Ringkasan Khotbah

2
Jan 2022
Yesaya 40:27-31
Bp. Bambang Sulistyo

Kita yang sudah menikah dan memiliki anak, kehidupannya mengalami sesuatu yang berbeda, kita rindu agar anak kita bertumbuh dengan baik, kita mengasihi anak kita dan bekerja keras untuk kebahagiaannya. Dengan segala yang mampu dilakukan secara maksimal, sebagai orang tua, kita pun menyadari bahwa kita adalah manusia biasa yang juga punya kelemahan. Hal inilah yang kita alami dalam posisi sebagai orang tua. Dalam hubungan kita dengan Allah, kita berada dalam posisi sebagai seorang anak. Kita kadang-kadang nakal dan tidak taat dengan firman, kita sadar lalu bertobat dan kadang mengulanginya lagi. Kalau kita sebagai orang tua memandang anak kita yang berperilaku demikian dan kita tetap mengasihi dia meski kadang harus memukul, kira-kira bagaimana Allah memandang kita sebagai anak yang kadang nakal dan kadang baik kepada Dia? Dalam Keluaran 4:22, Allah ingin menunjukkan kepada firaun bahwa Israel adalah anak Allah. Dalam Yohanes 1:12, cakupan anak Allah bukan lagi hanya terbatas pada sebuah bangsa, tapi pada seluruh manusia di dunia yang percaya kepada-Nya. Allah telah menjadikan kita sebagai anak-Nya, maka sebagaimana kita mengasihi anak kita maka Allah pun terlebih mengasihi kita sebagai anak-Nya. Allah memperlakukan kita seringkali tidak enak secara daging dan perasaan, tapi Ia selalu mengasihi kita. Biasanya ada 2 jenis respon ketika orang meminta pertolongan Tuhan namun seakan-akan Tuhan belum merespon, yaitu: 1. Mengandalkan kekuatan pribadi, akibatnya ia akan terjatuh (Yes. 40:30). 2. Menanti-nantikan Tuhan, akibatnya ia akan mendapatkan kekuatan baru seperti rajawali yang sedang terbang (Yes. 40:31).

Bagaimana cara Allah menjadikan anak-Nya kuat seperti rajawali?

1. Lahir di keluarga rajawali (Kel. 19:4). Kalau kita ingin terbang seperti rajawali, kita harus lahir di keluarga rajawali. Burung kutilang dan burung-burung lainnya tidak bisa terbang seperti burung rajawali. Kita lahir baru di dalam Tuhan akan mengalami pendewasaan dari Tuhan. Kita bukan terus tinggal menjadi bayi, tapi kita harus terus bertumbuh besar dan kuat.

2. Allah latih kita terbang (Ul. 32:11-12). Saat Allah mengizinkan goncangan dan permasalahan datang dalam hidup kita, kita harus sadar bahwa Allah sedang melatih kita terbang. Jangan sungut-sungut dan keluhan yang keluar dari mulut kita, tapi biarlah ucapan syukur kepada Allah yang sedang melatih dan menyertai kita agar kita menjadi kuat dan dewasa.Orang yang menantikan Tuhan, yang dilatih terbang oleh Tuhan, ia sadar persis bahwa tantangan ada namun ia juga sadar bahwa ia akan meraih kemenangan bersama Tuhan (Rat. 3:25-26, Maz. 37:34).

Ketika kita menjadi orang yang menantikan Tuhan maka saat semakin besar badai, semakin kita tenang mengatasinya karena kita bertambah dewasa seperti rajawali yang bisa terbang. Amin. Tuhan memberkati!

26
Jun 2022
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
19
Jun 2022
Bp. Natanael Sugiarto
12
Jun 2022
Bp. Bambang Sulistyo
5
Jun 2022
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.