Ringkasan Khotbah

3
Okt 2021
Matius 20:20-28
Bp. Bambang Sulistyo

Kita semua paham dan sadar bahwa hal-hal yang kita miliki di bumi ini membuat kita senang dan bangga dan bahkan membuat kita mau mengejar untuk memiliki hal tersebut, entah itu barang, harta, jabatan ataupun posisi dan status sosial. Pada waktu kita memperoleh sesuatu yang kita kejar dan banggakan tadi, itu semua sifatnya hanya sementara, selama kita ada di dunia saja. Kalau yang bersifat sementara saja kita kejar dan banggakan, tentu lebih lagi dengan upah yang bersifat kekal yang Tuhan sediakan bagi kita. Allah menyediakan upah di Sorga bagi kita, karena itu Yesus memberi teladan pada kita bagaimana untuk hidup di bumi agar pada saatnya kita dapat memperoleh upah yang telah dijanjikan Allah kepada kita di Sorga nanti. Sebagai orang percaya, seharusnya upah kekal itulah yang menjadi fokus prioritas bagi kita untuk kita kejar, tanpa merendahkan apa yang dapat kita usahakan dan capai di bumi.

Teladan apa yang Yesus berikan bagi kita? Matius 20:28. Yesus disebut sebagai Anak Manusia, secara teologis menunjukkan bahwa Allah menjadi manusia, namanya Yesus. Mengapa Allah menjadi manusia? Apakah harus? Apakah perlu? Namun sejarah menunjukkan bahwa Allah telah memilih menjadi manusia. Pada waktu Yesus di bumi, Ia melakukan banyak mujizat dan perbuatan baik, meskipun banyak yang menentangnya, namun Ia tidak berhenti berbuat baik. Yesus memberi teladan bagi kita untuk terus berbuat baik.

Sesuatu yang mulia tidak dikejar dengan asal-asalan, namun penuh dengan perjuangan. Allah menjanjikan kita upah di Sorga, maka di bumi kita harus berjuang, jangan sampai berhenti dan menyerah. Kita akan mendapatkan yang besar dan terkemuka sebagai upah kita di Sorga, dan sifatnya adalah kekal. Kalau fokus kita benar, maka kita tidak akan goyah dalam pelayanan kita.

Bagaimana caranya mendapat upah yang abadi?

1. Meminum "cawan" (Matius 20:22, Roma 5:1-5, Yakobus 1:1-4). Cawan tidak selalu bicara tentang hal yang buruk, tapi juga bisa berupa hal yang menyenangkan. Dapatkah kita minum cawan? Bersedia mengalami berbagai hal ketika kita melayani. Tidak jarang orang akan menyerah dalam melayani ketika menemui hal-hal yang menerpa dan bahkan menggoncang kehidupannya. Maukah kita tetap setia? Kita harus minta kepada Roh Kudus untuk memampukan kita minum cawan dan memampukan kita untuk tetap dapat melayani di bidang manapun kita berada.

2. Jangan menindas, jadilah pelayan dan hamba (Matius 20:25, 26-27). Yesus sendiri memberi teladan menjadi manusia, menjadi hamba yang melayani. Kata “pelayan” berarti menjadi abdi. Jiwa pelayan muncul ketika ada kerendahan hati untuk mau dipimpin dan menerima perintah. Kita semua adalah hamba yang melayani, biarkan nama Yesus yang dimuliakan dengan apa yang kita lakukan.

Amin. Tuhan memberkati!

3
Okt 2021
Bp. Bambang Sulistyo
26
Sep 2021
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
19
Sep 2021
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
12
Sep 2021
Bp. Bambang Sulistyo