Ringkasan Khotbah

21
Mar 2021
1 Samuel 18:8
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.

Kita telah belajar bahwa penyembahan adalah seluruh keputusan, perkataan, dan perbuatan kita untuk menyenangkan Tuhan. Namun kita perlu tahu bahwa hal itu tidaklah semudah yang kita pikirkan.Ada musuh yang harus dikalahkan terlebih dahulu. Siapakah musuh itu?Musuh itu adalah "aku", atau keakuan.Keakuan adalah musuh utama penyembahan. Keakuan adalah masalah hati.

Saul gagal mengalahkan keakuannya, itulah penyebab ia tidak menyembah Tuhan, ia memilih untuk meninggikan dirinya sendiri, bukan meninggikan Tuhan. Sedangkan Daud berbeda, ia mengalahkan keakuannya. Tuhan berkata kepada Nabi Samuel tentang hati Daud: 1 Samuel 16:7b. Alkitab menunjukkan bukti Tuhan mengenal hati Daud. Daud berdoa agar Tuhan menolongnya menjaga hati bebas dari keakuan (Mazmur 139:23). Lalu bagaimana dengan kondisi hati Saul? Isi hati Saul: Kenapa bukan aku yang jadi pusat perhatian? Kenapa bukan aku yang nomor satu? Kenapa bukan aku yang diutamakan? Kenapa bukan aku yang dipilih Tuhan menjadi raja untuk seterusnya? Kenapa bukan aku yang diistimewakan? Kenapa bukan aku yang dipuji? Kenapa bukan aku yang dituruti? Semuanya tentang "aku". Jadi  Saul tidak menyembah Tuhan, tetapi meninggikan dirinya sendiri.

Dari keakuan muncul berbagai macam suasana hati, jika ada sesuatu yang menguntungkan kita maka suasana kegembiraan akan terjadi dan jika ada sesuatu yang merugikan kita maka suasana kesedihan, kecewa, marah, dll. akan datang. Keakuan akan menjadi sumber malapetaka jika kita masih terjebak secara terus menerus dalam keakuan tersebut, dengan berfikir demikian maka secara terus menerus kita hanya akan masuk dalam dunia untung rugi, baik dalam hal karir, keluarga, persahabatan, bahkan dalam dunia keagamaan. Segala aspek dalam kehidupan hanya dinilai dari segi untung rugi.Ini adalah kesalahan fatal dalam berpikir.Ketika Saul tidak mendapatkan yang ia inginkan, ia membenci, menyakiti, mencelakai, merugikan orang lain, penuh kebencian, penuh rasa tidak terima, penuh pemberontakan dalam hatinya, merencanakan pembunuhan, dan lain-lain, bahkan ia dengan sadar dan terus-menerus melawan Tuhan dan merusak rencana Allah (Yakobus 4:1-4). Ketika manusia demikian dikuasai keakuan, bahkan doa-doanyapun semuanya untuk memuaskan keinginan dirinya sendiri, sama sekali bukan untuk menuruti kehendak Tuhan, tanpa sadar ia malah mengaturTuhan menuruti keinginannya.

AKIBAT MEMBIARKAN DIRI DIKUASAI KEAKUAN:

A. Memusuhi Allah (Kejadian 3:9). Orang seperti itu tidak sadar bahwa sebenarnya ia memusuhi Allah. Itulah yang terjadi ketika Adam berdosa, ia melawan Allah. Itulah yang terjadi ketika manusia membiarkan diri dikuasai keakuan (Roma 8:7).

B. Memberi jalan masuk bagi roh jahat. Jika manusia terus-menerus membiarkan diri dikuasai keakuan, akibatnya setan mendapat akses masuk dalam pikiran dan hidup manusia. Lihatlah apa yang dialami oleh Saul. Ia hidup dalam penderitaan yang sangat mengerikan (Matius 12:43-45). Pernahkah Anda mendengar bahwa roh jahat suka tinggal dalam bangunan kosong dan terlantar? Roh jahat tidak tertarik tinggal dalam rumah kosong dalam arti bangunan fisik, tetapi yang dimaksud dengan rumah kosong itu adalah hati manusia. Di akhir zaman roh-roh jahat bekerja dengan keras untuk terus melawan Allah, merusak apapun yang bisa dirusaknya.Roh-roh tersebut bukanlah impersonal, mereka dikuasai oleh iblis dengan tatanan kekuasaan mereka sendiri. Lihat saja mereka terlibat dalam berbagai macam kehancuran moral manusia, rumah tangga, negara, dll. (Wahyu 16:13-14). Tidaklah mungkin mengadakan pembaharuan hidup manusia dengan hanya mengusir roh jahat dari dalam diri korbannya. Roh Allah harus masuk dalam diri orang itu, berdiam disitu, dan menjadi Raja di hati manusia. Jangan biarkan hati kita kosong, tetapi Tuhan Yesus harus tinggal dalam hati kita dan menjadi Pemilik hati kita. Apakah Anda menjadikan Tuhan Yesus sebagai Pemilik hatimu? Atau sekedar numpang tetapi raja dalam hati Anda tetaplah diri Anda sendiri? Siapakah Pemilik hatimu? (1 Korintus 6:19). Siapakah yang berkuasa di dalam hatimu? Apakah itu Tuhan atau dirimu sendiri?

C. Tidak dapat mengalami kemajuan. Orang yang dikuasai keakuan tidak dapat melihat kelemahannya sendiri. Selalu menyalahkan dan mengumpulkan kesalahan orang lain.Akibatnya ia tidak dapat mengalami perubahan hidup. Tidak dapat menerima nasihat orang lain, bahkan menyerang balik ketika dinasihati. Saul tahu dengan jelas bahwa ia jahat dan melawan Tuhan, tetapi ia tidak mengalami perubahan apapun. Bukan kemajuan yang ia dapatkan, melainkan kemunduran.

DMenuai kebinasaan(1 Samuel 31:6). Dalamkehidupan sehari-hari ada banyak contoh orang celaka karena mengikuti keakuan. Berapa banyak persahabatan hancur karena keakuan?Berapa banyak rumah tangga rusak karena keakuan?Berapa banyak korban peperangan karena keakuan?Ada peperangan yang terjadi hanya karena alasan-alasan yang konyol (1 Yohanes 2:16-17, Galatia 6:8). Jadi, setelah mengetahui semuanya itu, apa yang akan Anda lakukan?

Maukah Anda mengambil keputusan untuk mengalahkan keakuan? Bagaimana mengalahkan keakuan? Lukas 9:23-25. Menyangkal diri: Tidak mengikuti keakuan. Memikul salib: Mengikuti kehendak Tuhan.Ini semua karya Roh Kudus dalam hidup kita, untuk menang tunduklah pada pimpinan Roh Kudus dalam keseharian kita. Dalam proses pendewasaan ini Tuhan akan menolong. Maukah Anda membuka hati untuk Tuhan? Amin. Tuhan memberkati!

9
Mei 2021
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
2
Mei 2021
Bp. Bambang Sulistyo
25
Apr 2021
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
18
Apr 2021
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.