Ringkasan Khotbah

2
Mei 2021
Yohanes 1:12-13
Bp. Bambang Sulistyo

Ada banyak orang di luar sana yang kurang bisa menikmati hidup kekristenan mereka dan itu ditandai dengan adanya keluarga-keluarga Kristen yang kurang harmonis, orang-orang Kristen yang di masa pandemi ini mulai putus asa, ada yang sakit mulai menggerutu, dsb. Dalam kekristenan itu mereka seperti kurang merdeka padahal sesungguhnya sudah merdeka. Kehidupan Yesus dari kelahiran sampai kematian dan kebangkitan-Nya, dan sebelum Ia naik ke Surga, Ia berpesan kepada murid-murid-Nya agar memberitakan apa yang telah diajarkan oleh Yesus kepada murid-murid-Nya sampai ke ujung bumi, agar keselamatan sampai kepada seluruh manusia. Setelah Yesus naik ke Surga, sampai hari ini, berita keselamatan terus disampaikan oleh rasul dan bapa-bapa gereja. Dari pemberitaan kabar keselamatan itu ada banyak orang yang akhirnya menerima Yesus namun ada banyak juga yang menolak Yesus. Kita sebagai orang yang percaya Yesus, kita mendapat kehormatan di hadapan Allah untuk menjadi anak-anak Allah (Yoh. 1: 12-13). Seorang anak yang memiliki bapak kandung yang baik dan takut akan Tuhan tentunya menjadi kebanggan bagi sang anak, apalagi kita mempunyai Allah sebagai Bapa kita, betapa luar biasanya! Kalau Allah adalah Bapa kita, maka kita harus menyadari bahwa di dalam Yesus, kita semua adalah keluarga rohani, karena iman kita pada Yesus. Karena itu, mari kita mengambil bagian, memiliki beban kerinduan untuk menjadi bapa rohani bagi sesama orang percaya. Masih ada orang-orang Kristen yang dalam kehidupan kekristenan mereka yang ternyata masih perlu pemulihan, pelepasan, pendewasaan, dll. Perlu pembapaan rohani. Pembapaan rohani tidak ada hubungannya dengan jenis kelamin, hanya pria saja, tetapi pembapaan rohani berbicara mengenai tanggung jawab dalam kerajaan Allah sebagai satu keluarga Allah, pria dan wanita bisa mengambil peran sebagai bapa rohani.

Bagaimana cara menjadi bapa rohani?

1. Mengenal Tuhan Yesus (Yoh. 14:6-7). Kata mengenal, bahasa Yunaninya adalah ginosko, yang artinya hubungan suami istri yang bersetubuh, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan kata “mengenal”. Hal ini artinya bahwa kita harus mengenal Tuhan sedekat hubungan suami dengan istri. Bukan hanya hubungan yang dangkal, tapi pengenalan yang dalam. Contoh dalam Akitab: Daniel, orang yang membangun hubungan dan mengenal Allah begitu dekat, sehingga saat ia harus dimasukkan ke kandang singa yang buas pun ia tidak berubah setia dan tidak menyangkal Allah. Allah mau agar kita mengenal Dia secara ginosko. Dengan pembapaan rohani, kita dapat membawa mereka yang belum sungguh-sungguh mengenal Allah menjadi orang-orang yang ginosko dengan Allah.

2. Menjaga Keluarga Harmonis. Seharusnya orang bisa mengenal Allah sebagai Bapa adalah dari rumah, karena itu mari kita ciptakan keluaraga yang harmonis. Ada empat tipe keluarga yang tidak harmonis dan akibatnya pada anak: A. Otoriter – anak menjadi melawan Allah. B. Kurang Penghargaan – anak menjadi tidak percaya janji Allah. C. Komunikasi buruk – anak sulit bangun hubungan dengan Allah. D. Kurang disiplin – anak jadi meremehkan firman Tuhan. Karena ada kondisi keluarga yang tidak harmonis itulah ada anak-anak yang membutuhkan pembapaan rohani untuk menolong mereka mengalami pemulihan sehingga memiliki hubungan yang dekat dan benar dengan Tuhan.

3. Substitusi/pergantian. Kalau ada seorang anak tidak mendapat pengajaran yang baik mengenai bagaimana berdoa, mengampuni, mengasihi, dll. dari orang tua kandungnya, biarlah ia boleh belajar melaui kita sebagai orang tua rohaninya. Inilah yang dimaksud dengan subtitusi. Generasi anak-anak kita akan terus berlanjut, karena itu marilah kita menjadi orang tua rohani yang mencetak generasi-generasi yang kuat dan takut akan Tuhan.

Amin. Tuhan memberkati!

13
Jun 2021
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
6
Jun 2021
Bp. Bambang Sulistyo
30
Mei 2021
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
23
Mei 2021
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.