Ringkasan Khotbah

10
Jan 2021
Ulangan 31:16-21
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.

Apakah Anda ingat kisah Nabi Nuh? Tuhan memerintahkan Nuh untuk membuat sebuah bahtera/kapal raksasa sebagai jalan keselamatan satu-satunya terhadap bencana banjir yang akan meliputi seluruh dunia pada masa itu (Kejadian 6:17-18). Nuh tidak hanya peduli pada dirinya sendiri.Ia tahu Tuhan memberi kesempatan kepada manusia untuk bertobat selama 120 tahun. Ia tetap berusaha dengan keras untuk memberitakan berita kebenaran dan kesempatan untuk bertobat selama 120 tahun. Ia juga tahu bahwa tidak ada jaminan bahwa manusia lain akan memercayainya dan bertobat. Ia tahu bahwa hanya ia dan 7 anggota keluarganya yang dapat ia pastikan mengikutinya dalam jalan keselamatan (2 Petrus 2:5, Kejadian 6:3). Jika Anda tahu bahwa Anda diperintahkan untuk melakukan sebuah pekerjaan yang akan hancur dan tampak sia-sia, apakah Anda masih mau melakukannya? Tidak bukan? Tetapi Nuh mau! Mengapa? Sebab Nuh tidak memusatkan perhatian pada apa yang harus ia lakukan, tetapi ia fokus pada mengapa ia melakukan hal itu.

Demikian pula Nabi Musa,dalam bacaan hari ini, kita melihat bahwa: A. Tuhan memberitahu Musa bahwa Musa tidak lagi bertugas memimpin bangsa itu menyeberangi sungai Yordan. Ia akan berangkat ke surga. B. Yosua dengan bantuan para imam Lewi bertugas untuk memimpin bangsa itu menyeberangi sungai Yordan. C. Musa memastikan Yosua dan para imam Lewi siap melakukan tugasnya. D. Tuhan memberitahu Musa bahwa kelak di kemudian hari, selama ratusan tahun kemudian, bangsa bangsa itu akan meninggalkan Tuhan dan menyembah berhala, hidup dalam moral yang rendah, akibatnya mereka terbuang dari tanah itu menjadi budak di negeri orang. E. Tuhan memerintahkan Musa mengajarkan sebuah nyanyian kepada bangsa itu turun-temurun. Nyanyian itu bertugas menjadi saksi dari apa yang Tuhan katakan kepada generasi yang pada saat itu belum lahir bahwa Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang. Inti nyanyian itu adalah menyadari dosa mereka dan kesabaran serta kebaikan Tuhan. Nyanyian Musa hanya dapat dimaknai secara utuh oleh umat Israel pada zaman Ezra dan Nehemia yang terbuang di negeri asing, yaitu Babel dan Persia saat semua kata dalam nyanyian itu terjadi (Nehemia 1:8-9). Bayangkan jika Anda menjadi Musa, harus melakukan sebuah pekerjaan yang Anda tahu akan hancur. Masihkah Anda mau melakukannya? Tentu tidak bukan? Mungkin Anda berpikir mengapa Anda harus membuang waktu, tenaga, uang untuk melakukan sesuatu yang pasti hancur? Nuh dan Musa mau melakukannya. Mengapa mereka mau melakukannya? Mereka mau melakukannya karena tidak hanya melihat pada APA yang mereka lakukan, tetapi MENGAPA mereka harus melakukannya.Mereka mengerti ALASAN mengapa mereka melakukan semuanya itu. Mereka memahami bahwa tugas mereka adalah satu titik kecil dari rencana Allah yang luar biasa. Mereka memahami bahwa tidak ada yang sia-sia meskipun tampaknya mereka melakukan sebuah pekerjaan yang tidak berhasil.Mereka memahami bahwa setelah mereka selesai melakukan tugasnya, mereka harus kembali kepada Tuhan dan Tuhan akan memakai orang lain dalam generasi berikutnya untuk menyelesaikan rencana Allah yang besar untuk keselamatan dunia ini.

Tahukah Anda bahwa setelah Nuh, ada Musa, ada Ezra dan Nehemia lalu setelah itu waktu kedatangan Tuhan Yesus untuk penebusan dosa? Musa hadir bersama Elia ketika Tuhan Yesus sedang bersama murid-murid-Nya (Matius 17:2-5). Mereka sedang membicarakan penebusan dosa (Lukas 9:31)Perhatikan hal ini: Mengetahui alasan mengapa kita melakukan sesuatu memberi kita banyak keuntungan, tetapi kita tidak harus selalu mengetahuinya secara detil, itu akan membuang banyak waktu. Nuh dan Musa tidak mengetahui seluruh detil rencana Allah, yang mereka ketahui adalah maksud Tuhan serta garis besar rencana Allah.

Keuntungan mengetahui alasan mengapa kita melakukan sesuatu?

1. Menolong kita membuat penilaian yang benar (Amsal 27:6). Nuh dan Musa tidak pernah merasa bahwa mereka sedang membuang waktu, tenaga, meskipun apa yang mereka lakukan tampak sia-sia. Mereka membuat penilaian yang benar. Mereka berjuang untuk miliaran orang yang diselamatkan meskipun ada banyak yang menolaknya juga. Pekerjaan pelayanan yang kita lakukan belum tentu berhasil bukan? Namun mengapa kita harus terus setia melayani? Tuhan mengajar kita melalui Bp. Bambang minggu lalu, bahwa kita harus menabur. Berbeda dengan menanam, benih yang kita tabur dapat jatuh di berbagai macam tanah yang menggambarkan kualitas hati seseorang pada suatu waktu. Terus menabur meskipun taburan benih firman dan kebaikan yang kita sebarkan dapat saja jatuh di tanah yang kurang baik kualitasnya. Akan ada benih yang jatuh di tanah hati yang baik dan berbuah sangat banyak. Jangan pernah berpikir bahwa kita sedang melakukan sebuah pekerjaan yang sia-sia.

2. Menolong kita tetap fokus dan bersemangat. Kita sedang berjuang untuk membangun generasi yang berikutnya. Anak cucu kita semua akan hidup dalam sebuah masa yang sangat berat (2 Timotius 3:1-5). Anak cucu kita akan hidup dalam lingkungan masyarakat dengan tantangan yang sulit seperti itu (1 Korintus 15:33). Akankah kita berpangku tangan? Atau kita mau terus berjuang untuk membangun gereja menjadi sebuah komunitas yang sehat bagi anak cucu kita turun-temurun? Ketahuilah dengan jelas kita sedang hidup untuk apa. Bukan untuk diri sendiri. Kita bergereja bukan untuk menikmati pelayanan rohani bagi diri sendiri, kita bergereja untuk berjuang bersama membangun sebuah komunitas yang sehat bagi generasi berikutnya. We are fighting for the next generation. Demikian pula Nuh dan Musa (Amsal 18:14) .

3. Membuat kita melihat tantangan sebagai berkat yang menyenangkan. Nuh tidak gagal, Musa juga tidak gagal.Mereka berhasil melakukan tugas yang menjadi bagian mereka untuk tetap setia apapun hasil pelayanan mereka. Musa melihat tantangan yang harus dihadapinya sebagai sebuah berkat yang menyenangkan dan luar biasa. Aneka macam tantangan dalam pelayanan dapat membuat anak-anak Tuhan frustrasi, merasa gagal, patah semangat, kecewa, tertekan, dll. Disalahpahami, disakiti, tidak dihargai, pergumulan pribadi dalam keuangan, kesehatan, pelayanan, dll. Hanya mereka yang memahami alasan bahwa mereka sedang berjuang untuk sesuatu yang berharga, yaitu generasi berikutnya, yang tidak akan pernah menyerah meskipun kadang mereka ingin melakukannya. Do you get the reason why we are fighting to build this church? Apakah Anda memahami alasan mengapa kita terus berjuang dalam kehidupan ini? Apa yang menahan Yesus tergantung di kayu salib? Paku? Tali? Prajurit Romawi? Bukan! Cinta-Nya kepada kitalah yang menahan-Nya di sana sampai Ia menyelesaikan penyelamatan kita semua (Matius 26:53-54, Yohanes 19:30).

Pahamilah alasan mengapa kita harus terus berjuang dan bertahan. Tuhan mengajak kita semua memberi diri untuk menyelamatkan sebanyak mungkin orang-orang dalam berbagai macam generasi. Membangun sebuah komunitas yang sehat untuk mereka bertumbuh dan berkembang dengan baik. Untuk itu kita perlu bekerjasama dalam sebuah tim yang kuat. Apakah Anda bersedia memberi diri melakukannya? Mematikan ego kita demi Kerajaan Allah? Amin. Tuhan memberkati!

28
Feb 2021
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
21
Feb 2021
Pdt. Johan Chrisdianto
14
Feb 2021
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
7
Feb 2021
Bp. Bambang Sulistyo