Ringkasan Khotbah

13
Jan 2019
1 Petrus 2:2
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.

Pertobatan bukanlah akhir dari perjalanan kekristenan, tetapi awal dari perjalanan kekristenan. Tujuan akhirnya adalah bertumbuh dan menikmati keselamatan abadi bersama dengan Tuhan. Memerintah bersama Tuhan di langit dan bumi yang baru. Dosa (hamartia) = salah arah. Orang yang hidup berdosa hidup untuk dirinya sendiri, bukan untuk Tuhan. Mempedulikan dirinya sendiri, bukan orang lain. Dosa Adam = 666. Ia tidak mau mengikuti tujuan Allah, tetapi keinginannya sendiri. Angka 6 adalah lambang manusia, jadi 666 menggambarkan “keakuan” yang bertahta di roh, jiwa dan tubuh manusia. Upah dosa adalah maut.

Namun dalam kitab Kejadian kita melihat bahwa Tuhan berjanji menebus dan memulihkan umat-Nya secara total. Menebus: Mengorbankan diri-Nya untuk menyelamatkan manusia. Memulihkan: Mendidik umat-Nya untuk mengutamakan Tuhan dalam hidup. Bukan lagi 666, tetapi Tuhan yang berkuasa atas roh, jiwa dan tubuh kita. Hidup ini bukan soal mengikuti apa yang kita inginkan, tetapi hidup ini untuk Tuhan. Bukankah manusia diciptakan untuk tujuan Allah? Memerintah dunia ini bersama dengan Allah. Pemulihan total akan terjadi saat kita memerintah bersama Allah di langit dan bumi yang baru. Mari kita lihat maksud Allah ini dalam surat Petrus.

         Surat ini merupakan yang pertama dari dua surat PB yang ditulis oleh rasul Petrus, Silas (Silvanus) sebagai juru tulisnya, sebagai tanggapan terhadap laporan dari orang percaya di Asia Kecil tentang peningkatan perlawanan terhadap kekristenan yang belum didukung resmi oleh pemerintah. Petrus menulis dari "Babilon". Kata ini dapat ditafsirkan secara harfiah sebagai negara Babilon di Mesopotamia atau sebagai ungkapan kiasan untuk Roma, pusat tertinggi dari kefasikan abad pertama. Petrus mengalamatkan surat ini kepada orang-orang pendatang yang tersebar” di seluruh propinsi Asia Kecil kekaisaran Romawi. Beberapadi antara mereka ini mungkin adalah orang bertobat yang menanggapi khotbahnya pada hari Pentakosta dan telah kembali ke kota masing-masing dengan iman yang baru. Orang percaya ini disebut "pendatang dan perantau" untuk mengingatkan mereka bahwa hidup mereka sebagai orang Kristen di dalam dunia yang membenci Yesus hanyalah sementara, mereka harus fokus pada langit dan bumi yang baru sesuai janji Tuhan.

Petrus menjelaskan maksud Tuhan melalui suratnya: A. Tuhan tidak hanya bertujuan menebus kita, tetapi untuk mengubah kita menjadi manusia yang hidup menundukkan diri pada firman Tuhan. B. Tuhan ingin memulihkan manusia secara total,  bukan hanya menebusnya saja. Untuk itu kita harus menjalani proses pendewasaan: perubahan tujuan hidup, perubahankarakter, dan perubahan pola hidup. Selagi menantikan kedatangan Tuhan Yesus, kita mendapat tugas untuk memberitakan kabar baik bagi segala bangsa, namun dalam menjalankan tugas menjadi saksi Kristus, ada banyak tantangan yang tidak bisa diperkirakan, maka jemaat harus didewasakan. Petrus menghendaki jemaat harus siap menghadapi tantangan apapun dalam pelayanan.Orangyang tidak siap melayani, baik dalam mental maupun karakter akan rentan babak belur dalam pelayanannya, menjadi burn out dan stagnasi, yang lebih parah adalah mengalami kemunduran rohani, bahkan murtad. Tujuan akhirnya: Agar mereka terus “bertumbuh dan beroleh keselamatan” (1 Kor. 9:27).

BAGAIMANA MENOLONG JEMAAT UNTUK BENAR-BENAR HIDUP DALAM MAKSUD TUHAN?

1. Menolong jemaat mengalami kasih Tuhan. Semua bayi pasti tergantung pada kasih orangtuanya terlebih dahulu, kemudian dilatih untuk mandiri. Dilayani dahulu, baru bisa melayani danmelayani bersama. KasihTuhan diberikan kepada orang percaya dalam bentuk pelayanan agar mereka mampu bergantung kepada Tuhan. Fase kerohanian orang Kristen: A. Dilayani, B. Melayani, C. Melayani bersama. Dilayani dan melayani. Jemaat dilayani agar kelak dapat dewasa/mandiri. Mandiri: Tidak bergantung pada orang lain. Kedewasaan rohani terjadi saat manusia menjadi mandiri untuk bergantung pada Tuhan tanpa paksaan orang lain.Jemaat menjadi dewasa yaitu secara otomatis mampu bergantung pada Tuhan tanpa harus digerakkan oleh manusia yang lain. Jika terjadi demikian ia akan mampu melayani orang lain. Jemaat mengalami kasih Tuhan dalam keseharian melalui pelayanan orang-orang percaya. Contoh: Daud mengalami kasih dan perhatian Tuhan dalam bimbingan Nabi Samuel. Awalnya ia bergantung pada Nabi Samuel, dilatih untuk mencari Tuhan, namun akhirnya secara mandiri Daud bergantung kepada Tuhan. Daud menjadi mandiri penuh saat ia dapat bergantung kepada Tuhan tanpa didorong dan dipaksa oleh orang lain. Dan saat itulah ia mampu melayani bangsanya sebagai seorang pemimpin yang takut akan Tuhan. Manusia dirancang dengan kehendak bebas, namun maksudnya adalah agar mereka secara sadar bergantung kepada Tuhan, bukan dipaksa untuk bergantung kepada Tuhan. Dalam 66 kali peperangan yang dihadapi Daud ia selalu menang. Ia bergantung pada Tuhan, dan itu merupakan bukti kedewasaannya. Daud melihat dan dipimpin “Yang tidak terlihat”, yaitu Tuhan. Daud berdoa minta pimpinan Tuhan senantiasa sebelum merencanakan, belajar peka mendengar pimpinan Tuhan, belajar taat pada Tuhan.

2. Jemaat menjalani kehendak Tuhan. Strategi: Melayani bersama. Setelahmanusia bisa secara mandiri bergantung kepada Tuhan, maka ia harus masuk ke langkah selanjutnya, yaitu bekerjasama/saling bergantung satu dengan lainnya. Jangan berbangga diri jika bisa melayani, anak kecil juga bisa dilatih melayani tamu, tetapi mereka bertengkar ketika berbeda keinginan. Orang yang dewasa dapat melayani bersama-sama. Paulus menasihati jemaat Korintus agar tidak bertengkar, harus dapat bekerjasama, mengesampingkan ego dan mendahulukan kasih (1 Kor3:1-3). Melayani bersama.Tuhan memberi pesan kepada Adam dan Hawa untuk beranak cucu sebelum mereka mampu menguasai bumi. Maksud Tuhan adalah mengajar mereka untuk bekerjasama. Mereka tidak dapat menguasai bumi hanya dengan berdua saja. Menanamkan nilai tentang penjangkauan jiwa bersama-sama. Inilah tujuan gereja. Membangun atmosfer hidup untuk menjangkau, dan untuk itu kita harus bersatu. Apakah alasan saling bergantung? Ini harus dijelaskan secara jelas untuk memberi tahu tujuan akhir mengapa membangun relasi. Mengapakita harus saling bergantung? Agar kita dapat banyak menjangkau jiwa danmenjadikan mereka menyerupai Kristus. Tuhan mau kita bekerjasama menjala manusia, bukan memancing. Jemaat adalah batu-batu hidup yang tersusun rapat menjadi satu (1 Pet2:5). Gereja dapat melaksanakan Amanat Agung hanya ketika mampu bekerjasama dengan baik. Di sinilah kita saling melayani dan saling membutuhkan dan saling bergantung. Amin!

22
Jul 2019
di Ruang Ibadah
Pkl. 18:00
28
Jul 2019
di Ruang Ibadah
Pkl. 08:30
29
Jul 2019
di Ruang Ibadah
Pkl. 19:00
21
Jul 2019
Ps. Benny Yulianto, S. Th.
7
Jul 2019
Bp. Bambang Sulistyo, M.Th.
30
Jun 2019
Pdt. Dr. Subagio M., M. Th.