Ringkasan Khotbah

24
Jan 2021
Matius 26:43-44
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.

Suatu saat Tuhan Yesus mengadakan perjalanan malam dengan para murid-Nya dan memberitahu mereka bahwa Ia akan ditangkap dan dibunuh oleh persekongkolan para rohaniwan Yahudi pada waktu itu, lalu pada hari ketiga Ia akan bangkit dari kematian. Berita tersebut adalah sebuah berita yang tentu saja menakutkan bagi para murid-Nya. Mereka melihat kenyataan bahwa Tuhan Yesus akan menderita. Dalam masa yang sangat sulit itu Tuhan Yesus mengajak 3 orang murid-Nya pergi ke Taman Getsemani untuk berdoa. Ia meminta mereka menemani di masa sulit itu. Petrus pernah berkata bahwa ia rela mati demi Yesus sekalipun murid yang lain melarikan diri. Yohanes dan Yakobus pernah berkata bahwa mereka ingin menjadi dua orang yang paling penting dan menonjol bagi Tuhan Yesus. Ketiga murid inilah yang diajak Tuhan Yesus berdoa di Taman Getsemani (Matius 26:37-38)Tetapi sayangnya, dua kali Ia mengatakan itu, dua kali pula murid-murid-Nya itu malah tidur. Bukankah itu tindakan yang sangat mengecewakan?

Tuhan Yesus dalam Wujud-Nya sebagai Manusia dan posisi-Nya sebagai Penebus yang menanggung dosa seluruh umat manusia memberi kita sebuah teladan yang sangat luar biasa! Ia merasakan pergumulan berat di dalam kemanusiaan itu (Matius 26:44). Doa apa yang Ia naikkan? Ia memohon agar tidak perlu mengalami penderitaan yang hebat itu jika Bapa di surga mengizinkan. Tetapi jika Bapa di surga tetap pada rencana semula, Ia pasti akan taat secara total (Markus 14:36). Kemudian Tuhan Yesus menghadapi kayu salib dengan sebuah kekuatan yang sangat luar biasa. Penderitaan, hinaan, olokan, aniaya, tidak membuat-Nya mundur. Ia memenangkan pertempuran melawan godaan untuk membatalkan penebusan dosa manusia. Ia berbahagia menanggung semuanya itu karena Ia sangat mencintai umat manusia.

Dalam keseharian, kita menjumpai banyak orang yang tertekan karena mengalami banyak penderitaan hidup. Banyak orang yang hidup dalam kesedihan ketika doanya belum dikabulkan. Banyak yang hidup dalam suasana hati yang tidak karuan karena pergumulan hidup yang berat. Tetapi Tuhan Yesus menghadapi penderitaan yang paling hebat di dunia dengan sebuah kekuatan dan ketegaran hati yang luar biasa. Ia berbahagia harus melewati semua itu. Bagaimana bisa demikian? Mari kita meneladani apa yang Tuhan tunjukkan.

Bagaimana kita dapat berbahagia dalam setiap keadaan?

1. Menerima keputusan TuhanAlkitab mengatakan bahwa akar segala kejahatan adalah cinta uang. Bayangkan bahwa kejahatan adalah sebuah pohon, buahnya yang banyak itu adalah berbagai macam bentuk kejahatan. Namun akarnya hanya satu, yaitu cinta uang. Artinya jika manusia dikuasai keinginan tidak terkendali, maka ia berpotensi melakukan kejahatan dalam berbagai bentuk. Contohnya: Tuhan tidak selalu mengabulkan doa sesuai keinginan kita. Ia memberi apa yang tidak mencelakai kita. Jika kita meminta sesuatu yang baik menurut kita tetapi di mata Tuhan itu membahayakan kita, maka Ia tidak akan memberikannya. Ketika orang Israel dikuasai keinginan, mereka meninggalkan Tuhan. Demi mengejar keinginan, mereka menyerahkan diri kepada berhala-berhala mana saja yang mereka kira memberikan kepada mereka apa yang mereka inginkan (Hakim-hakim 10:6)Semua doa kita dijawab oleh Tuhan, tetapi tidak semua doa dikabulkan. Kadang jawaban Tuhan adalah tidak atau tunggu. Saat Tuhan berkata ya, tidak, atau tunggu, itu adalah hal yang terbaik. Contoh: Yusuf. Ia sangat rohani sejak kecil. Ketika ia disakiti kakak-kakaknya, apakah ia berdoa kepada Tuhan? Ketika ia dijual sebagai budak, apakah ia berdoa kepada Tuhan? Ketika ia difitnah dan dipenjarakan, apakah ia berdoa kepada Tuhan? Ketika ia dilupakan orang-orang yang pernah ditolongnya, apakah ia berdoa kepada Tuhan? Lalu apakah jawaban Tuhan pada setiap doanya? Sebelum rencana Tuhan diselesaikan dalam hidup Yusuf, semua pengalamannya tetap tinggal sebagai misteri kehidupan. Tetapi saat Tuhan menyatakan rencananya, semua menjadi jelas. Yusuf tetap mempercayai keputusan Tuhan yang terbaik. Hingga akhirnya ia melihat bahwa semuanya itu terjadi demi kebaikannya (Kejadian 45:5)Contoh lainnya adalah Paulus. Dengan semua karunia dan kehebatan yang ia miliki, ia telah memulihkan sangat banyak orang, menyembuhkan sangat banyak orang, tetapi ketika ia sendiri memiliki pergumulan hidup dan meminta pertolongan Tuhan, ternyata keputusan Tuhan tidak sesuai dengan keinginannya (2 Korintus 12:8-10). Mengapa orang stres? Karena yang ia inginkan tidak terpenuhi. Masalahnya di sini adalah keinginan. Yusuf dan Paulus telah belajar untuk menaklukkan keinginan dan berserah pada keputusan Tuhan. Doa Bapa Kami: ... Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga... Meminta pada Tuhan, tetapi tetap berserah pada keputusan Tuhan. Maukah Anda berserah pada keputusan Tuhan?

2. Menerima kelemahan sesama. Dalam keadaan berat seperti itu, murid-murid Tuhan Yesus tertidur. Tetapi Tuhan Yesus tidak memarahi mereka. Ia memahami bahwa mereka memiliki banyak kelemahan sebagai manusia biasa. Ikrar para murid ketika Tuhan Yesus memberi tahu bahwa Ia akan ditangkap dan dibunuh: Matius 26:35. Apa yang terjadi dengan ikrar mereka? Matius 26:56. Jika kita terus menuntut sesama kita untuk bisa melakukan ini dan itu, harus melakukan ini dan itu, harus berubah secepat yang kita inginkan, harus bisa melakukan yang kita dapat lakukan, maka kita akan kelelahan sendiri. Yang terbaik adalah belajar menerima kelemahan mereka apa adanya. Contoh: Menginginkan suami romantis padahal suaminya bukan tipe seperti itu. Menginginkan isteri dengan kriteria tertentu, padahal istrinya bukan tipe seperti itu. Lelah sendiri. Keduanya akan sangat lelah. Belajarlah menerima pasangan apa adanya, hal ini sangat penting dalam meraih kebahagiaan rumah tangga. Kedewasaan dalam pernikahan adalah ketika bisa menerima kelemahan pasangan apa adanya. Lihatlah anak-anak Anda. Berhentilah menuntut mereka menjadi seperti anak-anak orang lain. Tolonglah mereka bertumbuh dan berkembang sesuai dengan bakat mereka. Bukan berarti tidak menolong untuk berubah, tetap diusahakan untuk berubah tetapi tetap dengan semangat menerima apa adanya dengan kemajuan-kemajuan kecil yang dibuat mereka. Mulailah menghargai perubahan dankemajuan kecil yang mereka buat. Selalu menuntut dan memaksakan perubahan secara cepat akan sangat menghancurkan. Nikmati proses perubahan, hargai setiap usaha mereka. Ucapkanlah penghargaan untuk setiap kemajuan kecil sekalipun dan berikan dorongan semangat untuk maju. Yesus memulihkan murid-murid-Nya satu-persatu dan menjadikan mereka orang-orang hebat. Pemulihan Petrus: Yohanes 21:17. Akhirnya Petrus menjadi seorang hamba Tuhan yang luar biasa! Nasihat yang sama Petrus ucapkan pada murid-muridNya: 1 Petrus 5:2. Petrus, Yohanes, Yakobus, akhirnya menjadi orang-orang yang setia kepada Tuhan Yesus, dan rela mengorbankan diri bagi kemajuan pemberitaan kabar baik. Perubahan mereka bukan karena tuntutan harus begini, harus begitu, tetapi karena mereka diterima apa adanya, dikasihi dan dibimbing pelan-pelan dengan sabar, akhirnya mereka jadi orang-orang yang luar biasa.

3. Menerima ketidaksempurnaan kita dan belajar menjadi pribadi yang lebih baik. Semua ini ditulis bukan untuk mempermalukan murid-murid Tuhan Yesus, ini semua ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita bahwa para murid yang hebat itu adalah manusia biasa sama seperti kita. Jika kita menyadari bahwa kita manusia biasa yang memiliki banyak kelemahan, hal ini akan membuat kita memiliki tanah hati yang subur. Firman Tuhan yang ditanamkan di hati kita akan bertumbuh dan menghasilkan perubahan hidup. Contoh: Daud (Mazmur 23:1-3)Mengapa Daud berkata demikian? Ingat ia pernah berbuat dosa yang sangat parah dengan menyakiti Batsyeba dan Uria. Daud menerima kenyataan bahwa hidupnya tidak sempurna dan ia disempurnakan oleh Tuhan. Amin. Tuhan memberkati!

28
Feb 2021
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
21
Feb 2021
Pdt. Johan Chrisdianto
14
Feb 2021
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
7
Feb 2021
Bp. Bambang Sulistyo