Ringkasan Khotbah

9
Okt 2022
1 Samuel 16:6-7
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.

Tema 4 bulan ini adalah strong determination. Memiliki kemauan yang kuat! Ini bagus jika kemauan yang kita pelihara adalah kemauan untuk mendapatkan sesuatu yang bernilai kekal, bukan kemauan untuk mendapatkan sesuatu yang salah. Jadi mari kita periksa hati dan pikiran kita, apakah kita memiliki strong determination untuk sesuatu yang sungguh-sungguh benar danbernilai kekal?

Samuel diperintahkan Tuhan untuk mengurapi seorang anak Isai yang dipilih oleh Tuhan menjadi raja. Ketika ia melihat Eliab, ia berpikir bahwa itulah pilihan Tuhan. “Wow, this is Mr.perfect!!!”, kata Samuel dalam hati. Tetapi Tuhan berkata kepada Samuel bahwa bukan Eliab yang dipilih-Nya. Mengapa Samuel berpikir demikian? Dari segi perawakan yang mungkin tinggi besar, gagah, tampan, dll.tampak cocok untuk jabatan raja. Menilai dari penampilan luar memang natur/sifat dasar manusia. Bagaimana Anda menilai orang? Kesan pertama pasti dari penampilan bukan? Selanjutnya tutur kata, lalu keputusan dan tindakannya dalam berbagai situasi, ujian waktu, dll. Barulah penilaian kita bertambah lengkap. Hal ini tentu saja kita semua sudah tahu. Karena itulah kita menyadari bahwa orang lain juga akan menilai kita, pertama-tama melalui penampilan, dan selanjutnya. Biasanya minimal orang sekedar ingin tampil baik atau pantas (maksudnya baik dalam berbagai hal) dalam koridor menjaga sopan-santun atau kepatutan. Atau ada orang yang ingin tampil sempurna di hadapan orang lain dalam peristiwa tertentu, contohnya: ulang tahun, wisuda, pernikahan, dll. Itulah sebabnya profesi make up artist adalah profesi yang dicari banyak orang. Ini jelas normal! Yang jadi masalah adalah jika ingin selalu harus tampil sempurna di hadapan orang lain! Ini yang bermasalah. Mengapa orang ingin tampil sempurna? A. Menghormati orang lain. B. Memberi yang terbaik bagi orang-orang yang dikasihi. C. Kenangan indah untuk peristiwa-peristiwa penting. D. Kebutuhan untuk “diterima“ oleh orang lain. E. Kebutuhan akan “pengakuan danpujian“ dari orang lain. F. Dll. Ingin tampil sempurna itu normal, tetapi ingin SELALU tampil sempurna di hadapan manusia itu melelahkan.Beberapa akibatnya :

1. Menuntut diri sendiri dan orang lain secara tidak realistis. Sama saja dengan tindakan menyiksa diri sendiri dan orang lain. Ada orang-orang membeli barang-barang mewah yang sebenarnya di luar kemampuan finansial mereka. Memang kualitas dan nilai seni sebuah benda tidak bisa diukur hanya dengan uang. Yang jadi masalah adalah jika kita meletakkan harga diri kita berdasarkan semuanya itu. Orang yang mengerti dirinya berharga karena pengorbanan Kristus tidak akan meletakkan harga dirinya karena hal-hal yang lain.Menuntut pasangan selalu berkelakuan seperti keinginan kita juga tidak realistis.

2. Tanpa sadar ternyata sedang hidup dalam perbudakan. Salah satunya diperbudak oleh apa kata orang”. Standar setiap orang tentu saja berbeda-beda. Tidak mungkin bisa memenuhi standar semua orang. Diperbudak dosa. Strong determination untuk menjadi orang beragama dan saleh” namun menggunakan standar buatan sendiri, bukan standar Alkitab (Yohanes 8:30-36)

3. Sulit mengalami kemajuan. Tidak berani mencoba karena takut salah. Ini berarti sudah kalah sebelum berjuang dan tidak menghasilkan karya apapun.

4. Sulit menerima masukan/nasihat. Masukan/nasihat diterjemahkan sebagai serangan terhadap harga diri danbiasanya hal ini tanggapi dengan serangan balik yang sengit. Orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri” tidak terlalu peduli dengan pendapat orang tentang dirinya. Jika ia dalam posisi benar tetapi disalah-salahkan maka ia akan memandang hal itu sebagai hal biasa, tetapi orang yang belum selesai dengan dirinya sendiri tentu akan merespon dengan sengit untuk memastikan orang lain memandangnya baik. Saul tidak mau menerima kenyataan bahwa ia bersalah, yang ia pedulikan hanyalah selalu tampil sempurna” di hadapan rakyatnya, bukan di hadapan Tuhan (1 Samuel 15:30).

5. Kerusakan hubungan. Bayangkan hidup dengan orang yang terus menuntut tentu saja sangat melelahkan bukan? Semuanya serba salah.

6. Tidak bahagia. Dapatkah hidup bahagia jika perasaan tersiksa oleh keinginan selalu tampil sempurna” dan berulang kali gagal? Yang lebih berbahaya dari sekedar tidak bahagia adalah mengalami gangguan mental.

7. Sulit menerima kasih dan kebaikan Tuhan. Pola pikir orang seperti itu biasanya: Tidak ada makan siang gratis. Artinya orang-orang seperti itu sulit mempercayai kasih yang tulus,bahkan kasih Tuhan sekalipun. Memandang kasih Tuhan sebagai kasih yang bersyarat, lalu menyiksa diri sendiri dengan melakukan banyak hal yang dianggap baik agar “diterima dandiberkati“ oleh Tuhan.

Apa hikmah yang dapat kita petik dari renungan Firman Tuhan hari ini?

1. Kalahkan obsesi untuk selalu tampil sempurna di hadapan manusia. Obsesi = keinginan yang sangat kuat untuk sesuatu yang mendesak seseorang untuk melakukan sesuatu. Saul dikendalikan obsesinya untuk terus berkuasa atas Israel meskipun Tuhan menentukan menantunya yang menjadi raja. Orang yang dikuasai obsesinya akan mencari berbagai macam alasan pembenar untuk tindakannya yang salah, dan bahkan ia merasa diri benar. Sesaat dapat menyadari kesalahan, tetapi ini tidak bertahan lama, obsesi akan kembali menguasainya. Benar salah sudah menjadi sulit ditentukan (1 Samuel 20:30-33, 1 Samuel 24:16-17, 1 Samuel 26:21). Ambil jeda waktu untuk bersaat teduh, menenangkan diri, menyembah dalam nyanyian rohani dan merenungkan Firman Tuhan. Lahirkan keputusan untuk menaati Firman Tuhan (Mazmur 131:1-3, Yakobus 1:21).

2. Pupuk keinginan yang kuat untuk bertumbuh sempurna di hadapan Tuhan. Tuhan menerima kita apa adanya, tetapi tidak membiarkan kita tetap tinggal apa adanya, kemudian Ia membersihkan kita dari noda dosa kita, membentuk karakter kita dan keseluruhan hidup kita (Matius 5:48). Perhatikan Tuhan membentuk karakter Daud seumur hidupnya. Yang terpenting adalah sempurna di mata Tuhan.Komitmen antara Tuhan dan umat-Nya juga digambarkan dalam komitmen antara mempelai laki-laki dan mempelai wanita. Gereja disempurnakan oleh Tuhan untuk pesta perjamuan kawin Anak Domba (Wahyu 19:7-8).

Sampai di mana kedewasaan karakter kita hari ini? Bagaimana dengan keputusan-keputusan yang kita buat? Jika kita sungguh mengerti bahwa kita sangat dikasihi oleh Tuhan dan kita mengasihi Tuhan maka kita akan berusaha untuk memuliakan Tuhan dengan segenap hati kita. Menjadi Mr.& Mrs.Perfect di hadapan Tuhan, bukan manusia! Amin. Tuhan memberkati!

4
Des 2022
Bp. Natanael Sugiarto
27
Nov 2022
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
20
Nov 2022
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
13
Nov 2022
Bp. Bambang Sulistyo