Ringkasan Khotbah

27
Okt 2019
Matius 3:6-10
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.

Dalam kehidupan ini tentunya kita ingin barang yang asli, bukan yang palsu tentunya. Kecuali ada orang tua yang giginya sudah ompong atau lepas, tentunya diganti gigi palsu. Ada sebuah gaya bahasa yaitu  Majas/Metafora. Majas menggunakan kata-kata yang bukan arti sebenarnya atau kata kiasan berdasarkan untuk melengkapi gaya bahasa. Contoh: Anak-anak adalah tunas bangsa yang akan menjadi agen perubahan untuk negeri itu. Tunas adalah biasa digunakan pohon pisang yaitu tunas pohon pisang.

METAFORA PERTAMA: Kejadian 3:6. Metaforma 2 pohon di Alkitab: A. Pohon Kehidupan = Lambang Tuhan Yesus. B. Pohon Pengetahuan = Lambang Setan. Hawa percaya kepada Setan, sehingga makan Buah Pohon Pengetahuan. Hawa mempengaruhi Adam sehingga Adam dan Hawa memusuhi Allah (Kejadian 3:14-15). Ular sebenarnya tidak makan debu tanah, kecuali ayam makan debu dan tanah, maksudnya makan debu dan tanah adakah kesia-siaan. Tuhan akan melawan iblis melalui rahim perawan Maria.

METAFORA KEDUA: Keturunan Perempuan dan Keturunan Ular. Maria itu gadis, perawan, padahal Maria bertunangan dengan Yusuf. Tahap Pertama: ERUSIN artinya ketemu tidak boleh tinggal bersama sama dalam 1 tahun, menjaga kekudusan. Tahap kedua: NISUIN, sudah disahkan secara umum. Dalam tahap yang pertama, Yusuf melihat kok sudah hamil Maria, Yusuf itu orangnya baik, diam-diam mau meninggalkan Maria. Datanglah Malaikat Gabriel berkata pada Yusuf bahwa Maria masih gadis, masih suci. Tuhan Yesus menggenapkan Metaforma yang pertama tadi. Maria dipinjam rahimnya untuk Yesus lahir.Ketemu ular itu siapa? Yohanes Pembaptis sedang membaptis. Orang bertobat dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Datanglah kelompok orang Saduki dan Farisi, minta dibaptis. Yohanes Pembaptis berkata “Hai kamu keturunan ular beludak, jangan berpikir bahwa kamu adalah keturunan Abrsham, memang secara biologis bahwa orang Saduki dan Parisi adalah keturunan Abraham, tetapi kamu itu adalah keturunan Setan,” Menjadi anak Allah adalah karena iman, taat akan firman Tuhan. Orang Saduki adalah orang orang elite politik, dekat dengan pemuka pemuka Roma yang memelihara hukum Taurat. Orang farisi adalah kelompok pedagang pedagang menengah, sehingga dekat dengan rakyat. Dua kelompok tersebut adalah musuh yang abadi.Dua kelompok,dua kubu bisa jadi satu ada persamaan. Tetapi tindakan, keputusan,dan tingkah laku dua kelompok tersebut tidak jadi berkat, maka disebut Ular beludak. Kita dapat disebut Anak Allah yang Asli, dapat dilihat dari: tutur kata, tindakan, perbuatan, maka baru disebut Anak Allah yang asli. Bukan secara biologis, tetapi Iman.

Apa Hikmah yang dapat dipetik dari firman Tuhan hari ini?

1.  Anak Allah artinya berasal dari Allah. Waktu kita parkir mobil, mau pulang, mobil kita tidak bisa keluar karena posisi mobil yang di depan dan di belakang sangat dekat sehingga kita tidak bisa keluar, nunggu dulu. Kalau kita marah, tidak bisa memberi pengampunan, dapat dilihatapakah kita ini adli atau palsu (Yesaya 1:13-14). Kelompok yang mengikuti ritual, tetapi hatinya tidak berubah, ini menjijikan Tuhan.

2.   Kesempatan untuk bertobat dan menaati Allah telah disediakan.Semua ritual itu penting, tetapi hati jahat/tidak berubahitu sia-sia adanya.Contoh:Di gereja memuji Tuhan,di luar juga memuji Tuhan.Di gereja murah hati, di luarjuga murah hati. Di gereja bersukacita, di luar juga bersukacita/jangan bersungut sungut (Filipi 3:7-9).Orang Farisi tidak berubah, bahkan menyalibkan Tuhan Yesus.Tetapi Saulus yang bertobat jadi Paulus bisa berubah hati, yang dulu jahat, sekarang punya hati yang mengasihi.

Apakah kita ini asli Anak Allah akan dapat dilihat dari sikap tutur kita, perbuatan,dan tingkah laku.Ritual itu penting, tetapi yang terpenting adalah perubahan hidup. Bukti kalau kita ini asli Anak Allah, dapat dilihatdi kehidupan setiap hari, dari: Tutur kata, Kelakuan, Perbuatan,dan Tingkah laku kita. Sehingga kita menjadi berkat. Amin!

10
Nov 2019
Ps. Benny Yulianto, S. Th.
3
Nov 2019
Bp. Bambang Sulistyo, M.Th.
27
Okt 2019
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
20
Okt 2019
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.