Ringkasan Khotbah

23
Jun 2019
YEHEZKIEL 4:3
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.

Israel menanam banyak sekali tanaman di tempat-tempat tandus, yang sebenarnya mustahil untuk ditanami. Setelah itu banyak negara lain yang mengadakan banyak penelitian untuk melakukan hal yang serupa. Dengan kemajuan teknologi mereka mengalahkan kemustahilan. Bahkan ada Sahara Project, yaitu sebuah proyek menanam tanaman pangan di salah satu tempat terkering dan terpanas di bumi ini. Hasil teknologi tersebut sangat luar biasa.

Kini kita akan melihat bagaimana Tuhan memakai Nabi Yehezkiel untuk menanam di lahan tandus, menanam di tanah gersang. Bukan menanamkan aneka macam tumbuhan, tetapi menanamkan Firman dalam benak orang Yahudi, yang hatinya keras. Hati manusia digambarkan seperti macam-macam tanah (Luk. 8:11-15).Kondisi bangsa Yahudi era Yehezkiel: Tidak mau mendengarkan Tuhan dan nabi-nabi-Nya. Jadi berbicara kepada mereka adalah percuma (Yeh3:7). Berbicara kepada mereka tidak berguna, karena tidak didengarkan. Sedikit berbicara lebih baik, terutama jika Tuhan yang menyuruh Yehezkiel berbicara kepada mereka sesuai waktu Tuhan. Yehezkiel tidak diperkenankan berbicara terlalu banyak kepada orang Yahudi (Yeh3:26-27).Yehezkiel tidak bisa berbicara kepada bangsa Yahudi kecuali jika Tuhan menyuruhnya berbicara.

Telingabangsa Yahudi menolak mendengarkan Tuhan, maka Tuhan memakai cara lain agar mereka memahami hati Tuhan, yaitu dengan cara teatrikal/peragaan. Peragaan apa? 1. Pengepungan Yerusalem terjadi karena Tuhan. Lempengan besi menggambarkan ketegaran hati umat Tuhan menolak teguran dan ajaran Tuhan. 2.Pembuanganbangsa Yahudi di antara bangsa-bangsa lain dan  hidup dalam kenajisan. Untuk apa Tuhan menyuruh Yehezkiel melakukan peragaan?  Dengan berbagai cara Tuhan memberi peringatan kepada orang Yahudi melalui peragaan dengan tujuan menyadarkan mereka (Yeh3:21). Meski sebenarnya Tuhan murka, namun Ia tetap berusaha menyadarkan orang-orang Yahudi agar bertobat. Tuhan sebagai Bapa yang baik berusaha keras menyadarkan umat-Nya. Kasih Bapa dilihat dari bagaimana Tuhan sebenarnya menahan murka-Nya dan masih memberi kesempatan agar umat-Nya bertobat. Kasih Nya ditunjukkan melalui mendidik lewat cara-cara yang unik. Perintah Tuhan yang harus ia jalankan yaitu berbaring pada sisi kiri dan kanan selama 390 + 40 hari lamanya. Di mana satu hari melambangkan satu tahun. 390 hari yang melambangkan 390 tahun merupakan rentang waktu mulai saat ketidaksetiaan Salomo sampai pada runtuhnya Yerusalem. Sedangkan 40 hari melambangkan 40 tahun melambangkan masa pemerintahan Manasye yang jahat, yangmengizinkan penyembahan berhala, sampai masa pertobatannya. Jadi total ia harus berbaring selama 430 hari yang melambangkan 430 tahun ketidaktaatan dan ketidaksetiaan umat Tuhan. Betapa sabarnya Tuhan menunggu dan membiarkan umat-Nya yang gagal hidup sebagai umat perjanjian dengan menyembah illah-illah bangsa kafir dan menunggu mereka untuk sebelum akhirnya Tuhan menghukum mereka dengan dibuang ke Babel.

Semua aksi teatrikal yang dilakukan oleh Yehezkiel atas perintah Tuhan sebenarnya merupakan usaha untuk menanamkan Firman Tuhan dalam benak pikiran orang Yahudi yang hatinya keras, terus menolak Firman Tuhan yang disampaikan secara lisan. Karenasecara lisan gagal, maka cara lain dipergunakan, yaitu melalui peragaan.

Apa hikmah yang dapat dipetik dari kisah ini?

1. Menanam dengan strategi. Jadilah kreatif. Mendidik siapapun tidak bisa hanya dengan kata-kata saja (Ams.29:19). Mengapa peragaan? A. Menggelitik emosi dan keingintahuan. Hingga masa kini, para penulis menyadari efektivitas perlambangan/peragaan. Peragaan tidak hanya menjelaskan maksud, tetapi memancing emosi yang diperlukan dalam proses belajar. Perintah/kata-kata saja kadang terasa kering dan dangkal. Berhubung bangsa itu terus menolak pesan Tuhan melalui perkataan dan bersikap masa bodoh, maka Tuhan memakai cara lain untuk menarik perhatian bangsa Yahudi. Peragaan yang dilakukan Yehezkiel di depan umum dapat menarik perhatian orang Yahudi. B. Menyampaikan pesan lebih mendalam. Kedalaman pesan dapat terasa lebih kuat melalui peragaan. Alkitab menggunakan peragaan untuk menggambarkan maksud/kehendak Tuhan. Melalui peragaan tersebut alasan penghukuman mereka dapat dijelaskan dengan mudah. Bayangkan saja orang-orang berkerumun di sekitar Yehezkiel dan menanti apa yang akan dilakukannya. Berkhotbah pun harus dengan strategi. Bukan hanya asal berkhotbah. Jemaat ada yang dewasa rohani, memahami banyak Firman Tuhan, namun ada juga yang masih Kristen baru. Ada yang daya tangkapnya hebat, tetapi ada yang biasa saja. Berhati-hatilah ketika menyampaikan khotbah (1 Kor. 2:4-5). Namun itu bukan berarti bahwa ia tidak mempersiapkan dirinya untuk dapat berbicara dengan baik, perlu diingat bahwa ia seorang jenius dan pakar Taurat. Ayat itu mengatakan bahwa Paulus tidak mengandalkan kehebatannya berbicara secara persuasif/meyakinkan orang lain. Paulus mengatakan bahwa ia mengandalkan Roh Kudus setiap kali ia berkhotbah/mengajar! Dua pandangan ekstrem tentang mempersiapkan diri untuk berkhotbah. 1. "Tidak Perlu Persiapan"dan 2. "Cukup dengan Kemampuan Manusia". Jangan terjebak dalam dua ekstrem tersebut!Andalkan Tuhan, lakukan bagian kita untuk memperbaiki diri!Bagaimana berbicara dengan pasangan? Kadang orang marah ketika ia berbicara kepada pasangannya tetapi tidak mendapatkan respon/ tanggapan yang baik. Selanjutnya ia menyalahkan pasangannya, dan pertengkaran hebat terjadi, tanpa pernah menyadari bahwa jika seseorang ingin mendapatkan respon yang baik ia juga harus memastikan lawan bicaranya sedang dalam keadaan yang baik untuk diajak berkomunikasi!

2. Menanam dengan harapan dan kesabaran. Seorang petani menanam dengan sabar (Yak5:7-8). Terus lakukan bagian kita, nantikan Tuhan melakukan apa yang Ia janjikan. Dapatkah Anda mengharapkan biji yang Anda tanam hari ini akan menghasilkan buah keesokan harinya? Banyak orang menyerah di tengah menunggu hasil, lalu melakukan banyak hal yang malah merusak apa yang telah diperjuangkannya, sehingga akhirnya tidak jadi menuai (Gal6:9). Menuai jika tidak menjadi lemah, jika tidak menyerah, jika terus berjuang dan berusaha dengan tekun. Menanamkan benih Firman Tuhan dalam diri orang lain memerlukan pengharapan dan kesabaran. Banyak yang tidak cukup sabar lalu melabel orang lain “tidak bisa berubah/percuma”. Akhirnya usaha di depan semuanya sia-sia. Apakah kita bisa mengharapkan orang langsung berubah setelah mendengarkan khotbah? Sebagian besar perlu waktu untuk memahami dan berubah. Menanam durian, sejak berbentuk biji ditanam, tetapi baru akan panen buah durian tersebut berumur 8 tahun. Perlu waktu yang cukup! Dapatkah Anda memaksa anak-anak, pasangan, keluarga Anda berubah dan bertumbuh dalam sekejap? Proses terjadinya tidak Anda ketahui. Hanya Tuhan yang tahu (Mat4:26-29). Apakah Anda sedang “menanam di lahan tandus”? Menanamkan nilai kehidupan yang benar dalam diri orang yang anda kasihi? Tanamkan dengan strategi, dengan pengharapan dan kesabaran. Tunggu waktu. Firman Tuhan tidak akan menjadi sia-sia. Ucapkan, ajarkan, ingatkan, dll. Amin!

22
Jul 2019
di Ruang Ibadah
Pkl. 18:00
28
Jul 2019
di Ruang Ibadah
Pkl. 08:30
29
Jul 2019
di Ruang Ibadah
Pkl. 19:00
21
Jul 2019
Ps. Benny Yulianto, S. Th.
7
Jul 2019
Bp. Bambang Sulistyo, M.Th.
30
Jun 2019
Pdt. Dr. Subagio M., M. Th.