Ringkasan Khotbah

16
Des 2018
Mazmur 139:23-24
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.

Mazmur ini menceritakan tentang ke-Maha Tahuan Allah serta ke-Maha Hadiran-Nya. Tuhan tahu semua yang kita lakukan, semua yang kita pikirkan, semua yang akan kita pikirkan dan lakukan di masa mendatang.

Dalam Mazmur ini Daud berdoa memohon agar Tuhan menyelidiki, mengenal hati dan pikirannya, sekaligus mengoreksinya jika ia salah, dan juga menuntun dia untuk berjalan di jalan Tuhan. Daud menyadari bahwa ia memiliki kelemahan manusiawi yang dapat menjatuhkannya kapanpun. Ia sadar bahwa ia dapat tertipu oleh pikirannya sendiri. Manakala manusia memiliki keinginan yang diperhadapkan dengan kebutuhan, maka demi mengikuti keinginan pikirannya dapat membuat keduanya terlihat terbalik. Keinginan tampak menjadi kebutuhan, sedangkan kebutuhan tampak menjadi keinginan.

Benar dapat menjadi salah, sedangkan yang salah justru dapat nampak benar. Ketika manusia tahu bahwa jalannya salah, pikirannya dapat menemukan sejuta alasan untuk membenarkan dirinya sendiri (Yak.1:14). Hal-hal yang dapat membahayakan diri kita sebenarnya bukan hanya datang dari luar diri kita, sebab keinginan yang berasal dari dalam diri kita juga dapat membahayakan diri kita, dan biasanya kita tidak akan waspada dengan hal ini. Oleh karena itu kita perlu meminta bimbingan Tuhan agar kita tidak salah melangkah.Jangan ikuti kata hatimu. Hatimu dapat menyesatkan dirimu.

Gaya hidup anak-anak Kerajaan:

1. Membuka diri untuk dikenal dan diuji oleh Tuhan. Daud membuka diri. Sebenarnya tanpa kita membuka diri sekalipun, Tuhan Yang Maha Tahu tetap mengenal kita sedalam-dalamnya. Yang menjadi poin penting di sini adalah kita harus membuka diri. Membuka diri (self disclosure) = Penyingkapan diri (membeberkan informasi tentang diri sendiri) secara sengaja dan sadar untuk dikenal dan diuji. Banyak hal yang dapat diungkapkan tentang diri melalui ekspresi wajah, sikap tubuh, pakaian, nada suara, dan melalui isyarat-isyarat non verbal lainnya yang tidak terhitung jumlahnya meskipun banyak diantara perilaku tersebut tidak disengaja, namun, penyingkapan diri yang sesungguhnya adalah perilaku yang disengaja. Penyingkapan diri merupakan bagian primer dari komunikasi dan hubungan antara dua orang. Tanpa hal tersebut komunikasi dan hubungan tidak bisa mencapai tingkat kedalaman yang dikehendaki. Banyak orang menutup diri terhadap Tuhan, ketika diberitahu keadaannya yang sesungguhnya ia justru menolak mengakui dan berontak. Sebagai hasilnya ia menolak bertobat dan tidak bisa dipulihkan sebelum ia menerima kenyataan dirinya. Orang yang tidak membuka dirinya akan terus membantah penilaian apapun yang diberikan kepadanya. Ia akan terus merasa benar. Jika hal itu terus dipertahankan maka orang tersebut tidak dapat mengalami pemulihan dan pertolongan Tuhan. Akhirnya hukuman tidak terelakkan.Contoh: A. SaraSara menyangkal bahwa ia tidak percaya kepada Tuhan dan tertawa. Menutup diri terhadap Tuhan sebenarnya usaha yang sia-sia, sebab Tuhan Maha Tahu. Saat hatinya menyimpang, Tuhan tahu dan meluruskannya (Kej. 18:12-15). B. SaulDitegur dan diberitahu kesalahannya tetapi terus membantah. Itu namanya menutup diri. Tuhan Yang Maha Tahu telah menunjukkan kesalahannya agar ia bertobat, tetapi ia menolak untuk membuka dirinya (1 Sam15:13-20). Apakah Saul bermaksud untuk mempersembahkan korban kepada Tuhan di balik ketidaktaatannya? Jelas tidak! Alasan di balik ketidaktaatannya adalah karena ia ingin menyenangkan hati rakyat, tujuannya agar rakyat mendukungnya, ia senang dengan jabatan raja dan ingin didukung oleh rakyat tetapi ia mengabaikan Tuhan (1 Sam15:13-20). Ia menutup dirinya dan membantah firman Tuhan. Tuhan saja dibantah, apalagi Samuel. Ia menolak Tuhan yang hendak meluruskan jalannya. Itulah sebabnya jalannya terus menyimpang. Value: Membuka diri adalah mengakui/menyingkapkan keadaan diri kita secara sadar agar Tuhan dapat memulihkan kita. Saat Tuhan menyatakan siapa diri Anda yang sebenarnya dan keadaan diri Anda yang sebenarnya, akuilah itu secara tulus sehingga Tuhan dapat memulihkan Anda. Keterbukaan adalah awal pemulihan! C. Daud.Ketika ditegur oleh Nabi Natan karena kesalahannya, Daud langsung mengakui dan membuka dirinya kepada Tuhan (2 Sam12:13). Membuka diri berarti bersedia dikoreksi dan dibimbing oleh Tuhan.

2. Tuhan menuntun melalui firman yang diucapkan oleh hamba-hamba-Nya .Tuhan dapat menuntun kita secara langsung dengan cara berbicara langsung kepada kita, entah melalui suara hati, pembacaan firman, kunjungan malaikat, kunjungan Tuhan sendiri dan banyak cara lainnya, tetapi umumnya Tuhan berbicara kepada kita melalui firman yang disampaikan oleh hamba-hamba-Nya. Contoh(a). Tuhansecara langsung berbicara kepada Abraham dan Sara. (b). Nabi Samuel menyampaikan firman Tuhan sebagai teguran kepada Saul. (c). Nabi Natan menyampaikan firman Tuhan sebagai teguran kepada Daud. (d). Tuhan menuntun jemaat melalui para rasul dalam Perjanjian Baru. Lalu bagaimana contoh-contoh tersebut menjadi relevan untuk kita pada saat ini? Tuhan memakai hamba-hamba Tuhan dalam dunia modern ini untuk menuntun jemaat. Saat firman Tuhan diberitakan, buka hati kita selebar-lebarnya. Saat nasihat diberikan, buka hati selebar-lebarnya. Firman dan nasihat diberikan kepada kita agar kita dapat bercermin pada firman dan nasihat tersebut sehingga kita mengetahui siapa diri kita yang sebenarnya pada saat ini, dan bagaimana keadaan kita yang sesungguhnya. Hal itu bertujuan agar kita dapat memperbaiki diri .Ada halangan dalam menerima firman dan nasihat, yaitu sikap hati “aku sudah tahu”.Saatkita berpikir bahwa aku sudah tahu, maka sikap itu akan menurunkan kesungguhan hati kita serta minat untuk mendengarkan firman dan nasihat tersebut. Perhatian kita seharusnya bukan soal kita sudah tahu atau belum, tetapi apakah kehidupan kita sudah sesuai dengan model yang ditetapkan Tuhan atau belum. Contoh: Matius2:4-6. Tiga orang majus berjalan ribuan kilometer mencari lokasi tempat kelahiran Yesus saat mengetahui waktu dan bintang yang memimpin mereka ke Israel. Mereka berasal dari Persia. Saat Herodes tahu tentang hal tersebut, dan seluruh Yerusalem gempar. Anehnya, semua imam kepala dan ahli Taurat Yahudi tidak pergi mencari Tuhan Yesus. Mengapa demikian? Mereka telah dibutakan oleh kesombongan rohani mereka. Mereka cukup puas karena telah mengetahui kitab nabi, tetapi mereka tidak tertarik untuk mencari kebenaran bukti yang diadakan Tuhan. Yerusalem-Bethlehem hanya berjarak sekitar 8 km, namun mereka tidak mencari di mana Yesus dilahirkan. Mereka sibuk dengan acara-acara keagamaan, menikmati hidup dihormati banyak orang, dll. Kesombongan rohani membuat kita merasa bahwa kita sudah cukup tahu, cukup baik, cukup benar di hadapan Tuhan. Sikap ini menjauhkan kita dari Tuhan, dan membuat kepekaan kita pada pimpinan Tuhan menjadi tumpul. Merasa cukup tahu mengakibatkan kita lupa bahwa tahu hanyalah langkah awal untuk sebuah perubahan. Merasa cukup baik mengakibatkan kita tidak mengalami kemajuan, kita lupa bahwa masih ada banyak karakter yang harus diubah, kita lupa bahwa kita baru mengalami kemajuan sedikit saja. Saat firman diberitakan, renungkanlah baik-baik, pergunakan untuk memeriksa hati kita dan kehidupan kita. Hindarkan sikap “aku sudah tahu”. Mengabaikan pesan Tuhan melalui hamba-hamba-Nya sama dengan mengabaikan Tuhan sendiri. Membuka hati agar Tuhan dapat meluruskan jalan kita.“Tuhan, luruskanlah jalanku” berarti bahwa kita membuka hati kepada Tuhan agar Tuhan dapat berkarya memberkati kita. Amin!

21
Jan 2019
di Ruang Ibadah
Pkl. 18:00
27
Jan 2019
di Ruang Ibadah
Pkl. 08:30
13
Jan 2019
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
6
Jan 2019
Bp. Bambang Sulistyo, M.Th.
30
Des 2018
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
23
Des 2018
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.