Ringkasan Khotbah

20
Des 2020
Ulangan 10:16
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.

Sunat, atau pemotongan kulit khatan pada lelaki, umumnya diidentikkan dengan bangsa atau agama tertentu. Namun, penelitian mencatat bahwa praktik sunat ternyata dijumpai di antara berbagai bangsa dan sudah ada di Indonesia sejak ratusan tahun yang lalu. Dalam budaya Jawa, ritual sunat dihayati sebagai upaya untuk memurnikan diri dan menghilangkan sukerto, yaitu hambatan, kotoran, atau kesialan manusia yang dibawa sejak lahir. Memang dari aspek medis, kulit khatan bisa menjadi tempat persembunyian kotoran, sehingga ketika dihilangkan, sejumlah risiko penyakit bisa dihindari. Di dalam Alkitab, sunat pertama kali disebutkan sebagai tanda perjanjian antara Allah dan Abraham. Tanda perjanjian berfungsi sebagai segel/meterai yang mengesahkan perjanjian tersebut, namun yang lebih penting dari meterai adalah isi/esensi perjanjian itu sendiri. Apakah isi/esensi perjanjian Allah dengan Abraham? Rencana Allah untuk menyelamatkan manusia yang hatinya dikuasai dosa. Seluruh umat manusia tidak berdaya berada di bawah perbudakan dosa (Markus 7:20-23, Yeremia 4:4). Tuhan berjanji kepada umat manusia bahwa Ia akan datang untuk menyelamatkan manusia dari kutuk dosa. Secara turun-temurun janji ini diwariskan kepada pewaris hak kesulungan Adam. Singkat cerita hak kesulungan diwarisi oleh Abraham, lalu turun kepada Ishak, kemudian dimiliki oleh Israel dan keturunannya yang menjadi sebuah bangsa. Israel dipilih untuk: A. Jalan penjelmaan Juruselamat dalam Wujud Manusia. B. Teladan hidup benar bagi segala bangsa. Untuk menjalankan sebuah tugas terpenting di alam semesta ini, Israel harus dikhususkan, tersendiri dibandingkan bangsa-bangsa lain. Mereka harus hidup dalam ketaatan pada hukum-hukum Tuhan. Saat mereka diperbudak di Mesir, Tuhan membebaskan mereka, membawa mereka berjalan menuju Tanah Perjanjian agar mereka dapat hidup di sana untuk melakukan tugas penyelamatan seluruh imat manusia sesuai rencana Allah. Mereka disunat secara fisik, namun sebenarnya Tuhan menghendaki mereka menyunat hati mereka. Memotong dan menyingkirkan kulit khatan hati/atau hal-hal yang membuat seseorang tidak hidup menghormati Tuhan. Namun sejarah mencatat bahwa bangsa itu justru tersesat. Sunat fisik dijalani, tetapi sunat hati tidak. Terjebak dalam ritual tanpa memahami inti dari maksud Allah. Mereka justru hidup dalam aneka macam dosa yang mengerikan, semua itu bersumber dari hati mereka yang tidak disunat. Dalam Ulangan 10, Musa memberi peringatan bahwa hampir saja mereka dimusnahkan karena kejahatan mereka, namun Tuhan memberi mereka kesempatan untuk bertobat (Ulangan 10:10-13). Lanjutan ayat itu adalah: sunatlah hatimu. Dengan kata lain begini: have an excellent heart. Memiliki hati yang bersih. Ingat: Matius 12:35.

Bagaimana kita dapat memiliki hati yang baik?

1Kenali dan buang sikap hati yang kotor. Sunat adalah tindakan memotong preputium yang berpotensi memproduksi smegma, yang jika tidak rutin dibersihkan akan menimbulkan masalah berupa infeksi. Ini melambangkan kehendak Tuhan agar kita mengenali dan membuang sikap hati yang kotor. Sikap hati yang salah jika dibiarkan dan dituruti akan menyebabkan manusia jatuh dalam dosa (Matius 15:18-19). Oleh karena itu kenali dan buang sikap hati yang kotor. Jika kita bisa mengenali preputium dapat menghasilkan masalah, kita tahu membereskannya. Seharusnya kita bisa mengenali sikap hati yang salah (1 Raja-raja 8:39). Tuhan mengenal hati manusia. Menguji hati: Apakah kita memelihara sikap hati yang salah? Galatia 5:19-21. Manusia bisa pakai topeng, tetapi Tuhan melihat hati (Mazmur 28:3).

2. Penuhi hati dengan kasih Tuhan. Musa mengingatkan bangsa Israel agar mereka mengingat kasih dan kebaikan Tuhan dalam hidup mereka. Musa berkata bahwa Israel mendapat kesempatan ke sekian untuk bertobat, ingat kasih sayang Tuhan yang besar. Tuhan Yesus menebus dosa kita dan memberi hati yang baru (Ibrani 9:14). Setelah itu isilah hati kita dengan kasih Tuhan. Jangan isi hati kita dengan hal-hal yang salah.Isilah dengan hal-hal yang mulia (Filipi 4:8). Amin. Tuhan memberkati!

28
Feb 2021
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
21
Feb 2021
Pdt. Johan Chrisdianto
14
Feb 2021
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
7
Feb 2021
Bp. Bambang Sulistyo