Ringkasan Khotbah

14
Feb 2021
Yakobus 5:16
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.

Ada manusia yang sedang menjalani kehidupan yang pahit, namun ada yang juga menjalani kehidupan yang manis. Maksudnya ada yang sedang menjalani kesulitan, pergumulan dantantangan. Ada juga yang sedang menjalani kehidupan yang limpah dengan aneka macam hal-hal yang menyenangkan. Kita turut berbahagia melihat teman-teman kita yang menjalani kehidupan yang menyenangkan. Alkitab mengajar kita untuk menolong sesama kita yang sedang menjalani kehidupan yang pahit (Amsal 14:10). Namun kita menyadari bahwa kita adalah manusia yang terbatas. Kita tidak selalu dapat menolong mereka secara tuntas. Kadang kita tidak mampu mengubah yang pahit dalam hidup mereka menjadi manis. Namun apakah yang pahit itu dibiarkan pahit begitu saja? Tentu tidak. Rasa pahit dapat sedikit diperbaiki dengan menambahkan hal-hal kecil yang manis untuk memperbaiki rasanya, sehingga orang yang mengalami pahitnya pergumulan yang ia hadapi dapat menerimanya dengan lebih baik karena kita memperkaya hidup mereka dengan hal-hal yang manis. Maksudnya mengurangi beban dan penderitaan mereka. Apa yang dapat kita lakukan untuk memperkaya hidup orang lain? Beberapa waktu ini kita telah belajar untuk menjadi sahabat bagi orang lain, persahabatan akan menguatkan orang yang sedang menghadapi kesulitan. Hari ini kita akan belajar bahwa kita bisa memperkaya hidup orang lain melalui doa kita. Contoh: A. Yonatan ingin menolong Daud, dan Daud ingin ditolong, tetapi masalahnya Yonatan tidak memiliki kemampuan untuk melepaskan Daud dari kesulitan yang dihadapinya. Ia tidak lebih berkuasa dari Raja Saul, ayahnya. Yonatan tetap menolong Daud semampunya, meskipun sama sekali tidak menyelesaikan masalah yang dihadapi Daud. B. Abraham tidak mampu menahan Lot berada dalam jalan Tuhan, karena Lot memutuskan untuk meninggalkan Tuhan, ia hidup di kota yang akan dihancurkan karena dosa mereka. Lot TIDAK MAU ditolong oleh Abraham. Tetapi Abraham dapat tetap berdoa untuk Lot. Sebagai seorang hamba Tuhan, kadang saya menghadapi dua hal tersebut: Mau menolong tetapi tidak mampu, atau mau menolong tetapi yang ditolong tidak mau berjalan dalam jalan Tuhan.

Menghadapi situasi tersebut apa yang dapat kita lakukan?

1. Tetap tulus dantaat pada firman Tuhan. Orang yang "dikaios" berarti orang yang tulus, hidup menaati firman Tuhan, hidup benar. Tulus: hati yang murni, bebas dari kepentingan, murni ingin memuliakan Tuhan. Menjaga ketulusan hati itu tidak mudah. Tulus:Sungguh-sungguh, bukan asal berdoa. Demi memuliakan nama Tuhan. Bukan untuk mencari keuntungan diri sendiri. Menaati firman Tuhan dalam keseharian, dalam tutur kata dantindakan.Ayat ini mendahului ayat yang kita baca tadi tentang doa orang benar: Yakobus 5:12. Maksudnya jika bibir atau perkataan kita dolak-dalik (mencla-mencle/tidak dapat dipercaya/berubah-ubah) terhadap sesama kita, maka ketika berbicara kepada Tuhan dalam doa apakah Tuhan berkenan untuk mendengarnya? Amsal 4:24. Orang yang benar bukan berarti tidak pernah berbuat salah. Ketika ia bersalah, ia mengakuinya danbertobat. Orang percaya tidak boleh menyembunyikan dosanya, tetapi membereskannya. Itulah perlunya saling mengaku dosa dengan saudara seiman yang dapat dipercaya dan menolong untuk memperbaiki perilaku. Saling mengawasi, memotivasi untuk menaati firman Tuhan. Biasanya ini dilakukan dengan berhati-hati. Doa orang yang hatinya bersih danhidup taat pada firman Tuhan sangat besar kuasanya (Mazmur 24:3-5). Di sini kita mengerti bahwa Tuhan menghendaki kita hidup dengan hati yang tulus dan taat pada firman Tuhan.

2. Berdoa bersama dengan saudara-saudari seiman. Saling mendoakan. Yang didengar Tuhan adalah yang tulus hati dan hidup benar.Libatkan Tuhan di dalam kesulitan yang kita hadapi, caranya dengan berdoa bersama-sama. Bersepakat dalam doa dan berjalan dalam ketaatan.Ketika umat Tuhan saling mendoakan, sebenarnya mereka sedang berjuang bersama! Saling menguatkan untuk tekun berdoa. Saling menguatkan untuk tetap tunduk dan berserah pada kehendak Tuhan. Contoh: Saat orang-orang yang kita kasihi sedang menghadapi pergumulan, berdoalah bersama mereka. Dalam suasana pandemi bisa dilakukan melalui telepon, dll. Ini sangat menguatkan iman. Meskipun keadaan belum berubah tetapi hati menjadi kuat (Kisah Para Rasul 2:42). Doa bersama membangun dan menyatukan kita dalam iman yang satu. Roh Kudus yang sama, yang berdiam dalam setiap orang percaya, menyebabkan hati kita bersukacita saat kita mendengar pujian kepada Allah dan Juruselamat; merajut dan menyatukan kita dalam ikatan yang unik yang tidak ditemukan di tempat lain. Bagi mereka yang kesepian dan bergumul dengan beban kehidupan, mendengarkan orang mengangkat mereka ke tahta anugerah memberi semangat yang besar. Mendoakan mereka juga membangun kasih dan perhatian terhadap orang lain. Doa bersama juga mengajar orang-orang yang baru percaya bagaimana berdoa dan membawa mereka kepada persekutuan yang erat dalam tubuh Kristus.

3. Berdoa untukorang-orang yang kita kasihi. Ini disebut syafaat. Berdoa untuk saudara-saudari seiman dan orang lain. Ada orang yang menghargai doa yang kita naikkan bagi mereka, tetapi ada orang yang tidak menghargai doa-doa kita. Mungkin ada yang berkata: "Kok cuma doa?"Tidak masalah ketika ada orang-orang yang menolak doa kita, kita mungkin tidak bisa berdoa bersama dengan mereka tetapi kita dapat tetap berdoa untuk mereka, seperti Abraham. Ada banyak orang yang meremehkan doa, tetapi anggap saja mereka tidak mengerti.Ketika terpisah jarak atau halangan, kita dapat tetap berdoa untuk mereka (Kisah Para Rasul 12:5). Saat dalam keadaan tidak mengenakkan, ada orang yang mendampingi dan mendoakan akan terasa jauh lebih baik daripada menghadapinya sendirian. Meskipun kesulitan terasa pahit dan masih harus dihadapi, namun dengan adanya dukungan doa dan persahabatan terasa lebih baik.

Mari kita belajaruntuk memperkaya kehidupan orang-orang yang terkasih. Amin. Tuhan memberkati!

11
Apr 2021
Bp. Bambang Sulistyo
4
Apr 2021
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
28
Mar 2021
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
21
Mar 2021
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.