Ringkasan Khotbah

28
Jul 2019
Yehezkiel 39: 21-23
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.

Anda yang sudah menjadi orangtua tentu saja akan mengasihi anak-anak Anda dengan cara mendidik mereka. Ada berbagai macam cara mendidik mereka, bisa melalui nasihat, ajaran, koreksi, peragaan, disiplin atau bahkan hukuman. Orang lain tidak memiliki wewenang untuk menghukum selama anak-anak Anda tidak melakukan yang salah kepada mereka. Contoh: Suatu hari saya membeli sebuah mainan yang bagus untuk anak saya yang besar, agar dia bisa bermain dengan gembira karena itu adalah mainan kesukaannya. Namun suatu hari dia melakukan sebuah perbuatan yang salah, dan karena dinasihati tidak berubah maka saya mendisiplin dia dengan cara mengambil kembali mainan tersebut untuk sementara waktu, dan saya berkata bahwa saya akan mengizinkan dia memainkannya kembali jika ia sudah menunjukkan perbaikan dalam hal yang salah tadi. Ketika saya sudah berjanji maka saya harus menepatinya. Jika saya tidak menepatinya maka saya akan memiliki reputasi yang tidak baik di depan mata anak saya. Apa yang akan terjadi bila ada orang lain yang ingin memiliki mainan tersebut/ merebutnya dengan paksa, apakah saya akan membiarkan hal tersebut? Tentu tidak, sebab saya telah berjanji kepada anak saya untuk memberikan mainan tersebut menjadi miliknya selama ia menuruti peraturan. Merusak reputasi saya di depan anak saya sama saja dengan tindakan menyerang pribadi dan harga diri saya secara tidak langsung.

Demikian pula Tuhan pernah berjanji untuk memberikan Tanah Perjanjian kepada Israel selama mereka hidup menuruti aturan Tuhan yang dituliskan dalam Perjanjian yang disebut Taurat. Israel adalah anak Allah. Tuhan berjanji bahwa mereka boleh tetap tinggal di Kanaan ketika mereka mau hidup menuruti aturan Tuhan, tetapi jika mereka terus memberontak dan tidak mau bertobat maka Tuhan akan menghukum mereka.

Tuhan menghukum Israel dan Yehuda karena dosa mereka, dengan cara membuang mereka ke negeri asing, dan setelah proses pendidikan itu selesai maka mereka akan dibawa kembali untuk tinggal di tanah milik Tuhan. Tetapi bangsa-bangsa lain menolak kenyataan itu, mereka menginginkan tanah perjanjian menjadi milik mereka, lalu menindas dan merampasi Israel. Mereka menutup mata terhadap kebenaran bahwa tanah itu adalah milik Tuhan yang dikhususkan bagi Israel. Janji Allah kepada leluhur Israel (Ula. 30:1-5). Ketika Israel dan Yehuda bertobat dan dipersatukan kembali dan hidup dalam damai, justru Gog memimpin sejumlah besar pasukan koalisi dari beberapa bangsa untuk menyerang Israel (Yeh. 38:10-12). Jika koalisi Gog berhasil menghancurkan Israel maka mau dikemanakan reputasi Tuhan yang telah berjanji kepada umat-Nya untuk memelihara mereka di Tanah Perjanjian? Tindakan Gog dan khalayak ramai bangsa-bangsa yang mengikutinya adalah tindakan yang menodai kekudusan Nama Tuhan! Serangan terhadap Nama Tuhan sama dengan menyerang Reputasi dan Pribadi Allah (2 Tim. 2:2). Tuhan tidak akan membiarkan kekudusan-Nya dinodai (Yeh. 39:6-7).

Nama Tuhan adalah Nama yang mulia dan harus dihormati, ditinggikan, sama sekali tidak boleh diremehkan/dihina. Dua pihak yang menyerang reputasi Tuhan: A. Israel dan Yehuda. Dengan cara menyembah berhala dan melanggar semua perjanjian Tuhan. Akibatnya Tuhan mendisiplin mereka. Dan ketika mereka sadar maka Allah memulihkan keadaan mereka di Tanah Perjanjian. B. Bangsa-bangsa lain (Gog dan beberapa kerajaan koalisinya). Dengan cara menyerang Israel dengan maksud menguasai wilayahnya. Dulu ketika umat Tuhan harus dihukum karena dosa mereka, nama Tuhan seakan dicemarkan, sekarang ini kekudusan-Nya ditegakkan dengan cara menggagalkan rencana jahat musuh. Tuhan membawa umat-Nya kembali ke tanah milik Tuhan, tetapi bangsa-bangsa lain tidak terima, mereka ingin tetap tinggal di sana dan menguasai tanah milik Tuhan. Tindakan mereka menyerang Israel secara keroyokan akan digagalkan Tuhan.

Gog digambarkan sebagai seorang pemimpin negara yang akan mengadakan koalisi dengan beberapa negara yang lain untuk menyerang Israel, pada masa Israel sedang dalam keadaan damai. Tindakan ini adalah tindakan yang jelas melawan Tuhan. Itulah sebabnya dalam Yehezkiel kita melihat nubuatan bahwa Gog dan seluruh tentara dari beberapa bangsa yang mengikutinya akan dihancurkan secara total. Digambarkan bahwa untuk menguburkan mayat mereka diperlukan waktu selama 7 bulan, ini menggambarkan betapa banyaknya jumlah pasukan yang menyerang Israel. Persenjataan yang mereka bawa akan gagal, dan malah menjadi kayu bakar bagi Israel, artinya mendatangkan keuntungan bagi Israel. Di sini kita melihat bahwa Allah Israel adalah Pribadi yang setia terhadap ikatan perjanjian-Nya dengan leluhur Israel. Ikatan perjanjian itu mengharuskan Allah bukan saja menghukum, tetapi juga memulihkan kondisi moral dan rohani bangsa Israel yang telah bobrok. Dengan menundukkan bangsa-bangsa, umat Allah akan mengakui bahwa Tuhan adalah Allah yang penuh kasih setia. Ketika Israel dipulihkan, nama Allah akan ditinggikan di tengah-tengah umat-Nya. Bangsa Israel akan melihat wajah Allah bersinar atas mereka. Semua tindakan Tuhan ini dilakukan dengan tujuan agar: A. Israel mengenal Tuhan. B. Bangsa-bangsa lain mengetahui rencana dan otoritas Tuhan. Bangsa-bangsa yang tadinya tidak mengakui campur tangan Allah dalam sejarah dunia dan sejarah Israel akhirnya akan dicelikkan matanya dan sadar.

Apa hikmah yang dapat kita petik dari kisah ini? Menghormati Nama Tuhan dengan cara: 

1. Menaati Tuhan dalam perkataan dan perbuatan. Israel dan Yehuda tadinya tidak menghormati Tuhan karena mereka mencemari negeri itu dengan tindakan mereka yang jahat dan amoral. Perjanjian Baru mengajar kita mengasihi Tuhan dengan segenap hidup kita dan mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri (Mat. 22:37-40). Sudahkah perbuatan dan perkataan kita sehari-hari memuliakan Tuhan?

2. Mengasihi sesama. Ketika kita melihat orang lain sedang dididik oleh Tuhan, kita tidak perlu ikut-ikutan mengejek, menyerang atau bahkan menghukum, itu bukan wewenang kita, itu adalah wewenang Tuhan (Gal. 5:14; 1 Kor. 13:7). Apa tindakan praktis yang seharusnya kita lakukan ketika melihat seorang saudara seiman berbuat dosa? (Gal. 6: 1-:2). Amin.

21
Okt 2019
di Ruang Ibadah
Pkl. 18:00
27
Okt 2019
di Ruang Ibadah
Pkl. 09:00
13
Okt 2019
Ps. Benny Yulianto, S. Th.
6
Okt 2019
Bp. Bambang Sulistyo, M.Th.
29
Sep 2019
Pdt. Emanuella (Ngawi)
22
Sep 2019
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.