Ringkasan Khotbah

3
Mei 2020
1 Timotius 2:1, 8-10
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.

Core Values atau nilai inti gereja kita yang ketiga adalah biblical, artinya: Kita berkomitmen untuk menghidupi setiap bagian dari firman Tuhan, dan membangun jemaat yang hidupnya berlandaskan prinsip-prinsip Alkitabiah. Setiap keputusan, perkataan, dan tindakan kita haruslah lahir dari nilai-nilai firman Tuhan yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari (Matius 28:19-20). Target pertobatan bukan hanya mengetahui kebenaran firman Tuhan, tetapi melakukan atau hidup sesuai nilai-nilai firman Tuhan. Hidup yang sesuai nilai firman Tuhan kita kenal sebagai tertib hidup keselamatan.

Jemaat di Efesus sedang mengalami keadaan yang sulit, di sana ada sekelompok orang yang mengajarkan ajaran-ajaran lain yang tidak sehat, melenceng dari iman Kristiani, dan tidak sesuai prinsip-prinsip Alkitab. Akibatnya beberapa jemaat terseret di dalam pola hidup yang salah, pola hidup yang melenceng dari rancangan Tuhan. Mereka menyebut diri mereka Kristen, tetapi kelakuan mereka tidak sesuai dengan nilai Kristiani. Seorang rasul bernama Timotius mendapat tugas untuk menasihati orang-orang yang mengajarkan ajaran yang tidak sesuai prinsip Alkitab tadi agar mereka berhenti mengajarkan ajaran-ajaran tersebut (1 Timotius 1:3-4). Jika Anda membuka rumah makan dan Anda pasang spanduk jual bakso, tetapi ketika orang masuk Anda tidak jual bakso tetapi jual pecel bukankah itu membuat orang yang masuk jadi bingung? Demikian pula jika Anda menyandang nama Kristen, tetapi jika hidup kita tidak Kristen apa itu tidak membuat orang jadi bingung? Nasihat yang harus diajarkan oleh Timotius dalam 1 Timotius 2 sebenarnya untuk mengoreksi keadaan kacau yang sedang terjadi di dalam jemaat Efesus, agar mereka menjadi Kristen sejati. Nasihat ini juga ditujukan bagi semua orang percaya.

Nasihat apa yang diberikan?

1. Peduli pada sesama dan bersyukur(1 Timotius 2:1-4). Jemaat diajarkan untuk: A. Berdoa dan bersyafaat (peduli). B. Bersyukur. Sebelumnya, para pengajar yang kacau telah mengajarkan sebuah pola hidup yang bertolak belakang dengan nasihat tersebut. Akibat dari pengajaran menyimpang yang jemaat dengar itu, jemaat menjadi peduli pada diri mereka sendiri, berdoa bagi diri mereka sendiri, dan mereka tidak bersyukur atas keadaan yang mereka lihat di sekitar mereka.Nilai hidup Kristen adalah peduli pada sesama dan hidup dalam pengucapan syukur. Ketika kita melihat keadaan masyarakat di sekitar kita, kita juga dapat mengenali kelemahan-kelemahan yang ada, demikian juga dalam pemerintahan, mungkin kita melihat satu dua hal yang tidak sesuai dengan yang kita kehendaki atau tidak cocok dengan pola pemikiran kita. Ketika melihat dua hal tersebut, kita bisa memberikan dua tanggapan: A. Apatis dan bersungut-sungut. B. Tetap mengasihi dan hidup dalam pengucapan syukur. Ketika kita disakiti, dirugikan, direpotkan, reaksi alamiah kita adalah marah, ingin membalas, dll. Boro-boro mendoakan mereka atau bersyafaat bagi mereka, mungkin melihat wajah mereka saja kita malas. Tetapi Tuhan tidak menghendaki kita melakukan hal tersebut. Allah adalah kasih, dan Allah menghendaki kita mengasihi orang-orang tersebut. Apa isi doa Tuhan Yesus bagi orang-orang yang menyalibkan-Nya? Lukas 23:34. Apa isi doa Stefanus bagi orang-orang yang memfitnah dan merajamnya? Kisah Para Rasul 7:59. Bagaimana reaksi Nabi Habakuk ketika melihat bahwa kenyataan yang ia lihat belum sesuai dengan yang ia doakan? Ia tetap bersyukur. Habakuk melihat ketidaksempurnaan para pemimpin bangsa Yahudi, para pemuka agama, dan bahkan nabi dan seluruh rakyat Yahudi, ia memperjuangkan mereka dalam doanya, tetapi ia belum melihat ada perubahan yang baik. Tetapi Habakuk percaya bahwa pada waktu-Nya, Tuhan dapat mengubahkan keadaan (Habakuk 3:17-19). Orang yang mengucap syukur kepada Tuhan sebenarnya sedang menyatakan imannya kepada Tuhan bahwa Tuhan Maha Tahu, Maha Bijaksana, bahwa Tuhan berkuasa atas hidupnya, ia percaya bahwa Tuhan tahu saat atau waktu yang tepat menjawab doanya, Tuhan tahu jalan yang harus dilalui untuk mencapai kemenangan, Tuhan tahu apa yang harus dialami umat-Nya untuk mendidik umat-Nya menjadi dewasa. Jangan menilai keadaan dari sepotong peristiwa saja. Kadang Tuhan mengizinkan satu kemunduran untuk membawa seribu kemajuan. Pelajaran dari bangsa Israel pada era Musa, mereka gagal masuk tanah perjanjian karena terus bersungut-sungut mengenai keadaan. Mereka maunya enak terus, enak saja, tidak bersedia dilatih, dididik oleh Tuhan. Siapa yang tidak emosi menuntun bangsa seperti itu? Musa saja yang sangat lembut hatinya sampai teledor karena emosi (Mazmur 106:32-33). Kadang ketika kita melihat keadaan di sekitar kita tidak ideal, kita tergoda membandingkan keadaan kita dengan keadaan orang lain, negara lain, dll. Itu semua tidak membawa manfaat apapun, justru sebaliknya itu bisa merusak rasa syukur dalam hati kita, menyebabkan kita tidak bisa melihat berkat yang Tuhan berikan kepada kita, yang tidak dimiliki orang lain. Lebih baik kita melakukan sesuatu yang bermanfaat, yaitu tetap mendoakan bahkan bersyafaat bagi para pejabat, dan bahkan untuk semua orang. Ini yang akan mendatangkan perubahan.

2. Setiap orang percaya harus berfungsi sesuai panggilannya. Bukan hanya menyandang nama Kristen, tetapi harus hidup secara Kristen. Laki-laki (Suami) berdoa dengan menadahkan tangan yang suci, tangannya tidak boleh berlumuran dengan kekerasan. Wanita (istri) bukan tidak boleh memakai baju mahal, perhiasan, merubah model rambut, secara mutlak, tetapi di sini ditekankan bahwa wanita-wanita Kudus atau Kristen berdandan bukan dengan mengandalkan semuanya itu, tetapi berhias dengan menggunakan karakter atau watak yang baik. Boleh berdandan dengan perhiasan dan lain-lain, tetapi itu bukan yang utama, yang utama adalah dengan inner beauty, atau kecantikan batiniah. Menjadi istri yang tunduk pada suami, istri yang melakukan tugasnya sebagai seorang istri. Wanita-wanita Kristen harus membuktikan pertobatannya dengan hidup sesuai tugas dan kodratnya sebagai wanita yang lembut dan tunduk pada otoritas suaminya. Dengan kata lain, semua orang percaya harus berfungsi sesuai panggilannya masing-masing. Kita bisa melihat dengan jelas bahwa akibat dari pengajaran yang menyimpang dari para pengajar yang salah mengakibatkan jemaat hidup tidak tertib, tidak berfungsi sesuai kodratnya. Contoh kasus dalam kehidupan sehari-hari: A. Istri berkata hormat kepada Tuhan, tetapi tidak hormat pada suaminya. Ini jelas salah (1 Petrus 3:4). Kasih kepada Allah diwujudkan dengan menghormati suami, mengasihi istri, dll. Bagaimana jika suami tidak menunjukkan kehidupan yang bisa dihormati? Melakukan hal-hal yang tidak terpuji? Memaksa istri melakukan sesuatu di luar firman? Jika perintah yang diberikan menyebabkan dosa, boleh tidak taat, tetapi tetap dengan sikap menghormati. Sulit memang, tetapi bukan berarti tidak bisa dilakukan.B. Seorang berkata ia mengasihi Tuhan, tetapi tidak mau memperbaiki hubungan dengan sesamanya (1 Yohanes 4:20-21). Berfungsilah sebagai warga negara yang baik, pasangan yang bertanggung jawab, anak yang menghormati orangtua, orang Kristen yang menjadi berkat bagi sesama, pekerja yang jujur dan menghargai majikan, majikan yang menghargai hak dan kehormatan pekerja, penegak hukum yang menjalankan tugas dengan baik, pejabat yang jujur dan mengusahakan kesejahteraan rakyat, dll. (Lukas 3:14). Jangan sampai orang bertanya kepada kita “Katanya Kristen? Kok kelakuannya tidak Kristen?” Tuhan memberkati!

5
Jul 2020
Bp. Bambang Sulistyo, M.Th.
28
Jun 2020
Ps. Benny Yulianto, S. Th.
21
Jun 2020
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
14
Jun 2020
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.