Ringkasan Khotbah

5
Des 2021
Matius 10:16
Bp. Bambang Sulistyo

Sebelum Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, mereka punya pikiran yang murni dan baik, tidak pernah punya pikiran jahat. Jika saat ini kita mencoba memahami situasi alam berpikir Adam dan Hawa sebelum jatuh dalam dosa, maka kita akan mengalami kesulitan dan tidak akan bisa mengerti sepenuhnya. Mengapa? Sebab Adam dan Hawa sudah jatuh ke dalam dosa dan kita adalah manusia yang lahir mewarisi dampak dosa yang diakibatkan oleh Adam dan Hawa pada waktu itu. Karena Adam dan Hawa memakan buah dari pohon pengetahuan, mereka menjadi tahu tentang yang baik dan yang buruk, maka sejak saat itulah manusia mengenal adanya ketegangan hidup di dalam dirinya. Ketegangan-ketegangan yang ada mewarnai dalam hidup manusia saat mereka mengalami masalah dan pergumulan. Seringkali masalah yang dihadapi tidak terlalu besar, namun karena kurang dalam mengelola hati dan perasaan maka akhirnya dikuasai perasaan seperti rasa marah, kecewa, tidak terima, dll. yang mengakibatkan masalah seakan-akan menjadi besar dan terjadilah ketegangan. Sebenarnya ketegangan yang ada tidak selalumembawa kita menjadi terpuruk, tapi ketegangan juga bisa membuat kita menjadi lebih bijaksana. Hidup kita tidak bisa lepas dari ketegangan-ketegangan, tapi Yesus mengajarkan bahwa kita bisa belajar agar ketegangan membuat kita menjadi bijaksana. Bagaimana caranya? Dalam Matius 10:16, Kita seperti domba yang diutus di tengah kawanan serigala dan Tuhan mengajarkan kita agar menjadi cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Cerdik berarti kita harus bijaksana dan berpikir sehat, sedangkan tulus berari kita harus punya pikiran yang murni dan tidak bercampur. Mengelola pikiran dan perasaan kita menjadi penting saat kita diperhadapkan dengan tantangan-tantangan yang ada. Saat kita berfokus pada besarnya masalah, maka ketegangan yang ada dapat membuat kita terpuruk, tapi saat kita berfokus pada bagaimana Tuhan ada bersama dengan kita, maka kita dapat lebih bijaksana dan kuat. Ketulusan menjaga hati kita agar kita tidak dihantui oleh perasaan bersalah ataupun jengkel yang tertinggal meskipun masalahnya sudah selesai.

Bagaimana cara hidup jemaat mula-mula sehingga ketegangan dapat dikelola sedemikian rupa sampai akhirnya berdampak menjangkau jiwa-jiwa? Kisah 2:42-47.

1. Tekun dalam pengajaran dan persekutuan.Tekun adalah sebuah karakter yang terjadi karena telah mengalami banyak tekanan. Ketekunan dalam mendengar dan mempelajari firman Allah menjadi modal bagi kita untuk mengatasi ketegangan.

2. Memiliki kesatuan.Kesatuan tidak berbicara tentang kesamaan dalam berbagai hal. Kesamaan memang akan mendatangkan kemudahan dan damai. Namun dengan adanya perbedaan, bukan tidak mungkin kita juga dapat merasa damai, karena itulah Yesus mengajarkan kita agar menjadi satu artinya yaitu rukun. Jemaat mula-mula itu berbeda-beda namun mereka bisa sehati dan rukun, dan itulah yang menarik hati jiwa-jiwa yang belum mengenal Tuhan. Janganlah kita berfokus pada perbedaan yang ada tetapo marilah kita menjadi rukun.

3. Rajin beribadah.Kita datang beribadah bukan hanya untuk menerima informasi tapi kita beribadah agar hidup kita mengalami transformasi: perubahan hidup. Perubahan hidup inilah yang akan orang-orang lihat dalam hidup kita.

Tuhan menyertai kita, kiranya ketegangan yang kita alami tidak membuat kita jatuh terpuruk, tapi dapat membuat kita menjadi bijaksana dan memenangkan jiwa-jiwa bagi Tuhan. Amin. Tuhan memberkati!

23
Jan 2022
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
16
Jan 2022
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
9
Jan 2022
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
2
Jan 2022
Bp. Bambang Sulistyo