Ringkasan Khotbah

16
Feb 2020
Kisah Para Rasul 26:2
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.

Semua orang pasti ingin berbahagia. Bahagia artinya perasaan senang, tenang, tentram, dan pikiran yang bebas dari kesusahan. Banyak orang mengartikan dan mempunyai pikiran bahwa bahagia itu adalah punya kepemilikan yang banyak, bahagia adalah punya uang yang banyak, punya tanah yang banyak, harta yang banyak, bahkan ada yang berkata bahwa bahagia itu adalah jika tidak ada masalah apa-apa atau tidak ada problem. Kalau kita mengartikan bahagia seperti yang tersebut di atas atau kalau itu benar, kenapa orang yang kaya masih merasa susah, bersungut-sungut, stres, marah-marah, dan emosi? Jawabannya, bisa jadi karena yang dikejar adalah kepemilikan dan kekayaan. Bekerja terus mengejar uang namun tidak memperhatikan keluarga dan kesehatan, sehingga ada istilah: “bisa memiliki tetapi tidak bisa menikmati”. Sangat kaya, banyak harta, tetapi gelisah, cemas dan bimbang. Maka dari itu, orang yang kaya belum tentu bahagia.

Lain halnya dengan Paulus di Kis. 26:2, Paulus berkata di hadapan Raja Agripa, aku yaitu Paulus, merasa bahagia. Perasaan bahagia Paulus bukan karena Paulus mempunyai emas yang banyak atau uang yang banyak. Paulus ini sedang ada dalam persidangan, ia dituduh menista agama Yahudi. Dari luar sidang, kedengaran di telinga Paulus perkataan: “Hukum seberat beratnya, hukum mati saja, orang yang menista agama kita, yaitu agama orang Yahudi”. Paulus sedang menjalani persidangan namun wajah Paulus tidak seperti orang stres, bahkan dia malah senyum-senyum, tidak kuatir, tidak cemas, dan tidak bingung. Padahal Paulus diancam kalau dia akan dirajam batu dan dibunuh.

Bagaimana memiliki hidup bahagia? Yaitu memiliki konsep berpikir yang selaras dengan Tuhan. Paulus memandang bahwa semua yang dialaminya bukan hanya sekedar kesulitan, tetapi justru merupakan kesempatan untuk:

A. Belajar percaya dan berserah pada pimpinan Tuhan. Dengan adanya persidangan itu ternyata menjadi kesempatan bagi Paulus untuk menyampaikan INJIL kepada Raja Agripa, justru dalam persidangan ini, Paulus bisa bersaksi tentang Yesus dan menyampaikan firman Tuhan kepada Raja Agripa, maka dari itu Paulus dalam hidupnya belajar percaya dan berserah pada pimpinan Tuhan. Di Kisah Rasul 9:15-16, Paulus baru bertobat, sudah diberitahu bahwa untuk memberitakan nama Yesus, akan banyak mengalami penderitaan.

B. Mengalami kuasa dan pertolongan Tuhan. Di Kisah Rasul 21:10-13, Paulus diberitahu oleh nabi AGABUS, bahwa nanti waktu Paulus memberitakan Injil ke bangsa bangsa dan ke raja-raja, akan banyak mengalami penderitaan, sehingga murid murid yang lain merasa ketakutan dan berkata kepada Paulus jangan pergi ke Yerusalem, tetapi Paulus tidak berfokus kepada penderitaan, aniaya atau ancaman, tetapi Paulus berfokus kepada YESUS dan perintah-Nya (Kis. 22:21, Kis. 27:21-25). Dengan gaya hidup berfokus kepada YESUS, sekalipun mengalamu keadaan tidak enak, mau dibunuh, Paulus tidak terpengaruh, melainkan Paulus tetap merasa BAHAGIA. Hal ini tidak mudah untuk dilakukan, tetapi marilah kita belajar seperti Paulus, mempunyai konsep berpikir yang selaras dengan Tuhan. Tuhan memberkati. Amin!

22
Mar 2020
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
15
Mar 2020
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
8
Mar 2020
Pdt. Johan Chrisdianto
1
Mar 2020
Bp. Bambang Sulistyo, M.Th.