Ringkasan Khotbah

21
Jun 2020
WAHYU 3:1-6
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.

Ada hal yang sangat unik terjadi di kota Sardis dan Jemaat Kristen di Sardis dalam Sejarah. Kota ini sudah mengalami masa kejayaan pada tahun 700 SM dan merupakan ibukota Kerajaan Lydia. Pada zaman Raja Kroesus, mereka memiliki kekayaan yang luar biasa. Kota itu terkenal kaya dan merupakan lambang kemewahan. Raja Kroesus sekitar tahun 549 SM berniat menyerang Persia, ia mendengar pendapat seorang peramal yang mengatakan bahwa jika ia menyeberang sungai Halys maka ia akan menghancurkan sebuah kerajaan besar. Ia mengira bahwa ia akan mengalahkan Persia saat menyeberang sungai itu, padahal maksudnya ia akan menghancurkan kerajaannya sendiri. Saat ia menyerang Persia,ia terdesak, dan mundur kembali ke Sardis dengan dikejar tentara Persia yang marah. Benteng Sardis sangat sulit untuk dikalahkan, sebab kota itu terletak di atas tebing terjal yang sulit untuk didaki. Hanya ada 1 jalan masuk ke kota itu yang hanya diketahui oleh pihak Sardis. Kroesus merasa aman di sana, ia bahkan tidak menempatkan penjaga dalam jumlah banyak di tembok. Tetapi suatu kali seorang tentara Sardis tidak sengaja menjatuhkan topi bajanya, lalu ia mengambilnya lewat jalan rahasia yang ternyata diamati oleh tentara Persia. Malam harinya tentara Persia heran, ketika memasuki kota itu lewat jalan rahasia, ternyata tentara Sardis tidak berjaga-jaga. Kroesus dikalahkan dan kota itu jatuh ke tangan Persia. Kota itu dari luar tampak sangat kuat dan tidak terkalahkan, tetapi sesungguhnya kota itu sangat lemah karena watak manusia-manusia yang tinggal di dalamnya. Kehancuran total hanya masalah waktu. Tetapi anehnya 300-an tahun kemudian, kota ini ditaklukkan kembali dengan jalan dan cara yang persis sama seperti zaman Kroesus. Kota itu ditaklukkan oleh Antiokhus. Jadi kota itu mengulang kesalahan yang sama. Dua kali jatuh ke tangan musuh karena kesalahan yang sama persis. Untuk mencegah hal yang sama terjadi ketiga kalinya, masyarakat Sardis memiliki slogan/semboyan yang diucapkan ketika mereka bertemu seorang dengan yang lain. Slogan itu adalah “Berjaga-jaga”. Uniknya 300-an tahun kemudian, gereja Tuhan di Sardis ternyata juga melakukan kesalahan yang secara prinsip sama persis. Pengalaman dua kali ditaklukkan dengan cara yang samadan slogan rakyat tentang berjaga-jaga rupanya tidak berhasil membuat orang percaya di Sardis hidup waspada. Tuhan Yesus menegur mereka secara langsung dalam Wahyu 3. Teguran itu juga sama: “Berjaga-jaga”. Kondisi umum jemaat Sardis secara umum tidak ada bedanya dengan masyarakat Sardis secara umum:

 

Tuhan memberi mereka peringatan agar bertobat. Bertobat artinya berbalik arah menuju arah yang benar. Namun Tuhan juga melihat bahwa ada beberapa anggota jemaat di Sardis yang tidak ikut-ikutan hidup dalam dosa, mereka ini digambarkan tidak mencemarkan pakaiannya, tetapi berjalan dalam pakaian putih yaitu kebenaran. Orang-orang ini dipuji oleh Tuhan, nama mereka tidak akan dihapus dalam Kitab Kehidupan, diperkenan tinggal dalam Kerajaan Surga.

Apa hikmah dari firman Tuhan hari ini?

1. Hati-hati terhadap rasa aman yang palsu. Jebakan optimisme melahirkan rasa aman yang palsu.Masyarakat Sardis, sebagian besar anggota jemaat di sana tanpa sadar jatuh dalam jebakan optimisme. Mereka sedang menipu diri mereka sendiri tanpa menyadarinya. Siapapun yang terjebak pasti kesulitan untuk menyelamatkan dirinya. Jadi jangan sampai terjebak. Kroesus optimis bahwa bentengnya takkan bisa ditembus tentara Persia, itu membuatnya tidak waspada.Ia tidak menempatkan tentara dan berjaga-jaga. Jemaat Sardis merasa bahwa menjadi Kristen sudah cukup, mereka merasa bahwa tidak menjaga kekudusan tidak apa-apa. Mereka lupa bahwa celah dosa yang kecil sekalipun bisa menjatuhkan mereka hingga akhirnya kehilangan keselamatan. Jemaat Sardis merasa diri kuat dan bisa bertahan, ini namanya optimisme, bukan beriman! Ingat renungan yang pernah saya sampaikan di awal tahun ini “Iman vs Optimisme”. Apa dasar optimisme? Tidak ada. Apa dasar iman? Firman Tuhan. Iman = Memercayai yang Tuhan katakan. Dalam setiap keputusan apapun, taati firman Tuhan.Optimisme menghasilkan rasa aman yang palsu, tetapi iman menghasilkan rasa aman yang benar. Ketika membuat perhitungan dalam perencanaan, pikirkanlah akibat yang paling buruk yang mungkin terjadi, bukan kemungkinan yang paling baik (Lukas 14:28-33). Dalam bekerja, hati-hati dengan optimisme. Itu bisa menyebabkan seseorang mengambil keputusan yang ceroboh, keputusan yang lahir dari pemikiran yang tidak cukup matang (Yakobus 4:13-15). Dalam memilih mengambil keputusan apapun, hati-hatilah dengan optimisme.

2. Berpikir ulang danberbalik arah. Tuhan berkata kepada jemaat Sardis untuk bertobat (Wahyu 3:2-3). Arti dari perintah Tuhan adalah renungkanlah keputusan-keputusan dan tindakan yang kita perbuat, lihatlah hasil yang kita tuai dari semuanya itu. Awal pertobatan/berbalik arah adalah merenungkan apakah kita terpengaruh dengan pengajaran, kebiasaan yang kita dengar atau lihat. Jalan hidup manusia dipengaruhi nilai kebenaran yang ia percayai, itulah sebenarnya kita perlu berhenti sejenak untuk merenungkan apakah nilai kehidupan yang kita jalani sudah sesuai dengan firman Tuhan atau belum. Direnungkan ulang, ingat bahwa semua pemikiran itu mempengaruhi keputusan dan kelakuan kita. Jemaat Sardis rupanya merasa tidak ada yang salah dari gaya hidup masyarakat Sardis pada umumnya, ketika ini terjadi maka mereka memandang hal yang salah sebagai sebuah kebenaran, akhirnya ini mempengaruhi gaya hidup mereka. Jika kita sudah salah melangkah, dan tersesat semakin jauh, segeralah berbalik arah selagi masih ada kesempatan untuk kembali (Ibrani 12:16-17). Jangan sampai terjebak pada sebuah titik di mana tidak ada lagi kesempatan untuk dipulihkan, di mana saat itu maju kena mundur juga kena. Jemaat Sardis terjebak pemikiran bahwa mereka sudah aman karena sudah beragama Kristen, mereka membiarkan gaya hidup cemar masyarakat Sardis waktu itu menjadi gaya hidup mereka juga. Itulah sebabnya dikatakan tidak satupun dari pekerjaan mereka atau perbuatan mereka sempurna di hadapan Tuhan, maksudnya tidak tuntas. Jika mereka tidak bertobat maka nama mereka bisa dihapus dari Kitab Kehidupan. Dihapus artinya sebelumnya pernah dituliskan di sana, ini merupakan teguran keras bagi mereka. Artinya jemaat di Sardis diberi kesempatanuntuk berbalik arah. Tujuannya agar nama mereka tetap tertulis dalam Kitab Kehidupan. Contoh: Dalam masa pandemi ini kita disarankan untuk menaati seluruh protokol pemerintah untuk keamanan bersama. Ketaatan sebagian sangat berbahaya. Memakai masker tetapi dengan cara yang salah seperti lubang hidung tidak terlindungi sama saja dengan tidak memakai masker. Demikian pula dengan melepas memasang masker berulang kali. Atau memakai masker dengan benar tetapi Cuci tangan tetapi tidak memakai sabun, atau waktu terlalu cepat sama saja tidak bersih. Masalahnya,ketaatan sebagian membuat orang sudah merasa aman, ini sebenarnya menipu diri sendiri! Cobalah berpikir ulang. Amin!

2
Agu 2020
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
26
Jul 2020
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
19
Jul 2020
Ps. Benny Yulianto, S. Th.
12
Jul 2020
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.