Ringkasan Khotbah

22
Nov 2020
Bilangan 18:2,5,8
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.

Rancangan/desain tata negara bisa berbeda-beda antara negara satu dengan yang lainnya. Untuk bangsa Israel, rancangan tata negara yang dibuat oleh Tuhan saat mereka berjalan menuju Tanah Perjanjian berdasarkan suku yang ada di Israel. Selain 12 suku Israel, ada suku Lewi. Total ada 13 suku, sebab suku Yusuf menjadi 2 suku yaitu Efraim danManasye.Tanah Perjanjian dibagi menjadi 12 bagian. Artinya yang seharusnya menjadi bagian suku Lewi dibagikan kepada 12 suku yang lain. Dua belas suku tersebut mendapat perintah untuk mengelola wilayah masing-masing dalam Tanah Perjanjian. Sepersepuluh dari hasil tanah milik Tuhan itu harus mereka kembalikan kepada Tuhan sebagai Pemilik mutlak Tanah Perjanjian. Itu bukan milik mereka tetapi milik Tuhan. Lalu Tuhan mengkhususkan orang Lewi untuk memelihara kerohanian umat Israel. Tuhan memberikan perpuluhan kepada suku Lewi sebagai penghargaan atas tugas mereka memelihara kerohanian orang Israel. Itu adalah hak mereka. Lagipula tanah milik yang seharusnya menjadi bagian Lewi diberikan kepada 12 suku lain. Lewi hanya menerima wilayah yang kecil untuk tempat tinggal mereka. Oleh karena mereka tidak memiliki tanah pusaka dan harus melakukan pekerjaan di kemah pertemuan (di mana selanjutnya mereka jugamelakukan pekerjaan di Bait Suci), maka Tuhan memberikan suku Lewi hak untuk menerima segala persembahan persepuluhan di antara orang Israel untuk membalas pekerjaan yang dilakukan mereka di kemah pertemuan (ay. 21). Itulah milik pusaka suku lewi sebagai ganti dari tidak adanya hak tanah pusaka milik mereka.

Tata kenegaraan ini bisa berubah sesuai situasi. Tuhanlah yang berhak merubahnya. Contoh: Kemah Suci digantikan Bait Allah pada zaman Salomo, tentu saja tugas orang Gerson, Kehat dan Merari jelas mengalami perubahan. Sebab tidak ada lagi bongkar pasang Kemah Suci. Ini adalah bukti adanya pewahyuan progresif. Pasal ini menjelaskan tentang kewajiban dan hak masing-masing pejabat Lewi pada zaman Musa. Tiga ayat pertama dalam pasal ini menjelaskan tentang kewajiban keturunan Harun dan orang-orang Lewi(Bilangan 18:1-3). Baru kemudian hak mereka dijabarkan dalam ayat-ayat berikutnya (Bilangan 18:20-21). Tuhan menghendaki seluruh orang Israel melakukan tugas dengan sebaik-baiknya dengan kualitas yang tinggi. Tiap-tiap suku memiliki kewajiban dan berkat masing-masing. Demikian pula suku Lewi, baik Imam Besar, para imam, dan seluruh klan Lewi harus melakukan tugas masing-masing dengan kualitas tinggi. Tidak boleh ada kesalahan yang terjadi dalam tugas mereka semuanya. Pekerjaan mereka harus berkualitas tinggi. Kualitas pribadi mereka semua dinilai Tuhan dari kualitas pekerjaan masing-masing,

Apa hikmah yang dapat kita petik dari Firman Tuhan hari ini?

1. Relasi terjalin baik jika kewajiban dan hak dihormati secara seimbang. Baik kewajiban maupun hak orang-orang Lewi serta seluruh suku Israel dijaga dengan baik. Negara menjadi aman tenteram. Namun apa yang terjadi? Suku-suku Israel mengabaikan kewajiban mereka. Akibatnya orang-orang Lewi meninggalkan tugas mereka agar dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Akibatnya kerohanian orang Israel terbengkalai. Lebih jauh lagi kualitas moral orang Israel semakin merosot, kekacauan dan perang saudara terjadi, mereka tidak bersatu dan menjadi bangsa yang lemah. Akibatnya mereka tidak bisa menikmati Tanah Perjanjian secara langgeng. Mereka terbuang dari tanah air mereka sendiri. Mereka tersebar ke negeri asing. Semua itu terjadi karena mereka mengabaikan kewajiban mereka terhadap Tuhan dan orang-orang Lewi.Ketika Nehemia memimpin mereka kembali ke negeri perjanjian, mereka kembali berniat mengabaikan kewajiban mereka, sehingga akibatnya orang Lewi kembali kehilangan fokus merawat kerohanian orang Israel (Nehemia 13:10-12). Kita bisa melihat di banyak tempat terjadi aneka macam kekacauan ketika kewajiban dan hak tidak dijaga keseimbangannya. Contoh: Dalam rumah tangga (1 Korintus 7:3).

2. Pribadi berkualitas tinggi mendahulukan kewajiban. Di mana-mana banyak orang lebih mendahulukan hak mereka daripada kewajiban.Alkitab mengajarkan kita untuk mendahulukan kewajiban kita daripada menuntut hak. Dalam pasal ini Tuhan mendahulukan pembahasan kewajiban Imam Besar, para imam, dan orang-orang Lewi terlebih dahulu sebelum membicarakan hak mereka (Ulangan 11:1)Jika mereka melakukan kewajiban dengan setia, berkat Tuhan menanti di depan mata, tetapi jika mereka tidak melakukan tugasnya dengan setia maka hukuman menanti mereka (Ulangan 11:8-9). Bagaimana mendahulukan kewajiban dalam kehidupan sehari-hari? Sebagai pasangan, sebagai orang tua, sebagai anak, sebagai bos dan pegawai. Apapun profesi kita, jadilah berkat. Contoh: Para dokter dan tenaga kesehatan berjuang merawat pasien-pasien dalam masa pandemi. Mereka mendahulukan kewajiban daripada hak mereka. Hormatilah mereka dengan cara menghargai apa yang mereka lakukan. Amin. Tuhan memberkati!

28
Feb 2021
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
21
Feb 2021
Pdt. Johan Chrisdianto
14
Feb 2021
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
7
Feb 2021
Bp. Bambang Sulistyo