Ringkasan Khotbah

29
Mei 2022
Yohanes 17:20-26
Pdt. Alfred Djama Samani (Sumba)

Kesatuan menjadi tantangan tersendiri bagi eksistensi manusia. Ada peribahasa: “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” yang penerapannya dapat diaplikasikan dalam segala aspek kehidupan. Bagi gereja, kesatuan juga telah menjadi pergumulan sepanjang masa yang baik secara liturgis maupun tradis telah mewarnai kehidupan bergereja. Tantangan ini semakin nampak ketika skisma di awal milenium kedua di mana Katolik Gereja Barat dan Katolik Ortodoks Gereja Timur memutuskan untuk berpisah.

Doa Yesus dalam Yohanes pasal 17 tersebut diucapkan oleh Yesus ketika Ia masih ada bersama dengan murid-murid-Nya, dengan tujuan agar ketika Yesus tidak lagi ada bersama dengan mereka maka murid-murid dapat tetap kuat dan bersatu.

Di dunia ini ada 32.000 ribu denominasi Kristen. Di Indonesia sendiri terdapat tiga ratusan denominasi. Melihat hal ini, apakah kita lantas berpikir bahwa doa Yesus pada waktu itu tidak terkabul? Kehidupan persekutuan terpisah-pisah seolah doa Yesus tidak terjawab. Sebelum kita mengambil kecimpulan lebih lanjut, penting bagi kita untuk memahami esensi dari doa Yesus tersebut. Kesatuan yang dimaksudkan oleh Yesus bukanlah mengenai keseragaman. Bukan mengenai gereja yang harus persis sama satu dengan yang lainnya, bukan merujuk kepada manusianya. Yesus tidak menutup diri terhadap keberagaman namun memberi pijakan dan satu payung yang sama bagi seluruh keberagaman tersebut. Yesus tahu bahwa orang-orang percaya akan beragam daripada murid-murid yang waktu itu kebanyakan berasal dari lingkungan Palestina. Lalu apa pijakan atau payung tersebut? Kita tentu berasal dari tradisi yang berbeda-beda, tapi jangan karena keberagaman itu kita jadi tidak bisa menerima satu dengan yang lain. Satu Tuhan, satu iman, itulah yang menyatukan segala keberagaman kita. Pengakuan terhadap Allah Tritunggal dan seluruh karya-Nya di dunia yang dikasihi-Nya inilah yang menjadi payung dan pijakan bagi kita.

Jika ada gereja yang mengklaim kebenarannya sendiri dan menyalahkan gereja lain yang tidak sama dengan dia maka itulah kekeliruan dalam memahami kesatuan. Kekristenan tidak datang untuk menyeragamkan, namun hadir untuk menjadi satu payung atas itu semua. Mari kita belajar untuk saling memahami sehingga kita bisa menjadi warga jemaat yang dewasa. Dewasa dalam mengenal Tuhan dan dewasa dalam mengenal orang-orang yang beribadah kepada-Nya. Amin. Tuhan memberkati!

26
Jun 2022
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
19
Jun 2022
Bp. Natanael Sugiarto
12
Jun 2022
Bp. Bambang Sulistyo
5
Jun 2022
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.