Ringkasan Khotbah

1
Mei 2022
Filipi 4:6-7
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.

Untuk mencapai keberhasilan berdiri di panggung Isthmia, seorang atlet perlu mempersiapkan dirinya dengan sungguh-sungguh. Mempersiapkan hati dan pikiran tentu saja adalah hal yang tidak boleh dilupakan. Di dalam perlombaan ataupun peperangan, persiapan yang dilakukan tentu saja bukan hanya persiapan fisik dan perbekalan saja, hati dan pikiran harus dipersiapkan sebaik-baiknya. Banyak orang gagal dalam perlombaan atau peperangan karena hati dan pikirannya tidak siap menghadapi kenyataan.Di tengah medan perjuangan keadaan bisa kacau dan menakutkan, ini tidak selalu bisa dikendalikan dengan mudah sesuai keinginan kita. Tetapi yang lebih berat jika yang kacau adalah hati dan pikiran. Ketika hati dan pikiran kacau maka keadaan amanpun menjadi terasa berbahaya dan menekan.Kita tidak selalu dapat mengendalikan tantangan yang datang dari luar diri kita, tetapi kita memiliki kuasa untuk mengendalikan apa yang ada di dalam hati dan pikiran kita.Pertama kali yang harus dikendalikan adalah hati dan pikiran kita.

Kisah jemaat di Filipi, mereka menghadapi banyak masalah seperti penganiayaan, perpecahan, ajaran palsu, masalah-masalah pribadi mereka, dll. Kekuatiran menyerang mereka sehingga mengganggu kedamaian hati dan pikiran. Saat seseorang dikuasai kekuatiran maka ia tidak akan dapat berpikir dengan jernih. Keadaan yang mereka hadapi ternyata mengacaukan hati dan pikiran mereka dan itu mengganggu jalan pelayanan.Memang kekuatiran adalah hal yang banyak terjadi dalam hidup manusia, tetapi dalam kehidupan orang percaya sebenarnya kekuatiran tidak boleh dibiarkan terus menguasai diri sebab kekuatiran adalah salah satu bentuk penjajahan iblis. Kekuatiran membuat orang larut dalam kesedihan, murung dan sukacita serta damai sejahtera menjadi terganggu. Ketika kita membiarkan diri dikuasai kekuatiran sebenarnya kita sedang meragukan kuasa Tuhan, dan meragukan kuasa Tuhan berarti kita sedang mengandalkan kekuatan kita sendiri. Kekuatiran adalah salah satu bentuk serangan kuasa iblis. Ketika serangan kekuatiran datang kita harus bertindak dan melawannya dengan mempercayai Firman Tuhan. Itulah sebabnya Paulus menasihati mereka untuk mempersiapkan hati dan pikiran mereka.

Bagaimana caranya?

1. Membangun ketergantungan kepada Allah di dalam doa. Kekuatiran dan doa saling bertentangan. Banyak berdoa menolong kita mengalahkan kekuatiran, sebaliknya jarang atau tidak pernah berdoa membuat kita semakin mudah dijajah kekuatiran. Salah satu indikator yang menunjukkan seberapa besar ketergantungan kita kepada Allah dapat ditunjukkan dari seberapa banyak waktu yang kita gunakan untuk berdoa. Musa:Keluaran 33:15Daud: 2 Samuel 22:7. Saat Daud lengah dalam keadaan aman dan baik-baik saja ia jatuh dalam dosa kesombongan dan nafsu. Saat menghadapi pergumulan berdoa, saat semuanya baik-baik saja harus tetap berdoa agar tidak lengah terhadap godaan dosa. Justru pada saat semua berjalan dengan baik-baik saja kita harus semakin banyak berdoa agar tidak melupakan Tuhan.Jemaat Sardis :(Kisah sejarah kota Sardis - tidak memperbaiki kelemahan yang ada, membuatkan satu pintu kecil sebagai jalan masuk kota tidak dijaga - dihancurkan dua kali dengan strategi yang sama). Dalam keadaan enak dan tanpa masalah, seharusnya kita memperkuat diri dengan doa dan belajar Firman Tuhan.Sedia payung sebelum hujan, titik lemah kita harus dijaga sebaik-baiknya. Kita memiliki sangat banyak kesempatan untuk memperlengkapidiri, pergunakanlah sebaik-baiknya.Banyak gereja di berbagai belahan dunia dianiaya, sulit beribadah bersama seperti ini, kita yang bebas beribadah harusnya lebih komitmen (Wahyu 3:2-3). Doa harus dimulai dari kita, yang adalah para pemimpin gereja Tuhan, baru ini akan menggerakkan jemaat Tuhan. Jadilah pemimpin yang memberi teladan dalam kebergantungan kepada Tuhan.

2. Mempercayakan diri kepada Tuhan. Jangan penuhi doa-doa kita dengan keluhan dan sungut-sungut, tetapi penuhilah doa-doa kita dengan ucapan syukur.Bersyukur dilakukan sebelum kita mendapat jawaban doa kita, sebab kita mempercayakan diri pada Tuhan yang jauh lebih tahu tentang apa yang baik bagi kita. Saat kita mengucap syukur di tengah permohonan kita artinya kita sedang mempercayakan diri kepada Tuhan.Jangan mempercayakan diri pada hal-hal yang sia-sia (Amsal 11:28). Yeremia terancam di Anatot, tetapi ia mempercayakan dirinya kepada Tuhan (Yeremia 11:20). Tuhan Yesus memberi teladan mempercayakan diri sepenuhnya kepada Bapa dalam rencana penebusan (Lukas 23:46). Hasil nya: Damai sejahtera yang melampaui segala akal manusia memelihara hati dan pikiran kita. Ketika hati dan pikiran siap maka kita dapat melakukan persiapan dalam hal-hal lain dan berlaga di medan perjuangan kehidupan dengan keberhasilan. Amin. Tuhan memberkati!

26
Jun 2022
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
19
Jun 2022
Bp. Natanael Sugiarto
12
Jun 2022
Bp. Bambang Sulistyo
5
Jun 2022
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.