Ringkasan Khotbah

12
Jul 2020
Kejadian 2:18
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.

Subtema kita 2 bulan ini adalah Relasional. Minggu lalu kita diingatkan untuk membangun relasi yang konsisten dengan Tuhan, dan ini akan tercermin dalam hubungan kita dengan sesama. Jika kita memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan, maka hubungan dengan sesama akan menjadi lebih baik. Jika hubungan dengan sesama tidak baik maka hubungan dengan Tuhan pasti tidak baik, jika hubungan dengan sesama rusak tetapi masih merasa hubungan dengan Tuhan baik-baik saja maka itu hanya perasaan saja.

Sekarang kita melihat satu contoh relasi yang dirancang Tuhan dalam Alkitab. Tidak baik, kalau manusia (Adam) itu seorang diri saja! Tuhan merancang Adam bukan untuk hidup sendirian, bekerja sendirian, mengambil keputusan sendirian. Tuhan menciptakan Hawa untuk mendampingi Adam, menjadi penolong yang sepadan. Jadi Tuhan menciptakan seorang wanita untuk bersanding dengan Adam. Tuhan merancang mereka hidup berdampingan. Tetapi kita perlu tahu bahwa bersanding bukan berarti duduk bersebelahan, tidur bersebelahan, berjalan bersebelahan. Apa gunanya duduk berdampingan tetapi tidak dipedulikan? Tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan? Tidak ada pembicaraan atau komunikasi? Tidak ada gunanya. Mengapa Adam perlu ditolong? Adam punya kelemahan. Setiap manusia punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kelebihan kita berguna untuk menolong kekurangan pasangan kita, bukan untuk mencela. Tuhan merancang Hawa menjadi penolong yang sepadan dengan Adam. Ketika bumi dimusnahkan dengan air bah, manusia mendapat kesempatan untuk kembali melestarikan generasinya di muka bumi melalui nabi Nuh. Contoh: Tuhan memerintahkan Nabi Nuh berjalan bersanding dengan istrinya (Kejadian 8:15-19). Dalam kata bersanding kita dapat melihat ada nuansa menghargai, melindungi, mengasihi, melibatkannya dalam hidup sehari-hari. Urutan yang diperintahkan Tuhan: 1. Nuh dan istrinya, 2. Anak-anak Nuh dan istri masing-masing. 3. Penumpang bahtera yang lain. Tetapi prakteknya: 1. Nuh dan anak-anaknya, 2. Istri Nuh dan menantu-menantunya, 3. Penumpang bahtera yang lain. Nuh tidak berjalan berdampingan dengan istrinya, ia malah meninggalkan istrinya di belakang. Meninggalkan istri di belakang mengandung sebuah kesan kurangnya rasa hormat, kasih, perlindungan dan keterlibatan dalam hidup. Apa akibat tindakan Nuh tersebut? Seorang anak Nuh bernama Ham tidak menghormati orang tuanya! Terjadi sebuah tragedi yang mengerikan.

Dua unsur dalam hidup bersanding:

1. Saling mengenal dan saling mengasihiSALING MENGENAL: Apa gunanya hidup seatap tetapi punya kehidupan dalam dunia masing-masing? Ada banyak orang yang memiliki pasangan, tetapi tidak pernah berbagi perasaan, tidak pernah bisa saling mengerti perasaan dan isi hati masing-masing. Bagaimana bisa saling mengenal jika tidak ada komunikasi yang baik? Mendengarkan dengan sungguh-sungguh dan bijaksana merupakan sebuah hal yang sangat penting dalam komunikasi. Komunikasi yang buruk selalu berakhir dengan kesalahpahaman dan pertengkaran. Perhatikan: A. Sikap hati dan sikap tubuh penuh perhatian, empati, dan jaga kontak mata yang baik. B. Suasana hati. Pastikan kesiapan hati pasangan kita ketika akan diajak bicara. Jika suasana hati belum baik, perbaiki dulu. C. Tanggapan terbuka. Jangan segera ingin mengakhiri pembicaraan, jangan menggurui,dan meremehkan. Tindakan kita yang kita kira mengasihi pasangan justru dapat berakibat merusaknya jika kita tidak mengenalnya dengan baik. Anda tidak dapat mengasihi tanpa mengenal. Di dalam hubungan jenis lain seperti antara orang tua dan anak, berbagi perasaan merupakan sebuah hal yang sangat penting untuk dimiliki. SALING MENGASIHI: Mengasihi dan mencintai umumnya dikaitkan dengan perasaan. Jika saya mengasihi seseorang, itu berarti saya mempunyai perasaan cinta terhadapnya. Apa tindakan saya terhadap yang saya kasihi? Saya mengusahakan kesenangannya dan menjauhkannya dari segala kesulitan dan penderitaan. Namun, pandangan seperti ini, karena tidak lengkap, dapat merugikan orang yang kita kasihi, karena kasih semacam ini adalah kasih yang merusak, kasih yang memanjakan, dan kasih yang tidak mendidik. Apa yang dapat kita pelajari dari kasih Allah? Kasih sejati adalah membangun, memberikan kehidupan yang sesungguhnya. Pewujudan kasih di dalam Alkitab dapat berupa mengarahkan orang yang dikasihi ke jalan yang benar, mengembangkan potensi manusianya, dan mengiringi jalannya untuk menjadi semakin mirip dengan Kristus. Dalam kerangka ini pula, kita dapat memahami apa itu mengkritik dan menegur dengan kasih. Kelebihan kita untuk menolong kelemahan pasangan kita. Jangan bandingkan kelebihan kita dengan kekurangan pasangan kita, apalagi memaksakannya memiliki kelebihan yang sama dengan kita. Mengasihi berarti melindungi (Rut 3:9). Idiom “mengembangkan sayap untuk melindungi” artinya menikahi, kasih sayang dalam pernikahan dibuktikan dengan perlindungan.

2. KeterlibatanMengambil keputusan dan bertindak bersama-sama. Inilah makna saling menolong. Adam mendapatkan tugas/mandat dari Tuhan untuk mengelola, menaklukkan dunia ini. Tuhan tahu bahwa Adam tidak bisa melakukannya seorang diri saja, ia punya kelemahan yang harus ditopang oleh istrinya. Berjuang bersama-sama, menaklukkan tantangan bersama-sama. Libatkan pasanganmu dalam keputusan yang Anda buat. Ini adalah sebuah bentuk kasih yang seringkali tidak diketahui oleh banyak orang. Banyak orang menyangka ia mengasihi pasangannya dengan cara mengerjakan segala sesuatu sendirian dan pasangan hanya menerima hasilnya saja. Pasangan yang sering tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan bisa merasa tidak berguna, tidak diperlukan, tidak dihargai, diremehkan, dan akhirnya bisa merasa tidak dicintai. Ternyata berkebalikan dengan pola pikir bahwa pasangan akan senang jika semuanya disediakan secara instan. Hanya ada rambu-rambu agar tidak kacau, contoh: Rahasia jabatan tetap tidak boleh diceritakan pada pasangan jika tidak ada korelasinya. Jika dalam hal ini pasangan merasa tidak dilibatkan maka itu perasaan yang salah. Amsal 31 memberitahu kita bagaimana seorang istri yang terlibat dengam bijaksana dalam kehidupan suaminya (Amsal 31:23).

2
Agu 2020
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
26
Jul 2020
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
19
Jul 2020
Ps. Benny Yulianto, S. Th.
12
Jul 2020
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.