Ringkasan Khotbah

17
Mar 2019
YESAYA 29:4-6
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.

Nabi Yesaya melayani bangsa Israel, Yehuda, dan bangsa-bangsa lain. Pada zaman itu mereka semua hidup dengan moralitas yang kacau, berdosa terhadap Tuhan. Yesaya menubuatkan bahwa jika Israel, Yehuda dan bangsa-bangsa lain tidak bertobat maka mereka akan dihukum. Israeltetap tidak mau bertobat meskipun semua nubuatan Yesaya mengenai tanda-tanda penghukuman bagi bangsa-bangsa lain sebelum penghancuran Israel terjadi persis seperti yang dikatakan Yesaya. Semua itu terjadi untuk memperingatkan Israel, tetapi mereka tetap saja menolak untuk percaya, meskipun semua nubuatan Nabi Yesaya terjadi secara akurat.

Siapakah manusia yang mau hidup dalam penderitaan karena tekanan berat dari kekuatan dan kuasa yang menindihnya? Sebab itu Hosea bin Ela, yang telah ditaklukkan oleh Tiglat-Pileser III dari Asyur, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman raja Asyur. Ia tidak mau lagi membayar upeti sebab ini adalah sistem yang mengeksploitasi bangsa Israel kepada kemiskinan. Karena itu ia menggalang aliansi dengan raja So dari Mesir. Biladievaluasi dari situasi politik internasional saat itu, pemberontakan Hosea bukannya tanpa pertimbangan. Ia sudah membuat perhitungan yang baik, telah menimbang-nimbang kekuatan yang ada padanya, dan perkiraan bantuan yang dapat diandalkan dari raja Mesir. Sebab saat itu negara Asyur sedang berkabung dengan meninggalnya raja Tiglat-Pileser III pada tahun 727 sM. Kematian seorang penguasa dapat disamakan sebagai sebuah kesempatan bagi negara-negara taklukan untuk memberontak. Namun ternyata perhitungan Hosea meleset dan ia sendiri ditangkap dan dibelenggu dalam penjara. Kini ia `tidak perlu’ membayar upeti kepada Asyur. Sebab raja Salmaneser dari Asyur telah mengepung Samaria selama 3 tahun yang mengakibatkan sistem perekonomian kota itu hancur dan menjadi miskin. Ia menaklukkan seluruh Israel dan mengangkut rakyatnya sebagai `upeti’ ke Asyur dan ditempatkan di Halah dan di kota-kota orang Madai. Bangsa Israel hancur total. Tidak saja rajanya ditawan dan tanah Israel diambil alih oleh Asyur, namun Israel sebagai sebuah bangsa sudah berakhir (Lo-ammi) dan tidak mengalami kasih sayang Allah (Lo-ruhamah). Kesalahan utama Hosea adalah tidak menempatkan permasalahan yang dihadapinya dalam perspektif Allah dan konteks perjalanan sejarah kehidupan rohani dan moralitas bangsa Israel, yaitu bahwa penindasan yang dialaminya adalah hukuman Allah agar mereka bertobat dan dosa Israel telah mencapai titik kesabaran Allah. Karena itu, memberontak dan membangun aliansi dengan Mesir adalah sama dengan menarik sebuah picu senapan yang meletus dengan pernyataan melupakan Allah secara total. Maka mereka layak menerima hukuman.

Melihat semua hal tersebut rupanya Yehuda tidak mau bertobat. Peringatan nabi Yesaya agar mereka bertobat tetap saja banyak kali diabaikan oleh rakyat Yehuda dan para pemimpinnya.

Dalam Ulangan 28, dijelaskan secara gamblang bahwa jika umat Tuhan terus berdosa maka Tuhan akan menghukum mereka agar sadar dengan mendatangkan: A. Kekacauan/huru-hara. B. Wabah penyakit. C. Bencana alam, kekeringan, dll. D. Aneka macam penderitaan. E. Kekalahan bertubi-tubi dalam peperangan, dll. Jika nubuatan Yesaya terjadi mereka tidak bisa menyadari bahwa memang Yesaya adalah utusan Tuhan. Jika nubuatan bencana terjadi,mereka berpikir itu adalah peristiwa alam biasa, jika nubuatan perang terjadi,mereka berpikir itu adalah dinamika politik. Mereka menolak mengakui bahwa hal itu terjadi karena tangan Tuhan. Karena ketidakpercayaan tersebut, Tuhan mengatakan melalui nabi Yesaya kepada bangsa Yehuda/Yahudi bahwa Yerusalem akan dikepung oleh musuh-musuhnya, lalu dalam keadaan terjepit itu mereka akan melihat pertolongan Tuhan secara ajaib! Meskipun melihat semua nubuatan ditepati, mereka tetap belum mau percaya. Maka Tuhan masih bersabar dan berkenan memberikan lagi sebuah tanda ajaib bahwa ketika mereka dikepung, Tuhan akan menolong mereka secara ajaib. Jika inipun tidak membuat mereka bertobat, apa boleh buat? Ini terjadi pada saat mereka dikepung oleh Sanherib, raja Asyur, yang ditakuti oleh Yehuda. Dalam kesesakan itu mereka akan merintih meminta pertolongan Tuhan, dan pertolongan Tuhan akan terjadi secara ajaib, tanpa campur tangan manusia! Hal itu dibuktikan dengan segera (2 Raja 19:35). Seharusnya melihat hal tersebut Yehuda bertobat, tetapi ternyata mereka tetap menolak untuk mengakui campur tangan Tuhan itu! Mereka tidak mampu memandang kehidupannya melalui perspektif Allah, sebagai akibat nya kelak Yehuda juga dihukum!

Ada banyak raja Yehuda yang baik dan mengupayakan pertobatan nasional, tetapi ternyata tidak bisa menyadarkan rakyat secara keseluruhan. Sisa yang tidak bertobat kemudian memberi pengaruh buruk pada yang mengasihi Tuhan sehingga juga hancur iman nya. Sebenarnyaapa yang dialami oleh Israel dan Yehuda di masa akhir Kerajaan mereka masing-masing dapat memberikan pelajaran yang baik agar orang-orang percaya memelihara iman di akhir zaman kerajaan manusia. Sebab seperti masa akhir kerajaan mereka, maka ada juga masa akhir kerajaan manusia, yaitu akhir zaman. Allahjuga berulang kali memberikan peringatan akan hal ini.

Bagaimana memelihara iman di akhir zaman?

1. Memperhatikan tanda-tanda zaman. Lihat dalam perspektif Allah (Mat.24:4-14;2 Tim.3:1-5; 2 Pet. 3:3-4). Semua tanda di atas terjadi tepat seperti yang Alkitab katakan. Ada satu yang di dalam proses penggenapannya, yaitu pekabaran Injil bagi segala bangsa. ApakahAnda dapat melihat hal tersebut?

2. Menjaga diri dalam persekutuan yang benar.  Aliansi yang benar adalah dengan Tuhan, bukan dengan Mesir dan Etiopia. Sayangnya Israel dan Yehuda terus bersekutu dengan bangsa-bangsa kafir yang menyembah berhala dan terus memberontak kepada Tuhan. A. Hidup dalam pimpinan TUHAN setiap hari (Mat26:41). Harus berjaga-jaga dan berdoasetiap hari. HSM Jumat kemarin mengingatkan kita untuk tidak mengotakkan Tuhan untuk hari minggu saja, tetapi mengandalkan Tuhan dalam keseharian! Mengandalkan TUHAN = Dalam setiap keputusan harus meminta hikmat dari Tuhan. Musa, Daud, Elia, Salomo, dkk.berhasil karena hikmat Tuhan, bukan karena kepandaian mereka. Apa arti kepandaian Musa ketika diperhadapkan pada lautan dantentara Mesir? Apa artinya kehebatannya dibandingkan dengan luasnya Padang gurun yang harus mereka hadapi? Halangan hidup dalam pimpinan Tuhan: Merasa pandai/sudah tahu banyak/ paling benar. Dengandemikian orang akan bertindak dengan logika saja, tanpa sadar bahwa hatinya tidak mengutamakan pimpinan Tuhan (Yer.17:5-10). Sayangnya hati manusia itu licik, ia dapat mencari-cari alasan untuk menyalahkan yang benar dan membenarkan yang salah! Dalam kehidupan bergereja, hamba-hamba Tuhan harus sehati sepikir dan berdoa mencari pimpinan Tuhan bersama, bukan mengandalkan konsep berpikir dan sistem bergereja saja, sebab Tuhan bekerja tidak dibatasi oleh sistem yang dibuat manusia! Jika di dalam tim semua terpaku pada sistem, maka biasanya yang terjadi malah perpecahan dan stagnasi (1 Kor1:27-29). Sistem itu untuk manusia, bukan manusia untuk sistem. B. Hidup dalam komunitas orang beriman (Ibr.  10:25). Semakin giat melayani. Anak-anakmuda jangan jatuh dalam pergaulan yang salah. Kitasemua harus berhati-hati dengan pergaulan kita. Jemaat Korintus bergaul erat dengan orang-orang yang mengajarkan doktrin yang salah, yaitu bahwa tidak ada kebangkitan bagi orang percaya, mereka tercemar dengan ajaran bahwa kebangkitan itu terjadi dalam bentuk perubahan hidup moral manusia saja. Maka Paulus menegur mereka agar bertobat! Perhatikan pergaulanmu! (1 Kor 15:32-34). C. Bekerjasama dalam tim. Manakala Nabi Yesaya mengarahkan Yehuda untuk bertobat, Sebna sang kepala istana malah mengusahakan Yehuda bersekutu dengan Mesir dan Etiopia. Sebna menolak untuk bekerja dalam tim Allah, ia memperjuangkan idenya sendiri! Satu Kerajaan dua kepala. Akibatnya, Sebna  diperingatkan dengan keras dan dihukum Tuhan. Komunitasorang percaya harus bekerjasama untuk kemajuan Kerajaan Allah. Ingat, kedewasaan Kristen diukur bukan dari kemampuan untuk melayani Tuhan, tetapi dari kesediaan melayani Tuhan bersama-sama orang percaya lainnya. Orang yang dewasa rohani bukan yang bisa melayani, tetapi yang bisa melayani bersama-sama! Halangan bekerjasama: A. Dukungan penuh hanya diberikan jika ide pribadi diikuti. B. Ego didahulukan di atas kepentingan Kerajaan Allah. C. Menganggap remeh rekan sekerja. Dll. Pastikan diri kita tidak melakukan kesalahan yang sama seperti kesalahan Israel dan Yehuda. Israel telah banyak tanda ajaib, melihat nubuatan terhadap Moab digenapi, tetapi terus menolak percaya. Setelah Israel hancur, Yehuda juga melakukan kesalahan yang sama, akankah Anda melakukan kesalahan yang sama? Gereja harus berhasil menjadi garam dan terang dunia, menyelamatkan jiwa-jiwa menjelang kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali. Amin!

19
Apr 2019
di Ruang Ibadah
Pkl. 16:30
21
Apr 2019
di Ruang Ibadah
Pkl. 16:00
22
Apr 2019
di Ruang Ibadah
Pkl. 18:00
28
Apr 2019
di Ruang Ibadah
Pkl. 08:30
14
Apr 2019
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
7
Apr 2019
Bp. Bambang Sulistyo, M.Th.
31
Mar 2019
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
24
Mar 2019
Ps. Ary M. Wibowo (JPCC)