Ringkasan Khotbah

14
Apr 2019
YESAYA 57: 16-19
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.

Memasak bagi saya adalah sebuah hal yang luar biasa, memerlukan seni dan tidak semua orang bisa melakukannya dengan baik. Suatu hari saya pernah belajar memasak capcay, saya bertanya kepada Mama saya bahan baku serta bumbu apa saja yang diperlukan untuk memasak masakan tersebut. Dan saya belajar bahwa semua bahan baku dan bumbu masakan, memasak, urutan memasukkan bahan, jumlah bahan dan bumbu yang dipergunakan, dll.,semua harus lengkap dan cukup presisi supaya menghasilkan makanan yang enak. Jika dibalik satu saja maka hasilnya akan berbeda, dan bahkan bisa rusak. Pengalaman pada saat itu: Saya memasukkan air pati kanji dengan jumlah sedikit lebih banyak dan tidak sesuai urutan yang seharusnya saya lakukan pada akhir proses memasak, saya memasukkannya di tengah proses. Dan ajaib, hasilnya masakan itu berubah semakin kental dan menjadi seperti lem.

Dari peristiwa itu saya dapat belajar bahwa demikianlah juga hidup manusia. Jika hidup kita digambarkan sebagai sebuah masakan, maka Tuhan adalah Koki terhebat di alam semesta ini. Untuk membuat setiap manusia menjadi sebuah maha karya yang indah, Tuhan memerlukan bahan-bahan, bumbu, waktu, dll. dicampur secara presisi agar dapat menghasilkan karakter Illahi yang luar biasa. Masing-masing bumbu memiliki cita rasa tersendiri. Jika dirasakan 1 macam itu tentu saja ada yang terasa enak, dan ada yang terasa enak. Anda suka mengulum merica/ ketumbar/ bawang yang sendirian saja? Atau sayur pahit? Telur ayam goreng mungkin saja  Anda suka, tetapi tidak dengan bahan-bahan yang pahit. Kita perlu tahu bahwa semua bahan itu harus dicampur membentuk sebuah citarasa yang baru.

Mengapa orang tertekan karena pengalaman hidupnya? Sebab mereka terlalu fokus pada pengalaman yang buruk, dan tidak melihat bahwa semuanya itu diperlukan untuk membentuknya menjadi manusia baru yang bijaksana. Bayangkan saja jika Anda harus mengulum bawang merah mentah/ bawang putih mentah? Tentu sangat tidak enak bukan? Itulah yang terjadi jika kita terburu-buru mengambil kesimpulan bahwa Tuhan tidak peduli dan mengasihi kita manakala kita sedang mengalami pergumulan. Jangan fokus hanya pada pergumulannya saja. Tunggu waktunya, semua bahan harus lengkap! Dulu ketika saya masih kecil, ketika itu saya tumbuh dalam keadaan yang kurang menyenangkan, godaannya adalah berpikir bahwa hidup kok banyak susahnya, tetapi semua pengalaman itu membuat saya menjadi orang yang bijaksana. Tidak mudah menghakimi orang lain. Tuhan memakai pengalaman hidup manusia, baik yang pahit maupun yang manis untuk menghasilkan karya yang luar biasa, yaitu kedewasaan karakter manusia. Tuhan lebih tertarik mendewasakan kita daripada hanya sekedar menuruti keinginan kita. Kalau cuma diberi yang manis hasilnya malah kacau.

Dalam Kitab Yesaya, bacaan hari ini, kita dapat melihat bahwa ada waktunya Tuhan memberkati bangsa Yahudi, tetapi ada waktunya Tuhan memurkai mereka karena dosa-dosa mereka. Tujuan dari semuanya itu adalah pertobatan mereka dan agar rencana Tuhan atas hidup mereka dapat tercapai dengan total. Tuhan tahu kapan mendidik mereka dengan keras, kapan mendidik mereka dengan lembut. Tuhan tahu pengalaman apa saja yang mereka butuhkan agar dapat menjadi bangsa yang menjadi alat Tuhan memberkati bangsa-bangsa yang lain. Semua yang mereka alami terjadi atas seijin Tuhan untuk mendewasakan mereka. Halini juga terjadi dalam kehidupan orang percaya, Tuhan mengajar semua orang percaya melalui aneka macam hal, baik pengajaran maupun pengalaman hidup. Namun kadang tanpa sadar, ketika ada orang percaya belum hidup benar maka orang percaya lain dengan cepat menghakimi, padahal Tuhan belum selesai dengan pembentukan hidup orang tersebut. Ketika melihat orang yang masih “mentah” kerohanian dan hidupnya, kita harus berpikir bahwa Tuhan masih dalam proses membentuk kehidupannya. Mana yang lebih hebat: A. Mengubah orang baik menjadi lebih baik? B. Mengubah orang bejat menjadi baik? Gereja adalah tempat di mana orang mendapatkan kesempatan tersebut. Jadi, jangan memandang kejelekan orang lain terus-menerus sehingga kita lupa melihat mereka sebagai orang yang masih terus didewasakan oleh Tuhan.

Apa hikmah yang dapat kita petik dari firman Tuhan ini?

1. Siapa Tuhan tidak bisa dibatasi hanya dari kita. Jangan menggambarkan karakter Tuhan hanya sepotong-sepotong saja sesuai keinginan kita. Tuhan mengasihi umat-Nya. Tetapi kasih bentuknya macam-macam. Bukan hanya selalu dituruti, dipuji, dll tetapi kadang dihajar. Agar umat-Nya mengenal Tuhan bukan dari 1 sisi saja. Manusia kadang lupa bahwa kasih bukan hanya datang dalam bentuk kata pujian, pemberian, dll. yang menyenangkan. Kasih kadang datang dalam bentuk hajaran dan didikan. Semua itu bertujuan untuk mendewasakan umat-Nya. Kadang orang berpikir bahwa yang diberi masalah hanyalah orang yang hidupnya salah, sebagai hukuman dari Tuhan. Namun masalah dalam hidup manusia tidak selalu datang sebagai hukuman! Apakah hanya yang tidak benar hidupnya yang diberi masalah? Dibersihkan juga berarti dipotong kecil-kecil. Baik orang yang benar maupun tidak tetap terus disempurnakan oleh Tuhan (Yoh15:1-2).

2. Tuhan tahu membentuk umat-Nya dengan aneka pengalaman hidupAda bahan dan bumbu kehidupan yang mungkin terasa tidak enak jika diperhatikan sendirian. Tetapi jika semuanya diolah, tentu saja akan mendatangkan kebaikan (Roma 8:28). Jangan buru-buru menilai Tuhan terlalu dini. Tuhan belum selesai dengan hidupmu. Dia masih terus membentuk dan mendewasakan (Roma 9:20-21). Bagaimana dengan masa lalu? Itu baik untuk membentuk kita menjadi dewasa. Tuhan lebih peduli pada masa depan kita daripada berpusat pada masa lalu kita. Manayang lebih baik? Terus mengulik masa lalu atau menggunakannya untuk memperbaiki masa depan? Bisakah masa lalu diubah? Apa kegunaan masa lalu? Bukankah itu adalah batu loncatan agar kita menjadi pribadi yang lebih baik di masa depan? Jika demikian bagaimana sikap kita memandang masa lalu kita dan masa lalu orang lain?

3. Aneka pengalaman hidup yang lengkap diperlukanuntukmaha karya yang luar biasa. Baik dari segi bahan, bumbu, dan bahkan waktu. Bahan: Jangan hanya fokus pada pengalaman buruk yang kita alami. Masih ada banyak pengalaman lain yang perlu kita lihat. Jangan terpaku pada satu pengalaman buruk (Pkh. 3:11). Indah pada waktunya: Indah pada saat itu terjadi meskipun enak maupun tidak. Meskipun tampak buruk tetapi sebetulnya itu diperlukan untuk menghasilkan sesuatu yang lebih baik. Namun umumnya manusia tidak dapat memahami hal tersebut. Orang yang terpaku pada satu pengalaman buruk sama saja dengan hanya mengunyah bawang mentah dan lupa bahwa itu hanyalah salah satu bahan baku/bumbu kehidupan yang membuat hidupnya lebih lengkap dan “nikmat”, lalu menghakimi bahwa Tuhan tidak adil. Proses Tuhan itu baik untuk dijalani. Boleh tidak makan bahan bahan mentahnya saja tanpa diolah di atas api? Itu sama saja dengan menelan sayuran mentah lalu dikocok di dalam perut, dan berkata: Selamat, Anda telah makan Capcay. Waktu: Pergumulan lama/sebentar Tuhan yang tahu kapan menolong. Steak yang kurang matang akan liat dagingnya, sulit dinikmati. Seringkali orang ingin waktu bergumul lebih singkat,  tetapi apakah Anda doyan sayuran dan daging yang mentah? Jadi jangan berpikir bahwa mengikut Yesus hanya bicara soal berkat yang menyenangkan, Tuhan juga mendidik agar kita dewasa dalam karakter dan iman! Jika hari ini Anda mengalami pergumulan hidup, datanglah kepada Tuhan dan ingatlah bahwa semua bahan baku dan bumbu harus lengkap, urutan proses dan waktunya juga harus lengkap, sampai tiba waktunya Anda menjadi pribadi yang lebih baik dari yang sekarang, sesuai dengan yang Tuhan kehendaki. Amin!

19
Mei 2019
di Ruang Ibadah
Pkl. 08:30 - 10:30
20
Mei 2019
di Ruang Ibadah
Pkl. 18:00
26
Mei 2019
di Ruang Baptis
Pkl. 10:30
2
Jun 2019
di Ruang Ibadah
Pkl. 08:30
2-28
Jun 2019
di
Pkl. 11:00 - 13:00

Tak Ada Logika

Yeremia 25:12


Ada sebuah lirik lagu yang mengatakan bahwa ‘cinta itu ta ...

12
Mei 2019
Ps. Benny Yulianto, S. Th.
5
Mei 2019
Benny Kusbin (Makassar)
28
Apr 2019
Pdt. Guana Tandjung
21
Apr 2019
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.