Ringkasan Khotbah

26
Sep 2021
Ayub 16:2
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.

Ayub dikenal sebagai seorang yang sangat saleh dan dikenan oleh Tuhan. Bahkan Tuhan sendiri memuji Ayub di depan para malaikat dan bahkan setan. Namun suatu hari ia mendapatkan masalah besar yang penyebabnya tidak ia ketahui (Ayub 1:8-12). Masalahnya: Setan menuduh Ayub setia kepada Tuhan karena dilindungi dan diberkati. Setan menuntut pembuktian atas kesetiaan Ayub. Caranya: Tuhan menarik pagar perlindungan dan berkat materi yang Tuhan berikan. Setan menyangka bahwa dengan ditariknya perlindungan dan berkat materi dari Tuhan maka Ayub akan mengutuki Tuhan dan meninggalkan Tuhan.

Tuhan harus membuktikan bahwa Ayub tetap setia, dan melindungi nyawa Ayub. Ternyata Ayub tetap setia, di sini terbukti setan kalah. Namun setan tidak terima dan menuduh bahwa Ayub masih setia karena meskipun kehilangan kepemilikan, ia masih sehat. Ia menuntut ujian berikutnya dalam hal kesetiaan Ayub jika kesehatannya diganggu (Ayub 2:3-7). Kita melihat dengan jelas pembelaan dan perlindungan Tuhan terhadap nyawa Ayub. Tuhan tidak pernah berniat jahat terhadap Ayub. Kemudian terbukti dengan jelas bahwa Ayub tetap setia kepada Tuhan meskipun ia tidak mengetahui latar belakang mengapa ia mengalami semua hal mengerikan tersebut. Setan jelas terbukti kalah dalam tuduhan tadi. Tuhan terbukti benar, dan Ayub terbukti setia kepada Tuhan tanpa syarat apapun.

Ayub bertanya kepada Tuhan mengapa ia harus mengalami semuanya itu meskipun ia setia dan berbakti kepada Tuhan. Dan akhirnya Tuhan menjawab Ayub dan menceritakan keseluruhan peristiwa ini. Namun sebelum penjelasan dari Tuhan datang, Ayub dikunjungi dan dilayani oleh para sahabatnya, yang datang dengan maksud menghibur dan menolongnya. Sahabat-sahabat Ayub melakukan sebuah pelayanan yang tidak tanggung-tanggung. Adakah orang membesuk saudaranya dan menemani sampai satu minggu penuh? Ayub 2:11-13Namun dalam ayat bacaan tadi kita melihat kekesalan hati Ayub terhadap 3 orang sahabatnya.

Mengapa Ayub kesal pada mereka? Apa yang terjadi? Tiga orang sahabat Ayub melihatnya mengalami masalah bertubi-tubi dan mengerikan, mereka berpikir bahwa Ayub pasti berbuat dosa dan sedang dihukum. Pikiran mereka: Tidak mungkin Ayub tidak bersalah, mana ada orang sesial itu jika tidak berdosa. Mereka bermaksud mendorong Ayub bertobat agar dipulihkan oleh Tuhan.Ayub menjelaskan bahwa ia tidak melakukan dosa yang mereka maksudkan. Tetapi ketiga sahabatnya bersikeras mengatakan bahwa Ayub pasti bersalah.Akhirnya mereka yang tadinya berkata-kata dengan baik menjadi marah, lalu malah mengatai Ayub. Ayub semakin keras membela diri dan mereka semakin keras dan gemas terhadap sikap Ayub. Ayub yang marah kepada ketiga sahabatnya mengatai mereka kembali. Kata “sialan“ dalam bahasa aslinya bermaksud mengatakan bahwa “gara-gara perkataan kalian aku semakin sedih/celaka/sial. Ketika mereka bertiga dikuasai emosi maka mereka membuat banyak kesalahan dalam kata-kata mereka. Akhirnya mereka dimurkai Tuhan karena mengatakan hal-hal yang salah tentang Tuhan (Ayub 42:7-9).

Pelayanan yang dilakukan ketiga sahabat Ayub yang seharusnya mendatangkan pemulihan malah semakin menambah penderitaan Ayub. Bukannya mendapat pahala karena pelayanan yang mereka lakukan, malah mereka terancam dihukum oleh Tuhan. Mengapa demikian? Mereka gagal mempertahankan kemurnian hati ketika melayani. Kita sudah tahu bahwa jika kita tahu apa yang baik dan mampu kita lakukan tetapi tidak kita lakukan, maka kita berdosa. Masih ingat contoh tentang menolong orang yang tenggelam?Jadi kita tahu bahwa menolong orang lain/melayani orang lain itu sangat penting, tetapi kita harus memastikan bahwa pertolongan yang kita berikan tidak mencelakai orang yang kita tolong, dan itu menyenangkan hati Tuhan.

Bagaimana pelayanan yang kita kerjakan dapat memberkati orang dan berkenan di hati Tuhan?

1. Dimulai dan dilakukan dengan motivasi yang murni. Memulai pelayanan dengan motivasi yang murni sangatlah penting, terlebih lagi mempertahankannya!Tuhan mengetahui isi hati dan menghargai ketulusan hati kita (Yohanes 6:26, Amsal 15:17). Apakah Anda termasuk orang yang mau membantu teman yang sedang kesusahan tanpa mengharapkan balasan? Banyak orang yang hanya akan memberikan bantuan, pinjaman, hanya apabila ia mendapatkan sesuatu sebagai balas jasa. Memberikan sesuatu tanpa pamrih, iklas, sukarela, semakin lama semakin langka kita jumpai di kehidupan kita. Padahal Tuhan Yesus mengajarkan sebaliknya. Dia mengajarkan bahwa kita harus berbuat baik dan mau meminjamkan tanpa mengharapkan balasan. Tidak ada gunanya kita menyebut diri sebagai anak-anak-Nya jika perilaku kita sama seperti orang-orang dunia. Malah sangat ironis, jika orang dunia bisa ikhlas dalam memberi, sementara kita malah pamrih dalam membantu saudara-saudara kita. Kita harus belajar memberi dengan tulus. Kita harus bisa belajar menjadi berkat buat orang lain, menyampaikan kasih karunia yang kita dapat kepada orang lain tanpa syarat (Lukas 6:33-35). Motivasi hati bisa berubah. Maka menjaga kemurnian motivasi sangatlah penting.Simei vs Barzilai (2 Samuel 19:19-20, 33-34). Apa yang bisa mencemari motivasi? Kepentingan! Yohanes 12:4-6. Ada berkat bagi yang menjaga motivasi hatinya tulus: Mazmur 24:3-5, Matius 5:8.

2. Dilakukan dengan pengertian dan cara yang benar. Ketika kita melayani Tuhan, semangat saja tidak cukup. Perlu pengertian dan cara yang benar. Pengertian yang salah menyebabkan orang-orang melakukan hal-hal yang salah.Tiga sahabat Ayub merasa bahwa pengertian mereka sudah benar, ini mendasari tindakan yang mereka lakukan. Mereka tidak mau mendengarkan penjelasan Ayub. Ingat, menolong tidak harus menggurui. Kadang mendengarkan jauh lebih baik daripada melakukan sesuatu. Kadang orang Kristen berusaha menolong temannya/orang lain yang sedang tertimpa masalah, lalu mereka meminta temannya untuk bertobat karena berpikir bahwa masalah selalu datang karena dosa, hal ini seringkali justru membuat temannya menjadi semakin tertekan. Ingat masalah hidup tidak selalu terjadi karena manusia berbuat dosa. Masalah bisa terjadi karena kesalahan orang lain, ujian Tuhan, serangan kuasa gelap, dll. Ada juga yang selalu mengaitkan penyakit dengan kutukan, serangan kuasa gelap, dll. Padahal tidak selalu demikian bukan? Buka hati untuk mendengarkan, mendengarkan, dan mendengarkan terlebih dahulu, dan barulah kemudian membuat kesimpulan. Jika salah, ulangi dari awal. Mendengarkan firman Tuhan juga sangatlah penting agar kita bisa bergerak sesuai kebenaran firman Tuhan.Pengalaman ketiga sahabat Ayub menyadarkan mereka agar mereka memiliki pengertian yang benar. Sebenarnya kisah Ayub ini mempersiapkan bangsa Israel agar mereka tidak berpikir bahwa yang sedang menderita pastilah yang berdosa. Mereka diajar untuk berhati-hati dalam berpikir dan bertindak. Namun sayangnya mereka sulit berpikir demikian. Nubuatan bahwa Israel salah paham terhadap pengorbanan Tuhan Yesus: Yesaya 53:4-6. Melayani di gereja perlu persiapan, kerjasama, koordinasi yang baik. Apapun yang kita lakukan untuk memberkati orang lain harus dilakukan dengan cara yang benar. Buka hati untuk belajar. Amin. Tuhan memberkati!

3
Okt 2021
Bp. Bambang Sulistyo
26
Sep 2021
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
19
Sep 2021
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
12
Sep 2021
Bp. Bambang Sulistyo