Ringkasan Khotbah

8
Sep 2019
AMOS 4:4-5
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.

Tahukah Anda, istilah “dilulu” dalam bahasa Jawa? Itu artinya diperintahkan untuk terus melakukan yang awalnya dirasa benar oleh yang diperintah, meskipun sebenarnya itu salah, tujuannya agar orang tersebut menyadari kesalahannya. Contoh: “A” dikenal sebagai orang yang sukamembohongi temannya, lalu ayahnya menasihati dia “terus saja membohongi teman-temanmu, sampai kamu tidak punya teman”. Sebenarnya ini merupakan bentuk peringatan bahwa jika ia terus membohongi teman-temannya maka lama-kelamaan teman-temannya akan meninggalkannya sehingga ia tidak punya teman lagi.

Dalam Ayat bacaan di atas kita melihat bahwa bangsa Israel sedang “dilulu” oleh Tuhan. Mengapa mereka dilulu? Karena mereka tidak mau berubah meskipun dinasihati berulang kali dengan cara yang lembut maupun keras. Meskipun “kata maaf dan penyesalan terucap” tetapi mereka tidak benar-benar berubah. Mereka kembali terus melakukan apa yang mereka sukai.

Pernahkah Anda mengajar seseorang untuk melakukan sesuatu dengan cara A, tetapi kemudian kembali lagi melakukannya dengan caranya sendiri yang salah dan menghancurkan. Geregetan tidak? Itulah kelakuan bangsa Israel era Nabi Amos. Mereka beribadah kepada Tuhan dengan cara yang salah, namun mereka berpikir itu sudah benar karena tertulis demikian dalam kitab Taurat. Semua ritual keagamaan dijalankan, semua upacara keagamaan diikuti, tetapi moral tidak berubah. Mereka sudah merasa cukup suci dengan melakukan ritual keagamaan tersebut. Konyol sekali. Mereka tidak sadar bahwa ibadah yang mereka lakukan di hadapan Tuhan justru sangat jahat. Bayangkan saja jika kekasih Anda berkata cinta kepada Anda terus-menerus tetapi terus menyakiti Anda dan tidak setia, bukankah ini lebih kejam daripada tidak berkata cinta dan sekalian saja mencintai yang lain.

Ibadah yang mereka lalukan adalah ibadah yang jahat di hadapan Tuhan, itulah yang menyebabkan Tuhan menegur mereka dengan sangat keras.

Apa hikmah yang dapat dipetik dari hal tersebut :

1. Ritual tanpa perubahan hidup adalah ibadah yang jahat. Mengasihi Tuhan melalui ritual itu baik, tetapi lebih baik lagi mengasihi Tuhan dalam keseharian. Lebih baik mencintai melalui perbuatan, daripada selalu berkata cinta tapi terus-menerus menyakiti dan mengkhianati. Contoh: Saul berpikir bahwa jika ia mempersembahkan korban bakaran, maka Tuhan senang. Saat itu Saul mendapat perintah untuk memusnahkan orang Amalek sekalian dengan ternak mereka, tetapi rakyat tidak setuju, mereka membujuk Saul untuk menyelamatkan ternak, dan untuk apa ternak itu dimusnahkan? Masalahnya bukan pada ternaknya, tetapi Tuhan sedang menguji hati Saul dan bangsa Israel, sejauh mana mereka mentaati Tuhan! Menghadapi tekanan rakyat Saul menyerah, ia menyelamatkan ternak orang Amalek. Ia berpikir: “Ah,kan semua ini untuk dipersembahkan kepada Tuhan, jadi tidak apa-apalah berimprovisasi sedikit, yang penting nanti memberi korban bakaran untuk Tuhan.” Saul gagal memahami bahwa yang dikehendaki Tuhan adalah ketaatan, bukan persembahan. Semua ritual korban bakaran untuk penghapusan dosa bukanlah soal manusia memberi kepada Tuhan, sebaliknya itu justru berarti Tuhan berkorban bagi manusia! Binatang yang tidak bersalah yang dikorbankan melambangkan tuhan yang tidak berdosa mengorbankan dirinya untuk menebus dosa manusia.Saul gagal paham. Ia berpikir bahwa dirinya danbangsa Israel sedang berkorban bagi Tuhan. Memang dalam Taurat dituliskan bahwa manusia harus memberikan ternak sulung yang mereka terima dari Tuhan untuk ritual itu, sekilas pandang memang mereka sedang memberi kepada Tuhan, tetapi bukankah mereka menerima semuanya itu juga dari Tuhan? Memberi memang baik, melakukan ritual itu baik, tetapi lebih baik lagi mengalami perubahan hidup sesuai Firman Tuhan (1 Sam15:15-23). Ritual modern: Memberi persembahan, itu baik, tetapi esensinya adalah jangan hitung-hitungan pada Tuhan. Perjamuan Kudus itu baik. Tapi jangan dipermainkan, persiapkan hati sungguh-sungguh.Bertobat, ampuni orang yang menyakiti hatimu dengan sepenuh hati (1 Kor. 11:27-32). Kasus jemaat Korintus: A. Perpecahan.B. Egois/mementingkan diri sendiri. Ada yang terlalu kenyang, ada yang kelaparan. Tidak peduli pada sesama anggota tubuh Kristus! Ambil bagian dalam Perjamuan Kudus tetapi tidak mengakui, tidak menghormati kesatuan tubuh Kristus, tetap saling membenci, tidak mau memaafkan, dll. Hati-hati dalam hal ini. Memberi bagi pekerjaan Tuhan itu baik, tetapi jangan lupa minta maaf kepada orang yang kita sakiti (Mat. 5:23-24).

2. Cara menyembah Tuhan sesuai Firman, bukan semau kita. Contoh: Yerobeam memulai ibadah baru semau hatinya. Tuhan mengutus nabi Ahia untuk memberitahu Yerobeam bahwa Tuhan memilihnya menjadi raja, asalkan ia taat dan setia seperti Daud, maka Tuhan akan membangunkan baginya keturunan seperti keturunan Daud (1 Raj. 11:37-38). Sayangnya Yerobeam tidak mempercayai Tuhan sepenuhnya, bahkan ia merusak rakyat dengan mendirikan ibadah kepada Tuhan tetapi dengan cara yang amburadul, seperti penyembahan berhala yang dilakukan bangsa lain (1 Raj. 12:25-33). Bangsa Israel menyukai cara mereka menyembah Tuhan, yaitu dengan ritual.Padahal Tuhan tidak suka! Jika Anda memiliki mobil berbahan bakar bensin dan saya pinjam, lalu saya isi dengan solar kualitas terbaik, apakah Anda rela? Tentu tidak, sebab meskipun saya mengisinya dengan solar terbaik dengan harga termahal, itu justru akan merusak, sebab tidak sesuai dengan spesifikasi mobil Anda. Mengasihi orang lain bukan semau kita, tetapi cara nya sesuai dengan kebutuhan orang tersebut. Ada orang yang merasa dikasihi jika: A. Dipuji, bukan digombali. B. Diberi sentuhan fisik, bukan bermaksud seksual. C. Diberi benda sederhana dan perhatian D. Diberi waktu yang berkualitas, bisa bertukar pikiran hati ke hati. Orang yang berkebutuhan dipuji, tetapi ia tidak menerima itu dan hanya diberi sentuhan fisik, tidak akan merasa dicintai. Jangan heran jika orang yang Anda kasihi merasa tidak dicintai meskipun Anda memberi segala kemewahan kepada mereka, mungkin perlu dievaluasi, jangan-jangan kebutuhannya adalah pujian yang tulus (Yak. 2:15-16). Demikian pula mengasihi Tuhan, tidak boleh semau gue. Tuhan menghendaki hati kita penuh kesadaran bahwa kita orang berdosa yang telah menerima pengampunan, penebusan. Akibat kesadaran itu membuat kita menjadi orang yang: A. Berusaha menaati Firman Tuhan karena ucapan syukur. B. Mengampuni orang lain dengan sepenuh hati. C. Memberi kepada Tuhan dan sesama yang memerlukan. Amin!

21
Sep 2019
di Halaman Parkir GPA Solo
Pkl. 07:00 - 12:00
23
Sep 2019
di Ruang Ibadah
Pkl. 18:00
28
Sep 2019
di Ruang Ibadah
Pkl. 09:00
15
Sep 2019
Ps. Benny Yulianto, S. Th.
8
Sep 2019
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
1
Sep 2019
Bp. Bambang Sulistyo, M.Th.
25
Agu 2019
Pdt. Julius Anthony