makanan, antar-mengantar kue keranjang, jeruk, dll. Lalu ada budaya membagikan amplop berwarna merah yang disebut Angpau. Bagi yang sudah menikah memberikan amplop merah tersebut kepada anak-anak anggota keluarganya yang belum menikah. Memang ada segelintir orang-orang yang mungkin berkunjung karena berburu amplop merah tersebut, namun tidak semuanya berpikir demikian. Ada yang bahkan sungkan untuk mengunjungi sanak familinya karena tidak mau dikira berburu amplop merah tersebut, ketika mereka mengunjungi sanak saudaranya hati mereka murni bermaksud untuk menghormati budaya leluhur dan menghormati sanak saudara mereka yang mereka datangi untuk mengucapkan selamat tahun baru. Apa yang terjadi jika orang yang bermaksud baik itu dihina oleh si tuan rumah? Si tuan rumah tersebut dalam posisi bersalah. Pernahkah Anda berpikir dan memperlakukan secara negatif orang yang tulus hati kepada Anda? Kita akan melihat satu kisah di dalam Alkitab tentang peristiwa serupa di sebuah hari raya pengguntingan bulu domba.

Nabal adalah seorang yang sangat kaya, ia sedang merayakan pengguntingan bulu dombanya. Menurut adat kebiasaan, hari itu adalah kesempatan untuk berbuat baik kepada orang-orang yang ada di sekitarnya. Mengucap syukur atas berkat-berkat Tuhan dengan cara berbagi berkat pada orang-orang yang tinggal di sekitarnya dengan menerima tamu dan bahkan mengirimkan makanan. Daud dan orang-orangnya sedang dalam masa pelarian karena dikejar-kejar Saul yang menolak rencana Tuhan untuk menjadikan Daud menjadi raja menggantikan dirinya. Keadaan sesaat tampak lebih buruk karena kematianNabi Samuel. Daud melarikan diri ke padang gurun Paran (1 Samuel 25:1). Kenyataan yang dilihat Nabal: Kematian Samuel tampaknya merupakan kemenangan bagi Saul. Mendukung Saul secara politik tampak lebih menguntungkan daripada mendukung Daud.Ketika Daud mengutus orang-orangnya di hari raya itu untuk datang ke rumah Nabal bukan berarti ia sedang melakukan aksi premanisme kepada Nabal. Situasi yang dihadapi oleh Daud kurang lebih sama seperti orang-orang yang bermaksud baik ketika datang di hari raya. Ia bukan sedang mengemis untuk anak buahnya dan dirinya. Menurut kebiasaan di hari raya tersebut, seharusnya Nabal lah yang bermurah hati mengantarkan makanan tersebut.Belum lagi Daud dan tentaranya sering mempertaruhkan nyawa untuk melindungi Nabal dan orang-orangnya dari perampok-perampok yang ada di daerah tersebut. Menurut adat, mereka memiliki "hak persaudaraan", diperlakukan sebagai saudara sebagaimana mereka memperlakukan Nabal sebagai saudara mereka.Tidak memberi tidak apa-apa, tetapi jangan menghina. Tindakan Nabal menghina dan memaki Daud dan tentaranya jelas keterlaluan. Ia sedang menghina orang yang diurapi Tuhan secara langsung melalui Nabi Samuel. Tindakan semacam ini jelas merupakan sebuah penghinaan terhadap seorang pemimpin, dan juga penghinaan terhadap Tuhan (1Samuel 25:14-17).

Anak buah Nabal telah berusaha berbicara baik-baik untuk mengubah pendiriannya. Tetapi Nabal menolak untuk menerima pendapat orang lain, ia menolak menerima kebenaran.Mereka telah mencoba berulang kali berbicara baik-baik kepada Nabal, tetapi mereka terus-menerus diabaikan.Ketika emosi, Daud berniat menegakkan keadilan dengan tangannya sendiri.Untunglah para pegawai Nabal bergerak memberitahu Abigail, isteri Nabal, tentang hal itu. Lalu Abigail memperbaiki keadaan dengan bergerak cepat. (1Samuel 25:30-33).Tuhan menghukum Nabal karena kekerasan hatinya dan penolakannya untuk bertobat. Keadilan ditegakkan oleh Tuhan (1 Samuel 25:37-38).

Mengapa orang-orang sulit menerima kebenaran dalam hal-hal tertentu?

1. Ketidakmampuan membangun persepsi dengan benar. Fakta (bahasa latin: factus) adalah segala sesuatu yang tertangkap oleh indra manusia atau data keadaan nyata yang terbukti dan telah menjadi kenyataan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), fakta adalah sesuatu hal yang benar-benar ada dan terjadi. Fakta dapat diperoleh melalui suatu pengamatan terhadap suatu objek atauperistiwa/kejadian tertentu.Persepsi adalah cara seseorang memahami atau menginterpretasikan informasi berdasarkan pengalaman, pengetahuan, dan pengamatan mereka. Persepsi dapat berbeda antara individu yang berbeda meskipun diberikan informasi yang sama. Ini soal penerimaan yang bisa berbeda meskipun menerima informasi yang sama. Ketidakmampuan yang bersifat temporer/sementara: A. Faktor usia. Anak-anak belum bisa menilai dan berpikir seperti orang dewasa. B. Suasana hati.Ketika hati sedang tidak senang dengan sesuatu atau seseorang, maka persepsi yang dibangun juga bisa salah. Ketika hati sedang dalam suasana tersakiti, maka ketika mendengar kebenaran Firman Tuhan akan sulit/salah menangkap maksud Firman tersebut untuk memperbaiki diri sendiri. C. Kepentingan/keinginan. Ahab tidak bisa menerima kebenaran karena hatinya dikuasai kepentingan dankeinginan (2 Tawarikh 18:17). Orang bisa mengatakan dan melakukan apa saja ketika hatinya dikuasai kepentingan/keinginan.Contoh: Keinginan berkuasa membuat orang menyerang siapa saja dan melupakan integritas. Ketidakmampuan yang bersifat permanen: Ini tentang kecerdasan dan perkembangan mental untuk mengolah informasi menjadi persepsi yang tepat.

2. Karakter/watak.Ini adalah masalah yang dihadapi oleh Nabal.Ini juga masalah yang dihadapi oleh rohaniwan Yahudi di zaman Tuhan Yesus (Lukas 23:13-15, 22-23).

3. Budaya/prinsip kebenaran yang dianut. Budaya/prinsip kebenaran yang kita anut menentukan persepsi kita saat membaca kisah ini. Contoh: Orang bertanya, lho tidak diberi THR kok marah dan ingin membunuh. Kok Daud seperti preman ya? Ini yang terjadi ketika orang berusaha memahami Alkitab berdasar budayanya sendiri, bukan budaya asli masyarakat yang terlibat dalam kisah tersebut.Kita seringkali menilai orang lain berdasar budayaprinsip kebenaran yang kita anut tetapi kita lupa bahwa orang tersebut memiliki budaya/prinsip kebenaran yang mereka terima sebagai kebenaran.Bisa melihat contoh nya dalam keseharian? Hati-hati dengan prinsip kebenaran yang kita anut (Imamat 18:3). Jadi bagaimana kita bisa membangun kualitas pribadi untuk dapat menerima kebenaran? Buka hati untuk proses yang Tuhan kerjakan dalam hidup kita (Yohanes 16:13).Kita sedang di dalam masa pembelajaran untuk menjadi semakin menyerupai Kristus.Semangat!

Amin. Tuhan memberkati!

24
Mar 2024
Bp. Natanael Sugiarto
17
Mar 2024
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
10
Mar 2024
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
3
Mar 2024
Pdt. Imanuela Sri R.