Ringkasan Khotbah

19
Jul 2020
Kejadian 1:26-30
Ps. Benny Yulianto, S. Th.

Memasuki era modern, manusia cenderung bersikap individualistis dan egois, tidak lagi merasa bergantung dan peduli terhadap orang lain. Kemajuan teknologi menjadikan segala sesuatunya dapat dilakukan sendiri tanpa bantuan orang lain. Orang bisa asyik menikmati hidupnya sendiri tanpa kehadiran orang lain dan tidak mau diganggu. Hal ini terjadi bukan hanya di dalam kehidupan orang dunia saja tetapi sudah merambah di dalam kehidupan jemaat Tuhan. Sebagian orang Kristen tidak mau bergaul dengan jemaat yang lain dengan alasan tidak nyaman dan takut tersakiti hatinya maka mereka merasa lebih baik kalau sebagai jemaat hidup sendiri, menyendiri, dan untuk kepentingan diri sendiri. Apakah hal ini sejalan dengan kebenaran firman Tuhan? Mari kita melihat pentingnya sebuah relasi (hubungan):

1. Relasi adalah hakekat Allah (Kejadian 1:26a). Kata “kita” adalah bentuk jamak atau lebih dari satu. Sebelum Allah menciptakan manusia, Allah telah berkomunikasi dengan diri-Nya dalam ketritunggalan-Nya: Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita,” Relasi ini juga nampak di dalam pernyataan Kasih-Nya antara Pribadi yang satu dengan Pribadi yang lain. Allah cukup dengan kasih-Nya dan tidak tergantung dengan kasih manusia. Sekalipun manusia tidak mengasihi Allah, Allah tidak kekurangan kasih sebab Kasih-Nya sempurna (Yohanes 3:35, Yohanes 5:20). Allah telah mengawali penciptaan-Nya dengan sebuah relasi. Jadi relasi merupakan hal yang penting sebab relasi merupakan hakekat Allah yang menjadi dasar untuk kita membangun sebuah relasi (hubungan).

2. Relasi nampak dalam karya ciptaan-Nya (Kejadian 1:27). Dalam karya ciptaan-Nya juga diawali dengan sebuah relasi yaitu manusia pertama, Adam dan Hawa. Adam diberi Hawa untuk membangun sebuah relasi agar tidak hidup sendiri dan dapat bekerja sama (Kejadian 2:18). Pada prinsipnya, manusia tidak dapat hidup sendiri dan menyendiri sebab manusia yang hidup sendiri itu tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Manusia butuh teman untuk saling menolong sebab mereka membutuhkan dan dibutuhkan orang lain. Relasi dibangun untuk saling tolong menolong dan bekerja sama. Seperti Hawa diciptakan untuk menolong Adam demikian pula pasangan suami istri saling menolong. Begitu pula sebagai gereja Tuhan, jemaat sebagai tubuh Kristus butuh orang lain untuk saling menolong dan tidak dapat hidup sendiri.

3. Relasi yang dibangun oleh Tuhan memiliki tujuan (Kejadian 1:26-28). Relasi dibuat bukan tanpa tujuan tetapi ada tujuannya. Hawa dihadirkan dalam hidup Adam dengan tujuan untuk mengelola semua yang ada di bumi (Kejadian 2:15). Tuhan mempersatukan dua insan dalam pernikahan memiliki tujuan. Sementara sebagian orang Kristen menikah tidak memiliki tujuan. Gereja Tuhan dibentuk untuk sebuah tujuan menggenapi Amanat Agung-Nya, maka gereja tidak boleh keluar dari panggilan-Nya. Dalam menggenapinya tentu tidak dapat dilakukan sendiri tetapi butuh orang lain untuk bekerja sama baik secara lokal maupun universal. Relasi tanpa tujuan seperti sebuah rangkaian mesin yang dongkrok dan tidak menghasilkan apa-apa.

4. Relasi yang dibangun Tuhan tidak dapat digantikan (Kejadian 2:18). Kata "sepadan" artinya "selaras". Setelah Allah melihat semua ciptaan-Nya tidak ada satu pun yang sepadan dengan Adam maka diciptakanlah Hawa dari tulang rusuk Adam. Allah memberikan seorang wanita yang bernama Hawa untuk menjadi pasangan yang sepadan sebab tidak ada ciptaan yang lain yang sepadan. Ironisnnya manusia akhir zaman tidak mau lagi bersahabat atau berpasangan dengan yang sepadan. Mereka lebih suka dengan benda mati atau hewan. Pada kodrat ilahinya, orang percaya adalah tubuh Kristus yang tidak dapat dipisahkkan dan digantikan dengan yang lain (1 Korintus 12:27). Pada masa pandemi, ibadah diadakan secara online dan jika jemaat merasakan tidak enak maka itu hal yang wajar sebab kita adalah tubuh Kristus yang satu sama lain saling membutuhkan, tidak bisa jika terus menerus tidak bertemu dan hanya mengandalkan media elektronik, maka diperlukan kehadiran secara fisik yang dapat memberi penghiburan dan sukacita.

5. Relasi yang dibangun Tuhan itu bersiifat kekal (kejadian 2:24). Satu daging artinya tidak dapat dipisahkan. Dalam pernikahan Kristen tidak ada kata cerai, kalau pun ada perceraian itu adalah kehendak manusia bukan kehendak Tuhan. Demikian pula relasi jemaat Tuhan akan dibawa sampai kekekalan. Di surga kita akan ber-fellowship dengan Tuhan dan orang-orang percaya dalam kebahagiaan kekal (Wahyu 21:3-4).

Marilah kita belajar membangun hubungan sekalipun di sana sini masih ada ketidakcocokan satu sama lain. Sadarlah bahwa kita ada dan dihadirkan dalam gereja-Nya untuk tujuan Amanat Agung-Nya. Amin!

2
Agu 2020
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
26
Jul 2020
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
19
Jul 2020
Ps. Benny Yulianto, S. Th.
12
Jul 2020
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.