Ringkasan Khotbah

19
Sep 2021
Matius 5:13, 16
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.

Tuhan Yesus menggambarkan orang percaya sebagai garam, yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan manusia. Hampir semua orang mengetahui manfaat garam.Garam dipakai untuk memberi cita rasa pada makanan, mengawetkan makanan, bahan obat, dll. Tuhan Yesus juga menggambarkan orang percaya untuk menerangi dunia ini. Kita semua tahu bahwa manusia memerlukan terang/cahaya agar dapat menemukan arah dalam perjalanan yang harus ia tempuh.

Dalam menjalani kehidupannya, orang percaya dirancang untuk menjadi teladan yang patut dicontoh oleh orang lain agar mereka dapat menjalani kehidupannya dengan benar. Ada sebuah kesamaan yang dapat kita temukan dalam perintah untuk menjadi garam dan terang, yaitu kedua benda itu sama-sama mempengaruhi. Di manapun mereka berada, pengaruh mereka selalu dapat dirasakan. Garam selalu memberi rasa asin di manapun ia berada, terang selalu mengalahkan kegelapan di manapun ia berada.Kata “mempengaruhi” kita kenal dalam istilah bahasa Inggris “infuence”, sedangkan orang yang mempengaruhi dikenal sebagai influencerInfluencer adalah seorang yang memiliki kemampuan untuk memengaruhi orang lain karena kapasitas yang dimilikinya. Kapasitas yang dimaksud dapat berupa otoritas, pengetahuan, posisi, atau hubungan dengan audiens. Influencer juga dapat diartikan sebagai seorang yang dapat mengubah cara berfikir maupun cara bertindak orang lain. Menjadi garam dan terang artinya memberi pengaruh yang baik kepada orang-orang yang ada di sekitar kita agar hidup sesuai dengan prinsip firman Tuhan. Untuk itu kita terlebih dahulu harus hidup sesuai firman Tuhan. Ciptaan harus berfungsi sesuai dengan tujuannya diciptakan. Jika tidak berfungsi maka tidak ada lagi gunanya, dan berakhir dengan dibuang/dimusnahkan.

Untuk dapat melakukan tugas kita sebagai garam dan terang kita harus:

1. Selalu mengingat identitas/siapa diri kita. Orang yang melupakan /tidak tahu siapa dirinya tidak akan dapat berfungsi dengan baik. Musa melupakan jati dirinya tetapi Tuhan menolong dia untuk menemukannya kembali. Musa mengenal siapa dirinya, siapa bangsanya, tetapi pernah kehilangan jati dirinya karena tersakiti, tetapi Tuhan memulihkan jati dirinya. Orang bisa melupakan jati dirinya karena banyak hal:Tersakiti, contoh: Musa. Jatuh dalam dosa, contoh: Simson. Menyerahkan diri dalam kuasa dosa, contoh: Kain, Saul. Ketakutan, contoh: Murid-murid Yesus saat penangkapan Yesus.Dll. (Keluaran 3:6-7, 10). Israel kehilangan jati dirinya sebagai bangsa yang dipilih Tuhan untuk menjadi teladan bagi bangsa-bangsa lain (Yehezkiel 5:5-6). Ada kisah tentang telur rajawali yang menggelinding jatuh di sarang ayam hutan. Anak rajawali dibesarkan oleh induk ayam hutan bersama dengan anak-anak ayam yang lain. Hingga besar perilakunya seperti anak ayam hingga suatu hari ada rajawali besar yang menyadarkannya, barulah ia sepenuhnya belajar menjadi rajawali.Setelah berulang kali jatuh bangun akhirnya ia hidup sepenuhnya sebagai rajawali. Hati-hati dengan lingkungan, ini bisa membuat kita lupa/melupakan siapa jati diri/identitas kita.Anak rajawali belajar makan apa yang dimakan oleh ayam hutan, melakukan apa yang dilakukan ayam hutan, bermain seperti ayam hutan, dan berlari ketakutan ketika musuh ayam hutan datang, dll. tetapi ketika ia sadar bahwa dirinya bukanlah ayam hutan, ia belajar dan berjuang untuk hidup sesuai jati dirinya hingga ia berhasil.Lihatlah Israel, lihatlah kisah tentang anak rajawali.Lupa jati diri karena pergaulan erat dengan bangsa-bangsa yang memberontak melawan Tuhan. Siapakah kita? 1 Yohanes 3:1. Tuhan datang ke dunia rela berkorban, menderita untuk kita karena kita dikasihi, disayangi, diampuni, diselamatkan, dirancang untuk memiliki karakter segambar dengan Kristus, dilibatkan dalam karya penyelamatan manusia, dipersiapkan untuk memerintah bersama Tuhan di langit bumi baru (Efesus 2:10). Jadi bagaimana seharusnya kita menjalani hidup ini? Hari ini Anda bertemu dengan anak-anak Tuhan yang hidup sesuai dengan jati dirinya, hidup dalam jalan pelayanan. Alami perjumpaan pribadi dengan Tuhan seperti Musa dan tokoh-tokoh lain di Alkitab.

2. Berfungsi maksimal sesuai dengan panggilan kita. Garam tidak boleh kehilangan rasa asinnya. Terang harus berada di tempat yang benar, agar bisa menerangi dunia ini.Jemaat Tuhan harus memberi pengaruh yang baik di dalam keseharian. Di keluarga, sekolah, lingkungan pergaulan, lingkungan kerja, dll. Tokoh-tokoh Alkitab yang kembali hidup sesuai dengan jati dirinya: Musa, Simson, Daud, murid-murid Yesus, dll. Penyesalan dan pemulihan Petrus: Yohanes 21:17. Nasihat Petrus kepada para penatua gereja: 1 Petrus 5:2. Nasihat Petrus kepada seluruh jemaat: Berfungsi maksimal (1 Petrus 2:9). Pekerjaan pemberitaan kabar baik bukan hanya soal memberitakan Injil saja tetapi perlu didahului dan disertai dengan aneka macam perbuatan baik serta pelayanan praktis kepada semua orang. Temukan kembali jati dirimu, berfungsi maksimal sesuai panggilan kita. Tuhan merancang kita untuk memengaruhi dunia ini hidup dalam rencana dan kehendak Allah. Amin. Tuhan memberkati!

3
Okt 2021
Bp. Bambang Sulistyo
26
Sep 2021
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
19
Sep 2021
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
12
Sep 2021
Bp. Bambang Sulistyo