Ringkasan Khotbah

16
Jan 2022
Matius 16:21-27
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.

Tuhan Yesus menyatakan kepada para murid-Nya bahwa tugas penebusan semakin dekat pada penggenapannya. Untuk itu Tuhan Yesus harus menghadapi banyak penderitaan dari pihak tua-tua Yahudi, imam-imam kepala dan para ahli Taurat. Bahkan Tuhan Yesus akan dibunuh mereka, tetapi akan dibangkitkan Bapa pada hari ketiga. Kematian dan kebangkitan Kristus akan menghancurkan setan untuk selama-lamanya (Kejadian 3:15). Mendengar penjelasan tersebut reaksi Petrus sebagai manusia biasa yang memiliki naluri peduli dan mengasihi Tuhan Yesus pun terlihat, ia langsung menarik Tuhan Yesus dan ia menegur-Nya. Tentu sebagai murid yang mengasihi Tuhan Yesus, inisiatif yang ia lakukan tersebut karena ia tidak mau Tuhan Yesus mengalami penderitaan berat seperti yang diceritakan oleh-Nya. Tetapi respons Tuhan Yesus begitu tegas dan mungkin mengagetkan Petrus, "Enyahlah Iblis". Kelihatannya perkataan Tuhan Yesus ini begitu kasar dan keras, seolah-olah Petrus adalah Iblis. Benarkah demikian? Bukankah sebelumnya Petrus membuat pengakuan yang spektakuler bahwa Tuhan Yesus adalah Mesias?
Meskipun Petrus belum lama mengakui Tuhan Yesus adalah Mesias, Anak Bapa yang hidup (Mat16:15-17), tetapi ia juga adalah manusia terbatas yang belum mengerti rencana Tuhan dan maksud kedatangan Tuhan Yesus ke dalam dunia. Reaksi wajar Petrus sebagai manusia yang berempati dan tidak menghendaki Tuhan Yesus menderita, sontak membuatnya bertindak ingin menghalangi penderitaan tersebut dengan menegur Tuhan Yesus, "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau." Perkataan Tuhan Yesus "enyahlah Iblis" bukan karena Petrus adalah Iblis, tetapi pikiran dan tindakannya yang tidak selaras dengan pikiran Tuhan Yesus. Meski bertindak berdasarkan empati atau kepeduliannya kepada Tuhan Yesus, jelas tindakannya tersebut adalah menentang rencana Bapa. Dari manakah pikiran Petrus tersebut sehingga ia bersikap demikian? Tentu karena adanya pendekatan Iblis yang terselubung kepada Petrus, yakni melalui pikirannya. Karena itu, Tuhan Yesus dengan tegas menegur sumber perkataan itu. Reaksi Tuhan Yesus yang keras tersebut karena Ia mengetahui bahwa Iblis memakai Petrus sebagai alatnya dan menempatkannya sebagai penggoda atau penghalang untuk Ia melakukan rencana-Nya. Tujuannya jelas, yakni mengalihkan perhatian Tuhan Yesus supaya "memperoleh mahkota" tanpa melalui jalan salib.Untuk menyelesaikan misi apapun, semua orang harus fokus pada misi tersebut. Ia tidak boleh terkacaukan dengan halangan/distraction yang ada di tengah perjalanan. Distractionberasal dari bahasa Latin distractus” yang berarti:menarik ke arah yang lain. Terjemahan dalam bahasa Indonesia adalah gangguan”, tetapi makna lengkapnya kurang lebih adalah apapun yang menarik kita ke arah yang lain sehingga tidak berhasil mencapai tujuan/menyimpang dari arah yang sebenarnya. Untuk dapat melakukan fungsi sebagai pemimpin umat Tuhan, seorang raja Israel terikat pada aturan Tuhan: Ulangan 17:16-17. Raja Israel tidak boleh mengandalkan/memusatkan perhatian kepada kekuatan militer, kekuatan ekonomi, dan mengejar nafsu agar ia dapat memusatkan perhatiannya memimpin umat Tuhan hidup benar dan mengandalkan Tuhan. Tuhan Yesus mengajar para murid-Nya untuk benar-benar mengalahkan aneka macam distraction agar dapat menyelesaikan misi dengan sukses. Ada berbagai macam distraction: A. Dari luar diri kita: 1. Apa yang kita lihat dan apa yang kita dengar dapat mengganggu dan membuat kita menyimpang.Ketika kita perlu konsentrasi belajar atau bekerja, suara berisik dari lingkungan sekitar kita, lalu apapun yang terlihat menarik bisa saja mengacaukan konsentrasi kita. Contoh: Daud (2 Samuel 11:1-2). Apa yang orang lain katakan bisa saja mengganggu fokus kita. Contoh: Saul tidak bisa fokus memperbaiki dirinya untuk hidup dalam jalan Tuhan karena ia terlalu memperhatikan apa yang orang lain katakan (1 Samuel 18:6-9). 2. Bisikan setan (Kejadian 3:4-5,Yohanes 13:27). Contoh: Yudas kerasukan (dikendalikan) setan karena ia memilih untuk terus menuruti tipuan setan.

B. Dari dalam diri kita sendiri: 1. Keinginan (1 Yohanes 2:16). Nafsu yang tidak dikendalikan dapat menghancurkan kita dalam segala hal kapan saja. Cinta juga bisa menjatuhkan seseorang. Ingat Salomo jatuh karena mencintai banyak perempuan yang tidak hidup dalam jalan Tuhan. Banyak orang jatuh karena cinta terlarang. 2. Kekuatiran (Matius 13:22). Memperhatikan citra diri untuk menjadi orang yang benar itu perlu, tetapi terlalukuatir tentang citra diri di pandangan orang lain sangat berbahaya. Ini dapat membuat orang mengambil keputusan yang salah. 3. Sakit hati dankekecewaan. 4. Emosi. Orang yang dikuasai kemarahan bisa melakukan hal-hal yang sangat merusak. Ia akan lupa mana yang harus ia utamakan. 5. Dll.

Bagaimanamengalahkangangguan/distraction?

1. Membangun pikiran yang selaras dengan Firman Tuhan (Matius 13:44). Apa yang kita anggap berharga?Contoh: Meminta maaf dan mengakui kesalahan akan membuat Anda tampak lemah/hebat? Amsal 28:13. Ngotot membenarkan diri ketika berbuat salah menghasilkan hormat/celaan? Dapatkah Anda memandang prinsip Firman Tuhan sebagai harta yang berharga? Apakah Anda menggalinya dengan sungguh-sungguh? Membangun pikiran yang selaras dengan Firman Tuhan tentu saja memerlukan waktu dan usaha yang cukup. Meruntuhkan bangunanpemikiran lama yang salah, dan membangun kembali pola pikir yang Alkitabiah. Dengan siapa Anda bergaul erat? Teman dekat Anda pasti akan mempengaruhi pemikiran Anda, dan mengubahmu semakin mirip dengannya (1 Korintus 15:33). Buku apa yang Anda baca? Nasihat siapa yang Anda dengar? Yang menyenangkan hati dan telinga? 2 Timotius 4:3-4Khotbah yang menyenangkan telinga belum tentu benar.

2. Mendisiplin diri demi hidup selaras dengan Firman Tuhan. Menyangkal diri: Tidak menuruti keinginan, perasaan, dan nafsu yang tidak benar.Memikul salib: Lebih baik menderita karena mengendalikan diri daripada menderita karena menuai akibat dosa menuruti keinginan, perasaan, dan nafsu. Mengikut Aku: Menerapkan Firman Tuhan dalam keseharian. Intinya kita harus belajar mengendalikan diri kita (Amsal 25:28). Kota yang roboh temboknya mudah diserang dari mana saja.Ingin membangun hidup bahagia? Berhasil dalam karir dan rumah tangga? Kita harus menjaga fokus. Jangan sampai berbelok dari tujuan ini. Amin. Tuhan memberkati!

8
Mei 2022
Bp. Bambang Sulistyo
1
Mei 2022
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
24
Apr 2022
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
17
Apr 2022
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.