Ringkasan Khotbah

28
Jun 2020
Efesus 5:8
Ps. Benny Yulianto, S. Th.

Memasuki kehidupan new normal maka masyarakat mulai belajar untuk membiasakan diri dengan kebiasaan-kebiasaan yang baru, mulai dari memakai masker ketika berada di tempat umum, rajin untuk mencuci tangan, menjaga jarak, menerapkan pola hidup sehat dengan berolah raga, dan berhati-hati ketika berada di tempat-tempat umum. Semuanya itu dilakukan demi menjaga diri dari penyebaran virus covid19. Tentu hal ini tidaklah mudah dan pada awalnya seperti terbebani, serasa tidak dapat bebas lagi untuk beraktifitas karenaadanya sesuatu yang baru dan belum terbiasa. Maka, perlu sebuah kesadaran mengapa kita harus melakukan kebiasaan baru seperti ini sehingga kita akan melakukannya dengan senang hati dan bukan merasa terbebani guna mencapai sebuah kebaikan kita semua. Dalam menghadapi sebuah perubahan, membutuhkan upaya yang tidak mudah. Perubahan membutuhkan sebuah komitmen berdasarkan pengertian yang benar. Tanpa komitmen yang didasari pengertian yang benar akan, perubahan sulit terjadi.

Melalui kejadian ini, kita diingatkan akan kebenaran firman Tuhan atas keadaan kerohanian kita yang juga membutuhkan sebuah perhatian yang serius, sama seperti kita memperhatikan keadaan lahiriah kita. Jika untuk yang lahiriah saja kita bisa sedemikian menjaganya dan rela untuk melalukan perubahan gaya hidup demi kebaikan, bagaimana dengan kehidupan rohani kita yang jauh lebih berharga? Kita tahu bahwa orang-orang yang telah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat adalah orang-orang yang telah memiliki kehidupan yang baru (new life) dari gelap berpindah kepada terang (Efesus 5:8). Kita semua yang telah menjadi percaya adalah orang-orang yang telah dikaruniai keselamatan, namun tidak berhenti sampai di situ. Ada tanggung jawab yang harus dilakukan untuk menjaga dan memelihara keselamatan itu agar kita tidak menjadi lemah iman dan meninggalkan keselamatan tersebut (Filipi 2:12). Seperti saat ini, memasuki masa new normal, kita semua masyarakat melakukan kebiasaan-kebiasaan yang baru, demikian juga sebagai orang percaya yang hidup dalam kehidupan yang baru. Semua membutuhkan proses dan tidak instan, membutuhkan waktu untuk bisa menjadi terbiasa dengan kebiasaan-kebiasaan yang baru dan baik.

Kebiasaan-kebiasaan baru apa saja yang kita lakukan dalam new life (hidup yang baru):

1. Hidup di dalam kasih (Efesus 5:2). Mulai belajar membiasakan diri untuk mengasihi dengan peduli dan menolong orang lain dengan kerelaan berkorban bagi jemaat yang membutuhkan dan tidak menjadi masa bodoh (Galatia 6:2, Roma 15:1).

2. Melindungi diri dari kecemaran dosa (Efesus 5:3-5). Setiap orang mulai membiasakan diri dengan memakai masker demi menjaga diri dari virus-virus mematikan, demikian pula hidup rohani kita yang sudah diperbaharui. Kita harus menjaga perkataan-perkataan kita dari perkataan-perkataan yang kotor, kosong atau sembrono yang hanya akan mencemari kehidupan rohani kita dan jika diabaikan dapat menyebabkan kematian rohani. Sebagai orang yang telah hidup di dalam terang, marilah kiita mulai membiasakan mengucapkan perkataan-perkataan yang membangun, menguatkan, dan menyemangati orang lain sehingga kita dapat menjadi berkat bagi orang lain.

3. Membiasakan diri hidup bijaksana (Efesus 5:15-17). Dalam menjalani new normal harus benar-benar memperhatikan dan berhati-hati, dihimbau agar jangan ngeyel tetapi jadilah bijak dalam menyikapi peraturan-peraturan yang ada. Demikian pula hidup rohani kita setelah lahir baru harus menaati firman Tuhan dan tidak ngeyel jika ingin hidup kita diberkati. Kalimat: "perhatikanlah dengan saksama bagaimana kamu hidup, jangan seperti orang bebal tetapi seperti orang  arif". Kata saksama berbicara tentang teliti atau sungguh-sungguh serius bukan hanya sepintas saja (Mazmur 90:12). Hidup bijaksana itu bisa mengerti mana-mana yang menjadi prioritas, mana-mana yang baik, dan mana-mana yang berguna sehingga dalam mempergunakan waktu tidak menjadi sia-sia. Kita hidup dengan waktu yang singkat jadi harus dipergunakan dengan berharga terutamadalam melakukan kehendak Tuhan.

4. Membisakan diri melakukan hal yang rohani (Efesus 5:19-20). Dalam menjalani new normal, kita diajarkan untuk melakukan hal-hal yang baik yang berguna bagi kesehatan lahiriah kita. Demikian pula orang yang telah lahir baru hendaknya membangun kebiasaan-kebiasaan baru yang rohani; seperti memuji Tuhan, baca Alkitab, bersekutu dalam doa, dan bukan hanya memikirkan perkara-perkara lahiriah saja. Memikirkan pelayanan bagi anak sekolah Minggu dan lansia yang sekarang hampir tidak bisa beribadah di gereja sehingga kehilangan persekutuan dengan saudara seiman. Inilah tugas para gembala atau leaders dalam mengawasi dan selalu mengedukasi serta mengingatkan jemaat untuk hidup tertib rohani demi kesehatan dan pertumbuhan rohani jemaat (Kolose 2:5). Untuk menghadapi new normal, orang bisa berdoa dengan sungguh-sungguh dan berharap masyarakat bisa menjalani dengan baik, begitu pula untuk kehidupan rohani yang baru, orang percaya seharusnya berdoa lebih lagi bagi para petobat-petobat baru agar bisa menghidupi firman Tuhan sebagai tatanan baru bagi hidup mereka.

Untuk hal yang lahiriah orang bisa sangat berhati-hati dan mau bayar harga, bagaimana dengan yang rohani? Hendaknya orang percaya lebih serius memperhatikannya. Sebagai orang yang telah hidup di dalam terang Kristus hendaknya kita hidup sesuai dengan kehendak Tuhan yaitudalam kehidupan yang baru. Amin!

2
Agu 2020
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
26
Jul 2020
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
19
Jul 2020
Ps. Benny Yulianto, S. Th.
12
Jul 2020
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.