Ringkasan Khotbah

24
Apr 2022
1 Samuel 25:36-38
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.

Daud adalah seorang panglima perang di Israel yang berjasa besar bagi negara dan rakyat. Seluruh Israel mengetahui hal ini. Bahkan orang-orang Filistinpun mengetahui hal ini (1 Samuel 21:11). Jadi seluruh rakyat Israel sebenarnya berhutang budi dan berhutang nyawa kepada Daud (1 Samuel 19:5). Daud diurapi oleh Tuhan menjadi raja atas seluruh Israel menggantikan Saul. Jadi sebenarnya ketika Nabal menghina Daud, ia sedang menghina Raja Israel, menghina hamba Tuhan yang diurapi. Saul tidak mau menerima kenyataan bahwa Tuhan memilih Daud menjadi raja menggantikan dirinya, maka ia terus memfitnah Daud dan berusaha membunuhnya meskipun Daud adalah menantunya sendiri. Saul terus berusaha menggagalkan rencana Tuhan. Daud melarikan diri dari Saul, hingga suatu saat ia sampai ke Maon, daerah tempat tinggal Nabal. Ia melindungi Nabal, keluarganya, harta miliknya dan juga seluruh pegawainya. Saat musim pengguntingan bulu domba tiba menurut adat mereka akan bersukaria dan berpesta bersama, membagi makanan kepada orang-orang yang ada di sekitar mereka dan menyambut tamu yang datang. Menurut tradisi, masa mencukur bulu domba adalah masa 'ceria menyambut tamu'. Pada hari itu Daud mengirimkan orang-orangnya ke rumah Nabal. Tidak usahlah Nabal mengantarkan makanan, tetapi Daud mengirimkan anak buahnya kepada Nabal agar tidak repot. Daud bukan sedang mengemis, ingat ini adalah hari raya. Jadi justru kedatangan anak buah Daud adalah sebagai bentuk hormat kepada Nabal dan keluarganya. Makanan yang dibagikan hanyalah adat istiadat saja. Mazmur 37:25- Tetapi Nabal menghina dan memaki-maki orang-orang Daud, dan tentu saja Daud. Dalam bahasa aslinya memaki” ini dilakukan dengan berteriak-teriak dengan keras dan sangat kasar. Daud yang tersinggung dalam perjalanan menuntut balas untuk menghancurkan Nabal dan seisi rumahnya, tetapi Abigail, isteri Nabal, menyelamatkan suaminya dan mengingatkan Daud agar tidak berbuat dosa.Ia memohonkan maaf atas kesalahan suaminya kepada Daud. Abigail menunggu saat yang tepat untuk memberitahu Nabal.Tetapi Nabal tetap tidak mau berubah. Bukannya bersyukur karena isterinya menyelamatkannya, ia malah sangat marah dan kekerasan hatinya membuatnya membatu”! Artinya watak buruknya meledak! Ia tidak bisa melihat bahwa Tuhan memberinya kesempatan untuk berubah melalui isterinya. Nyawanya terselamatkan oleh tindakan isterinya. Persis seperti namanya Nabal, yang artinya bodoh (SENSELESS), ia tidak bisa merasa/melihat bahwa sebenarnya ia memperoleh kesempatan untuk berubah tetapi menyia-nyiakan kesempatan itu.Ia tetap menolak mengakui kesalahannya, selama 10 hari ia terus membiarkan amarahnya meledak dengan keras dalam kebencian dan rasa tidak terima dengan keputusan isterinya, ia tidak mau bertobat, sehingga akhirnya Tuhan menghukumnya.Ia menerima hukuman Tuhan secara langsung karena menghina hamba Tuhan yang diurapi, tanpa mau bertobat meskipun diberi kesempatan.

Apa hikmah yang dapat dipetik dari kisah ini?

1. Pandanglah kesempatan sebagai berkat yang berharga. Kesempatan adalah waktu yang dapat kita pergunakan untuk melakukan hal yang bermanfaat baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Nabal tidak bisa merasa bahwa jika ia bisa hidup dengan aman, memiliki banyak kekayaan, menikmati kebebasan semua itu adalah berkat yang berharga yang ia terima karena pengorbanan Daud yang mengalahkan orang Filistin dalam berbagai pertempuran yang ia hadapi. Nabal tidak bisa merasa bahwa kesempatan yang ia terima ketika isterinya menyelamatkan nyawanya adalah sebuah berkat yang berharga, maka ia membuang kesempatan itu.Mengapa ia menjadi SENSELESS? Ia terlalu peduli pada dirinya sendiri, pemikirannya sendiri, perasaannya sendiri, dan tidak memedulikan orang lain. Petrus melihat kesempatan yang Tuhan berikan untuk menepati janjinya kepada Tuhan sebagai berkat yang sangat berharga. Mendengar kata-kata yang Tuhan ucapkan Petrus dapat mengerti dan merasa bahwa Tuhan memberinya kesempatan untuk berubah (Matius 26:33-35, Matius 26:74-75, Yohanes 21:17-19). Dapatkah Anda mengerti dan merasakan bahwa Tuhan memberi Anda kesempatan di dalam berbagai hal? Contoh: Memelihara pola makan yang tidak sehat tetapi tidak mengalami masalah kesehatan. Orang bebal (SENSELESS) akan berpikir bahwa ia kebal terhadap berbagai masalah kesehatan yang timbul karena makanan, orang yang bijak akan berpikir bahwa ia mendapat kesempatan untuk merubah gaya hidup (2 Petrus 3:14-15).

2. Pergunakan kesempatan yang diberikan Tuhan dengan sebaik-baiknya. Ada banyak kesempatan untuk berubah, lalu kesempatan untuk mengasihi, melayani, dan berinteraksi dengan orang-orang di sekitar kita setiap hari untuk memberkati mereka. Namun, apakah Anda dapat menyadari momen-momen itu? Apakah Anda menggunakan kesempatan yang ada untuk menguatkan orang lain dalam interaksi sehari-hari yang kelihatannya remeh? Allah sanggup bekerja dalam hidup setiap orang yang berhubungan dengan Anda, mulai dari keluarga, rekan-rekan kerja dan siapapun juga. Jadilah berkat bagi mereka sebab hidup bukan hanya untuk diri sendiri saja. Mari kita bersyukur atas kesempatan yang Tuhan berikan untuk berubah. Jangan sia-siakan kesempatan seperti Nabal. Iman = Mempercayai Firman Tuhan + Melakukan Firman Tuhan itu. Semua tokoh Alkitab yang beriman kepada Tuhan melakukan apa yang mereka yakini sebagai sebuah kebenaran.Contoh: Nuh mempercayai Firman/perintah Tuhan maka ia membangun bahtera. Ia tidak berbuat seperti manusia kebanyakan pada jaman itu yang menyia-nyiakan kesempatan selama 120 tahun (Kejadian 6:3). Abraham mempercayai janji Tuhan maka ia melangkah keluar dari Ur Kasdim dan berjalan bersama Tuhan. Meskipun ia mengalami banyak kegagalan dalam hidupnya, ia terus berubah sesuai kehendak Tuhan. Yusuf mempercayai janji Tuhan maka ia memerintahkan agar 400 tahun setelah kematiannya, tulangnya dibawa keluar dari Mesir (Kejadian 50:24-25). Jadi inilah maksudnya iman harus disertai dengan perbuatan. Kalau kita percaya bahwa Firman Tuhan itu benar maka harus diwujudkan dalam hidup sehari-hari (Yakobus 2:17). Amin. Tuhan memberkati!

26
Jun 2022
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
19
Jun 2022
Bp. Natanael Sugiarto
12
Jun 2022
Bp. Bambang Sulistyo
5
Jun 2022
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.