Ringkasan Khotbah

7
Jan 2024
1 Samuel 15:22-23
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.

Memahami rancangan Allah dalam penciptaan: Kejadian 1:28. Kehendak Allah yaitu: Ia merancang manusia untuk mengelola langit dan bumi serta memerintah atas ciptaan lain dalam ketundukan pada otoritas Allah. Namun perintah ini tidak berhasil dilakukan oleh manusia secara sepenuhnya, manusia hanya berhasil melakukan perintah untuk beranak cucu dan memenuhi bumi. Perintah untuk memerintah dalam ketundukan pada Allah gagal dilakukan karena manusia memilih untuk mempercayai tipuan iblis yaitu memerintah sendiri di luar ketundukan pada Allah. Manusia bergerak tidak pada jalur yang benar yang ditetapkan Tuhan. Tidak on track. Dalam bahasa Ibrani keadaan itu disebut dengan “hamartia” atau artinya: DOSA! Melenceng dari jalur yang benar. Akibat dari keputusan itu adalah kegagalan atau kehancuran (Kejadian 3:17-19). Jadi tindakan Adam dan Hawa mengandalkan pikiran dan kemampuannya sendiri menghasilkan kehancuran. Di dalam banyak ayat lagi diceritakan berulang kali tentang kisah aneka macam tokoh Alkitab yang mengalami kegagalan karena mereka memilih untuk berjalan sendiri di luar pimpinan Tuhan. Contoh: Abraham vs Lot. Lot mengambil keputusan yang salah, tetapi ia menjadi sangat kaya. Jadi siapa bilang hanya orang percaya yang dapat memiliki berkat kekayaan? Sesaat Lot tampak lebih pandai dan lebih cepat kaya dibanding Abraham, tetapi bagaimana akhirnya?
Saul Vs Daud. Mengapa Saul gagal? Ia tidak mau dipimpin oleh Tuhan, ia bergerak berdasarkan pikiran dan keinginannya sendiri, bergerak berdasarkan apa kata orang, bukan apa kata Tuhan. Daud berhasil karena dalam setiap langkah yang diambilnya didasari dengan kebergantungan dan ketundukan pada Tuhan (Yeremia 17:5-8). Di dalam keseharian dan pelayanan apakah Anda ingin meraih keberhasilan yang utuh? Sehebat apa kita? Yakin benar-benar hebat? Apa yang dapat dihasilkan kehebatan kita? Jangan masuk terlalu banyak dengan rencanamu. Tuhan tertarik pada pribadi kita, bukan pada rencana kita. Beri ruang untuk Tuhan memimpin kita. Jangan biarkan hidup kita dikuasai oleh apa yang kita ciptakan sendiri! (1 Korintus 3:18-20). Allah adalah Sumber hidup kita. Hidup yang adalah benar-benar hidup yang berkualitas, inilah kelimpahan yang sesungguhnya. Allah datang untuk memberi hidup dan kelimpahan, bukan seperti pencuri yang membinasakan (Yohanes 10:10). Jadi, agar kita dapat meraih keberhasilan secara utuh dalam hidup ini kita perlu bergerak dalam pimpinan Roh Kudus, bukan bergerak dalam akal pikiran sendiri. Entah itu kehidupan sehari-hari, entah itu pelayanan, bergeraklah dalam pimpinan Roh Kudus (Kisah Para Rasul 16:6-10). Bergerak dalam pimpinan Roh Kudus berarti Tuhan bergerak di depan kita, sehingga kita berjalan menurut petunjuk yang Tuhan berikan buat kita (ON TRACK), bukan sebaliknya kita bergerak maju sendiri lalu berharap Tuhan memberkati kemauan kita (Keluaran 13:21-22).
Bagaimana bergerak dalam pimpinan Roh Kudus? (ON TRACK)
1.Mempersiapkan hati, tubuh dan pikiran. Jika pikiran hiruk-pikuk penuh dengan berbagai keinginan, pikiran, perasaan, dll dapatkah kita mendengar suara Tuhan berbicara untuk menuntun kita? Kepala Saul penuh dengan pikiran yang hiruk pikuk, keinginan sendiri, takut dengan pendapat orang lain tentang dirinya, bagaimana penampilan atau performa nya di hadapan manusia, dll (1 Samuel 13:11-12, 1 Samuel 15:14-15, 19-21, 30). Pusat perhatian dalam semua kebangunan rohani adalah Tuhan sendiri, bukan hamba Tuhannya. Demikian pula dalam keseharian, pergumulan yang sama soal menjadi pusat perhatian memang seringkali tidak disadari. Sikap seperti itu sangat mengganggu dan berbahaya. Bagaimana mempersiapkan hati, tubuh dan pikiran? A. Doa dan puasa (Imamat 16:31). Puasa bukan untuk memanipulasi Tuhan agar mengabulkan doa kita, tetapi puasa untuk melatih diri bergerak selaras dengan tuntunan Tuhan. B. Pujian dan penyembahan. Meninggikan Tuhan sebagai Pusat penyembahan kita. Pujian penyembahan pribadi menolong kita selalu rendah hati dan memuliakan Tuhan, menjauhkan diri dari kesombongan, dll. C. Membiasakan diri merenung dan mengevaluasi diri dalam ketenangan. Jangan terlalu sibuk, sibuk berbeda dengan efektif. Ingat bahwa pelayanan dapat menjadi berhala dalam situasi tertentu.
2. Temukan karunia dan melayani dalam bidang yang sesuai (1 Korintus 12:7-11). Saul tidak menyadari keterbatasannya. Ia malah mencoba mencelakai Daud yang sebenarnya melengkapi kelemahannya. Ada bagian yang mampu dikerjakannya, tetapi ada yang tidak mampu ia kerjakan, di sinilah ketaatannya pada Tuhan diperlukan (1 Samuel 18:5). Melayani sesuai karunia. Tubuh Kristus harus bergerak bersama-sama. Saling melengkapi. Berbeda karunia tidak boleh menyebabkan orang percaya saling serang, tetapi harus bekerjasama dengan kerendahan hati. Semua punya kelebihan dan kelemahan masing-masing. Akui dan sadari. Barulah kita dapat dengan mudah ditempatkan dalam pelayanan sesuai karunia  kita. Dipindahkan ke bagian pelayanan yang sesuai itu bagus. Tetapi ada orang yang merasa jelek dan gagal jika dipindahkan ke bagian yang cocok, ini sangat aneh bukan? Adakah seekor ikan yang tersiksa di darat lalu menjadi marah ketika dipindahkan ke dalam air? Mind setting harus benar.
3. Kembangkan penundukan diri. Tuhan menuntun melalui beberapa hal: Firman, nasihat yang sesuai dengan nilai kebenaran Firman, dll. Masalahnya adalah apakah hati kita benar-benar siap dan mau tunduk pada Tuhan? Bagaimana jika yang Alkitab ajarkan itu sulit? Bagaimana jika Anda tidak menyukainya? Bagaimana jika itu bertentangan dengan yang Anda inginkan? Hati manusia itu licik. Bukan merasa-merasa sesuatu adalah pimpinan Firman, tetapi malah bertentangan dengan prinsip Firman Tuhan (Yohanes 10:27). Ayat itu berbicara tentang membedakan mana yang sungguh-sungguh pengikut Kristus dan yang palsu (Ibrani 13:17). Bagaimana ketaatan yang benar? A. Bukan ketaatan buta. Sesuaikah dengan yang Alkitab ajarkan? Menuntun kepada dosa atau kebenaran? Tetapi hati-hati kah dengan sikap mencari-cari alasan pembenar untuk sebuah keinginan. B. Membawa kebebasan, bukan belenggu atau keterpaksaan. Jangan karena takut, takut dihukum atau terpaksa. C. Taat karena mengerti nilai kebenaran Firman Tuhan (Kolose 3:18-22).
Amin. Tuhan memberkati!

 

25
Feb 2024
Bp. Natanael Sugiarto
11
Feb 2024
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
4
Feb 2024
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.