Ringkasan Khotbah

15
Mei 2022
Lukas 21:34-36
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.

Suatu hari saya membaca berita tentang usaha pemerintah untuk menangani masalah banjir di sebuah kota. Di artikel yang saya baca menyebutkan bahwa pemerintah memastikan aliran selokan hingga sungai berjalan dengan lancar, lalu mereka juga mencari lokasi yang jauh dari laut dan memiliki lapisan tanah tebal untuk membuat area resapan air. Ketika sudah jenuh, tanah tak lagi bisa menyerap air. Dalam kondisi itu, air akan langsung melintasi permukaan tanah tersebut.Ketika membaca artikel tersebut saya teringat hati manusia. Ketika hati sudah jenuh/penuh dengan keduniawian maka hati tidak akan bisa menyerap nilai-nilai hidup yang benar yang diajarkan oleh Firman Tuhan. Ketika hati sarat dengan hal-hal yang salah maka hati manusia berubah menjadi tidak reseptif terhadap kasih dan kebaikan Tuhan!Itulah sebabnya Tuhan Yesus memberi peringatan kepada kita semuanya agar hati kita tidak sarat/jenuh dengan hal-hal yang membuat kita jauh dari tujuan Tuhan atas hidup kita.Apa saja itu? A. Pesta pora - Sebuah gaya hidup bersenang-senang secara berlebihan untuk memuaskan diri. B. Kemabukan- Berbicara tentang apapun yang membuat manusia kehilangan pengendalian diri. Mabuk asmara apakah dapat menyebabkan manusia kehilangan pengendalian diri? C. Kepentingan duniawi- Berbicara tentang terlalu banyak memikirkan kebutuhan hidup. Jangan salah paham, Alkitab mengajar kita bekerja dengan bijaksana agar dapat mencukupi kebutuhan hidup kita dengan baik (2 Tesalonika 3:11-12). Ayat ini bukan berbicara tentang orang yang tidak mampu bekerja karena kondisi kesehatannya atau hal logis yang menghalangi seseorang bekerja. Ayat ini berbicara tentang orang yang menghabiskan waktunya mengejar hal-hal yang tidak berguna sehingga kehabisan waktu untuk bekerja. Orang-orang seperti itu dinasihati agar bekerja dengan giat dan bertanggung jawab atas hidupnya dan masa depannya. Bekerja mempersiapkan masa depan itu perlu, tetapi jangan sampai membuat kita diperbudak kekuatiran akan masa depan, sehingga melupakan kuasa Allah yang sanggup memberkati dan menolong kita. Bekerja dengan bijaksana, luangkan waktu untuk membangun kerohanian, melayani Tuhan dan sesama (Filipi 4:6).Mengapa bersyukur saat berdoa? Ini berarti kita mempercayai bahwa Tuhan memegang kendali atas hidup dan masa depan kita, mempercayai bahwa Tuhan akan memutuskan yang terbaik untuk setiap permohonan yang dinaikkan.

Apa yang terjadi saat hati manusia sarat dengan ketiga hal tersebut?

A. Sulit terhubung dengan Tuhan. Ketiga hal tersebut membuat orang terlena atau teralihkan dari arti keberadaan mereka serta tujuan hidup mereka sebagai ciptaan yang paling mulia namun telah putus hubungan dengan Tuhan, yang hidupnya tanpa disadari sedang meluncur menuju kebinasaan kekal.Tidak memiliki waktu untuk memikirkan kehidupan kekal dan jalan keselamatan.

B. Hidup di luar rencana Tuhan. Tuhan menciptakan manusia bukan hanya untuk hidup bagi dirinya sendiri, tetapi untuk menjadi berkat bagi sesama.Ketika hati sudah sarat dengan pesta pora, kemabukan, dan kepentingan duniawi akankah tersisa ruang dalam hati kita untuk menolong orang lain mengenal kasih dan kebaikan Tuhan? Dapatkah Firman Tuhan masuk dan meresap ke dalam hati dan pikiran seorang manusia yang hatinya penuh dengan ketiga hal itu?Jika hati demikian dikuasai keinginan, kebencian, amarah, nafsu, sakit hati, dendam, apakah masih ada ruang untuk kasih dan kebaikan Tuhan? Beberapa orang salah memahami praktek dari perkataan Tuhan Yesus ini dalam hidup sehari-hari, sehingga kemudian mereka banyak menghabiskan waktu, tenaga, usaha, pergaulan dan lari dari tekanan hidup dengan aktif dalam acara-acara ibadah. Mereka berpikir bahwa dengan terus aktif dalam acara-acara ibadah maka mereka menyenangkan hati Tuhan. Mereka lupa bahwa ibadah yang sesungguhnya bukanlah hanya dalam acara-acara ibadah, tetapi ibadah yang sejati justru berada di dalam keseharian (Roma 12:1-2). Jebakan agamawi: Ketika seseorang demikian aktif dalam acara-acara ataupun ritual ibadah namun hidupnya tidak benar-benar terhubung dengan Kristus, tidak benar-benar menyerahkan diri mengikuti kehendak-Nya, semuanya kegiatan dan ritual itu tidak banyak gunanya. Bukannya dilepaskan dari keinginan duniawi dan beroleh kedamaian hati, orang yang terjebak menjadi agamawi hanya akan membanggakan kesalehan semu belaka padahal hati mereka tidak pernah berubah dan bahkan bertambah jahat oleh karena kesombongan dan pembenaran diri. Menjadi sombong rohani! Ini jelas merupakan kehidupan yang melenceng jauh dari rencana Tuhan. Hati Saul tidak reseptif terhadap kasih dankebaikan Tuhan karena terlalu sarat dengan keduniawian. Yang ia pedulikan hanyalah muka”nya (1 Samuel 15:24, 30).

Bagaimana mempersiapkan hati kita agar selalu reseptif terhadap kasih dan kebaikan Tuhan ?

1. Jaga hati dengan sebaik-baiknya. Hati-hati dengan apa yang kita dengarkan dan siapa yang kita dengarkan.Perhatikanlah kepada apa dan siapa kita bergaul erat (1 Raja-raja 12:8-11). Miliki waktu untuk mengevaluasi keadaan diri kita (Mazmur 139:23-24, Amsal 4:23).

2. Andalkan Tuhan dalam doa. Apa yang dilakukan para pahlawan iman dalam sejarah Alkitab untuk menjaga hati mereka? Mereka semua berdoa (Mazmur 51:10). Kita tidak dapat hidup mengandalkan kekuatan, keahlian atau pengalaman hidup kita sendiri. Kita perlu belajar untuk sepenuhnya mengandalkan Tuhan. Bagaimana caranya? Sederhana, mulailah membangun mezbah doa dengan rutin. Rendahkan hati, akui bahwa kita tidak bisa menjalani semuanya tanpa Tuhan. Undanglah Tuhan ke dalam hati kita untuk bertahta atas hidup kita dan menuntun seluruh hidup kita. Amin. Tuhan memberkati!

26
Jun 2022
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
19
Jun 2022
Bp. Natanael Sugiarto
12
Jun 2022
Bp. Bambang Sulistyo
5
Jun 2022
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.