Ringkasan Khotbah

9
Mei 2021
I Timotius 3:14-15
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.

Pada tahun 2021 jumlah orang percaya di dunia berjumlah sekitar 2,38 miliar orang dari populasi dunia yang berjumlah kurang lebih 7,9 miliar.Jadi kira kira sekitar 30% populasi dunia ini adalah orang percaya. Banyak di antara orang-orang percaya ini secara rutin beribadah di gereja, baik menghadiri kebaktian di dalam gedung gereja, maupun dalam kondisi pandemi ada yang beribadah secara online. Ada orang-orang percaya yang mengerti bahwa beribadah bersama-sama adalah sebuah hal yang sangat penting, itulah sebabnya banyak yang berusaha keras untuk beribadah bersama-sama. Bagi yang belum bisa beribadah dalam gedung gereja berusaha untuk dapat beribadah secara online. Di antara jemaat kita sendiri ada yang menggunakan 1 HP untuk mengikuti acara ibadah bersama-sama. Anak-anak sekolah minggu pun juga mengikuti ibadah secara online untuk sementara waktu ini. Namun ada juga orang-orang percaya yang tidak mau beribadah bersama-sama dengan orang percaya lain karena berbagai macam alasan. Ada yang tidak mau ke gereja karena sekedar malas beribadah, ada juga yang belum memahami nilai pentingnya beribadah bersama-sama, ada yang tidak mau ke gereja karena faktor khotbah yang tidak Alkitabiah, lalu ada pula yang tidak merasa memerlukan gereja karena ia merasa tidak mendapat keuntungan, ada yang memang belum merasa perlu untuk memakai waktunya beribadah bersama, dll. Bahkan ada yang demikian tersakiti oleh kelakuan satu atau dua orang Kristen yang melawan firman, “Saya tidak pergi ke gereja lagi. Mereka semua orang munafik!” kata sebagian orang yang tersakiti hatinya. Ada juga yang tidak mau ke gereja karena kepentingan/keinginannya tidak terpenuhi, kita tahu ini adalah alasan yang sangat egois dan kekanak-kanakan. Masih ada banyak sekali alasan orang tidak mau ke gereja yang belum saya katakan. Mungkin kita telah mendengar alasan-alasan semacam itu berulang kali. Dan kita juga mengerti bahwa gereja terdiri dari orang-orang yang tidak sempurna, termasuk diri kita sendiri. Kita tidak sempurna!Tetapi setiap kali saya mendengar komentar dan alasan-alasan seperti itu, hati ini merasa sedih karena saya memahami nilai luar biasa dari hidup bersama sebagai satu kesatuan tubuh Kristus. Pengalaman bertahun-tahun dalam pelayanan memberi saya kesempatan untuk melihat bagaimana Setan menggunakan orang dan keadaan untuk membuat orang Kristen jatuh dalam kekecewaan untuk menarik mereka menjauh dari saudara-saudari seiman yang Tuhan gunakan untuk memberkati, melatih, dan menolong mereka di gereja.

Dalam suratnya kepada Timotius, Rasul Paulus menasihatkan beberapa hal yang harus dilakukan oleh Timotius selaku pemimpin jemaat di Efesus untuk membereskan beberapa masalah yang ada. Kata "semuanya itu" mewakili nasihat di pasal-pasal sebelumnya, tentang: A. Membereskan masalah ajaran sesat. B. Mengajak jemaat untuk menjadi berkat. Paulus menghendaki Timotius menggerakkan jemaat untuk hidup saleh serta berdoa syafaat bagi pemerintah, dan semua orang. Tujuannya: 1 Timotius 2:3-4, mengajar jemaat bersikap sopan dalam acara ibadah. C. Memastikan para pemimpin rohani harus hidup sesuai firman Tuhan (1 Timotius 3:10). Semua itu dituliskan Paulus agar Timotius melakukan tugasnya dengan sebaik-baiknya, sehingga jemaat di Efesus benar-benar  tertata rapi hidup sebagai keluarga Tuhan. Tujuan akhirnya adalah untuk keselamatan sangat banyak orang.

Apakah  hikmah yang dapat kita petik dari firman Tuhan hari ini?

1. Gereja adalah keluarga Tuhan. Gereja bukan sekedar tempat yang kita tuju untuk beribadah, bukan sekedar organisasi keagamaan, dan juga bukan sekedar acara ibadah bersama yang kita ikuti, tetapi Gereja adalah keluarga rohani yang diciptakan Tuhan untuk kita (Efesus 2:19, 1 Petrus 1:3)Kita sekarang adalah anggota keluarga Tuhan. Ingat baik-baik kalimat bahwa kita adalah anggota keluarga Tuhan. Coba tengok kanan-kiri, perhatikan bahwa semua orang ini adalah anggota keluarga rohani kita. Tuhan menghendaki sebuah keluarga, dan keluarga itu adalah Gereja. Bahkan Tuhan menciptakan alam semesta ini untuk keluarga-Nya. Sebelum Allah menciptakan alam semesta ini, Allah telah memilih kita. Karena kitalah Ia menciptakan alam semesta in i(Efesus 1:4). Tuhan ingin keluarga rohani ini menjadi keluarga yang harmonis, saling mengasihi, saling mengampuni, saling membangun dalam Tuhan.

2. Keluarga Tuhan ditata untuk menjadi berkat. Mengapa keluarga Tuhan harus harmonis? Ada pekerjaan besar menanti di depan mata, yaitu memberitakan karya penebusan Tuhan (1 Petrus 2:9). Untuk inilah Paulus meminta Timotius menata dan mempersiapkan keluarga Tuhan di Efesus. Bagaimana bisa bersaksi kalau di dalam keluarga rohani tidak ada kasih, pengampunan, dan saling membangun tetapi malahan isinya kekacauan dan pertengkaran? Dalam gereja kita, bukankah Tuhan juga sedang menata dan mempersiapkan kita untuk menyelamatkan lebih banyak jiwa bersama-sama? Untuk mempersiapkan kita menjadi dewasa, mampu melayani orang lain, ada beberapa usaha yang kita lakukan. Salah satunya menata jemaat agar semuanya terperhatikan dengan baik di dalam kelompok CARE. Semua mendapatkan pemeliharaan rohani di dalam kelompok CARE, dilatih, didewasakan hingga siap menolong orang lain untuk mengenal dan menerima Tuhan Yesus.Seluruh anggota keluarga harus terlibat dalam karya keselamatan. Menggunakan semua talenta atau bakat atau kepercayaan berbentuk apapun yang Tuhan berikan. Untuk itu mari kita bersama-sama mempersiapkan diri, bersatu sebagai keluarga Tuhan untuk menjadi berkat bagi orang lain,saling mengasihi, saling membangun, saling menguatkan, saling menjaga, dll.

Maukah memberi diri ditata oleh Tuhan? Kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali sudah semakin dekat. Dalam masa ini kasih kebanyakan orang menjadi dingin. Tetapi mari beri diri dibentuk dan  menjadi anggota keluarga Tuhan untuk menyelamatkan sebanyak mungkin orang. Amin. Tuhan memberkati!

13
Jun 2021
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
6
Jun 2021
Bp. Bambang Sulistyo
30
Mei 2021
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
23
Mei 2021
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.