Liputan Video

Apakah Yang Lebih Pedas Dari Cabai?

Amsal 15:1

 

Kata-kata pedas membuat kita tampak tidak berkelas. Apakah pernyataan ini pedas?

Apakah yang lebih pedas daripada cabai? Yaitu perkataan kita.

 

Amsal 15:1 berkata “Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah.

Kalau kita berhadapan dengan orang yang emosi dan berkata-kata keras dan kasar, emosinya bisa mereda jika kita menanggapinya dengan lemah lembut. Tetapi jika kita terbawa emosi dan kemudian kita ikut berkata-kata yang keras dan kasar kepadanya maka pertengkaran yang lebih besar akan tidak terhindar.

Tetapi sebaliknya orang kadang-kadang ada yang bertanya begini “Kenapa ya istriku kok tiba-tiba marah? Kenapa ya kok suamiku tiba-tiba marah tanpa sebab?” Orang ini mungkin tidak tahu bahwa kata-kata yang disampaikannya meskipun mungkin hanya sepatah kata itu pedas sekali. Maka benarlah kata Amsal “Perkataan yang pedas membangkitkan marah”

Contohnya begini ya, ada orang berkata “Kamu kan hanya lulusan SMA.” Ini satu kalimat tapi menusuk dan merendahkan harga diri orang. Mungkin orang ini tidak tahu bahwa orang yang tidak sekolah sekalipun belum tentu dia lebih jelek daripada orang yang memiliki pendidikan yang tinggi Kenyataannya pendidikan yang tinggi tidak menjamin orang tau etika atau tidak. Belum tentu lulusan S3 lebih berkelas daripada yang tidak punya pendidikan formal. Kenyataan di dunia banyak mengatakan bahwa orang-orang yang tau etika itu bukan ditentukan oleh tingkat pendidikannya.

Saudara sekalian, daripada kita membangkitkan amarah orang dan kita tidak tau nanti kalau dia marah itu akibat buruknya seperti apa, marilah kita berkata-kata dengan lembut. Tetapi apakah kita sama sekali tidak boleh berkata-kata pedas? Sebetulnya juga tidak. Kadang-kadang ketika kita bertemu dengan orang yang memang diberi penjelasan dengan lembut dan halus tidak bisa berubah. Maka kata-kata pedas yang terkendali itu sesekali memang perlu. Tetapi jangan kemudian kita berkata-kata pedas setiap hari. Yang saya maksudkan konteks dari renungan ini adalah jangan kita dalam keseharian kita terus berkata-kata pedas. Itu akan menimbulkan masalah komunikasi dengan orang lain.

Sebagai anak-anak Tuhan, mari kita berkata-kata yang membangun orang lain. Maka pastikan ambil waktu satu dua menit ke depan untuk merenung. Kenapa ya kog mungkin pasangan kita, orang tua kita, atau anak-anak kita kok ga enak ya sikapnya terhadap kita? Jangan selalu berpikir mereka yang salah. Jangan-jangan kita yang berkata-kata pedas terhadap mereka.

Mari kita berdoa kepada Tuhan seperti doa yang saya naikkan setiap hari. Ketika saya bangun tidur saya berdoa begini “Tuhan berjagalah pada pintu bibirku. Jangan sampai perkataanku ini melukai hati orang lain. Aku mau jadi berkat lewat perkataanku hari ini.

Tuhan memberkati!

14
Apr 2019
di Ruang Baptis
Pkl. 11:00
22
Apr 2019
di Ruang Ibadah
Pkl. 18:00
28
Apr 2019
di Ruang Ibadah
Pkl. 08:30
24
Mar 2019
Ps. Ary M. Wibowo (JPCC)
17
Mar 2019
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
10
Mar 2019
Ps. Rizki Madayu, S. S.
3
Mar 2019
Ev. Suryo Supeno