Liputan Video

Setia Sampai Akhir

Yehezkiel 23:2


Di dalam janji pernikahan Kristen ada sebuah kalimat yang sangat menarik yaitu sampai maut memisahkan. Yang menggambarkan bahwa komitmen pernikahan itu setia sampai akhir.

Hubungan antara Allah dan manusia seringkali di dalam Alkitab dilambangkan seperti komitmen antara suami dan istri di dalam pernikahan. Dimana Tuhan yang digambarkan sebagai suami menggambarkan umat-Nya sebagai istri, yaitu harus setia kepada satu Tuhan. Tuhan itu hanya ada satu. Tindakan menyembah berhala seringkali digambarkan sebagai tindakan perzinahan.

Di dalam Yehezkiel 23:2 dikatakan “Hai anak manusia, ada dua orang perempuan, anak dari satu ibu.”

Maksudnya mereka lahir dari keturunan yang sama; yaitu sama-sama keturunan Yakub atau Israel. Lalu lahirlah dua bangsa. Yang pertama bangsa Israel dengan ibukotanya Samaria, dalam pasal ini digambarkan sebagai Ohola. Dan kemudian Yehuda dengan ibukotanya Yerusalem digambarkan sebagai adiknya Ohola, yaitu gadis yang bernama Oholiba. Rupa-rupanya Ohola dan Oholiba ini sama-sama tidak setia kepada Tuhan sebagai suaminya. Tindakan mereka menyembah berhala dipicu dari ketika mereka melihat bangsa-bangsa lain yang kuat, tampak menyenangkan, tampak hebat secara ekonomi; karena mereka mempunyai berhala-berhala yang hebat. Maka demi mendapatkan status seperti itu, keadaan seperti itu maka mereka rela juga ikut menyembah berhala bangsa-bangsa itu. Tindakan mereka yang tidak setia menyembah Tuhan ini digambarkan sebagai tindakan persundalan atau perzinahan. Dan Tuhan berkata di dalam pasal ini mereka akan dihukum, mereka akan berhenti dari segala tindakan persundalannya melalui disiplin yang Tuhan berikan. Di sini kita bisa melihat bahwa Tuhan menghendaki kita sebagai umat-Nya setia menyembah-Nya. Setia sampai akhir.

Di dalam zaman para rasul ketika mereka semua orang-orang percaya dianiaya, mereka bertahan, mereka setia sampai akhirnya. Di dalam zaman modern ini apa yang kita bisa ambil sebagai hikmah dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kehidupan sehari-hari sering kali kita dibenturkan dengan keduniawian, misalnya kalau Anda berdagang; orang itu kalau tidak curang-curang dikit mana mungkin dia bisa untung, dia berpikir aku tidak bisa dagang, tidak bisa jualan, tidak bisa untung dong. Detik itu kita diperhadapkan kita pilih setia, jujur dan bijaksana atau kita juga ikut-ikut menggila seperti orang-orang itu; tidak jujur demi mendapat keuntungan. Kalau kita setia kepada Tuhan, kita tetap harus jujur, tetapi kita juga perlu menjadi orang yang bijaksana. Sebenarnya kalau kita jujur dan kita bijaksana, kita bisa kog masih mendapatkan untung, kita bisa kog jual beli, kita bisa kok berdagang, tidak perlu ikut-ikutan dengan cara yang salah. Menipu demi keuntungan, mencelakai orang lain demi mengejar keuntungan yang tidak halal.

Saya membaca berita; ada orang yang ketika mereka menjual gorengan, mungkin mereka menambah gorengannya dengan bahan-bahan yang sebetulnya berbahaya. Tetapi yang mereka pikirkan yang penting kan ini renyah, laris, perkara nanti orang yang memakannya itu celaka atau tidak itu urusan belakangan. Inilah sebuah semangat yang salah; yaitu mereka pokoknya mengejar untung, pokoknya aku yang nomor satu. Detik ini orang-orang seperti ini mereka tidak setia kepada Firman Tuhan.

Di dalam hidup kita sehari-hari setia sampai akhir. Kesetiaan kita kepada Tuhan itu dibuktikan dengan mempertahankan hidup sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran Alkitab.

Tuhan Yesus memberkati!

10
Nov 2019
Ps. Benny Yulianto, S. Th.
3
Nov 2019
Bp. Bambang Sulistyo, M.Th.
27
Okt 2019
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
20
Okt 2019
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.