Ringkasan Khotbah

10
Okt 2021
Yakobus 1:22-25
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
Bercermin merupakan sebuah aktivitas yang sering dilakukan oleh manusia secara umum sejak ribuan tahun yang lalu. Cermin itu jujur. Ia akan menunjukkan keadaan kita yang sesungguhnya! Ketika bercermin, seseorang berharap untuk melihat bahwa ia memiliki penampilan yang menawan, tetapi apa yang dilihatnya juga bisa menunjukkan bahwa ia memiliki berbagai kekurangan. Untuk memperbaiki kekurangan yang terlihat, tentu saja ia harus melakukan beberapa perbaikan, seperti memastikan kerapian pakaian, merapikan rambut, make up wajah, dan lain sebagainya. Ketika penampilan dirasa sudah cukup pas, maka barulah meninggalkan cermin di depannya.
 
Seberapa sering kita bercermin? Ada orang yang sekedar bercermin lalu segera pergi dan sudah tidak memikirkan lagi bagaimana penampilannya tadi. Lalu apa gunanya bercermin jika tidak melakukan tindakan perbaikan yang diperlukan? Firman Tuhan adalah cermin kehidupan. Menunjukkan kepada kita keadaan diri kita yang sebenarnya. Apa yang kurang baik bisa diperbaiki dengan mendisiplin diri dan dengan pertolongan Tuhan. Saat kita mendengar Firman Tuhan, kita bisa melihat bagian hidup kita yang tidak bisa dilihat oleh mata kita sendiri atau mata orang lain. Di sinilah kita perlu mengadakan perbaikan yang perlu dilakukan. Firman menunjukkan hal-hal apa saja yang tidak berkenan di hati Tuhan dan kebiasaan dosa apa yang masih melekat dalam hidup kita. Jika kita tidak bercermin dengan benar, kita bisa jatuh dalam rasa puas yang keliru. Merasa puas dengan penampilan atau keadaan diri kita yang sebenarnya masih berantakan dan belum benar-benar diperbaiki. Setiap kali kita mengikuti ibadah raya hari minggu, lalu kita pulang, masihkah kita ingat bahwa kita memiliki tugas untuk dilakukan? Adakah noda dosa yang harus kita bersihkan? Kita perlu mengadakan perbaikan diri sesuai dengan Firman Tuhan. Jika kita tidak melakukan tugas tersebut, apakah proses bercermin itu sudah lengkap? Saat kita mendengar Firman Tuhan dalam acara ibadah raya dan kemudian kita pulang, bagaimana kehidupan kita setelah itu? Apakah kita berusaha untuk memperbaiki diri kita sesuai dengan apa yang Firman Tuhan ajarkan? How is your life AFTER THE SERVICE? Bagaimana kehidupanmu setelah pulang dari kebaktian? Jika kita tidak melakukan perbaikan yang harus kita lakukan maka kita tidak bisa memetik keuntungan maksimal dari Firman Tuhan yang diberitakan. Kita bisa dengan mudah melupakan berkat perubahan hidup yang seharusnya kita alami (Matius 13:19).
 
Apa hikmah yang dapat kita pelajari dari Firman Tuhan hari ini?
1. Setelah kebaktian, saatnya menguji diri. Kebaktian bukanlah sebuah formalitas. Beberapa orang menyangka bahwa dengan duduk di dalam ruangan gereja atau mengikuti acara ibadah maka ia sudah melakukan yang benar (Amsal 16:2). Orang yang rohani itu yang bagaimana? Tahu banyak tentang Firman Tuhan? Memakai pakaian dan atribut agama? Berbicara dengan lemah lembut dan menggunakan bahasa-bahasa Alkitab? Namun bagaimana jika ternyata di samping semuanya itu menipu orang? Mencuri/ merampas hak milik orang lain? Inikah definisi rohani? Lalu bagaimana dengan orang yang: Tahu sedikit Firman Tuhan tetapi benar-benar melakukannya dengan sungguh- sungguh? Memakai pakaian seperti masyarakat pada umumnya? Berbicara seperti masyarakat pada umumnya? Markus 12:38-40. Ketika   kita bercermin kepada kebenaran diri sendiri, kita sangka hidup kita telah bersih. Padahal sama sekali tidak bersih. Kita membutuhkan cermin yang sesungguhnya. Dan Yang pasti cermin itu bukanlah kebenaran diri sendiri. Cermin itu adalah firman Tuhan! Apakah melakukan ritual/ upacara ibadah menyucikan diri kita dan membuat kita menjadi orang yang hidup benar? Lukas 18:9-14. Buka hati untuk Tuhan (Ibrani 4:12-13)
 
2. Setelah kebaktian, saatnya mengingat dan berlatih melakukan Firman Tuhan. Firman Tuhan jangan dilupakan, harus kita ingat. Manusia mudah lupa, itulah Mazmur 119:166-168. Berlatih itu kadang berhasil kadang gagal. Tetapi jangan berhenti. Practice makes perfect. Saya sering gagal melakukan hal-hal yang saya tahu itu adalah hal yang benar. Ketika gagal jadi ingat lagi, lalu kembali memperbaiki diri. Manusia adalah gudangnya kesalahan! Daud berulang kali berbuat salah, tetapi ia memperbaikinya (1 Tawarikh 15:2, 1 Korintus 9:27).
Amin. Tuhan memberkati!
21
Nov 2021
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
14
Nov 2021
Bp. Bambang Sulistyo
7
Nov 2021
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
31
Okt 2021
Bp. Natanael Sugiarto