Ringkasan Khotbah

25
Nov 2018
MAZMUR 118:22
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.

Pemazmur mengajak semua orang memuji “bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia TUHAN“. Mengatakan bahwa TUHAN menepati janji-Nya. Pemazmur memulai lagu ini dengan memuliakan Nama TUHAN (YHWH), yang artinya “tangan-lihatlah-paku-lihatlah”, sebuah Nama yang diperkenalkan oleh Tuhan sendiri pertama kali kepada Musa. Alasan yang mendasari Nama itu adalah Keluaran 6:1-2,5. Nama YHWH menggambarkan maksud Allah bahwa dengan tangan yang kuat, lengan yang teracung dan dengan hukuman berat Tuhan akan menebus dan membebaskan umat-Nya dari perbudakan Mesir. Hal ini menjadi lambang pembebasan manusia dari hukuman dosa dan membawa manusia menikmati hidup abadi di langit bumi baru. Piktograf YHWH. Beda dengan kita, huruf mereka adalah gambar, dan ada filosofi di baliknya. Itu mirip dengan huruf Mandarin yang adalah gambar.

Selanjutnya melalui lagu ini pemazmur mengatakan bahwa ketika ia mengalami kesesakan ia percaya bahwa Tuhan menolongnya. Kesesakan yang dialaminya adalah bagaimana banyak orang membenci dan menolaknya. Ia mengalami penolakan dari banyak orang yang berusaha menyingkirkannya atau membunuhnya, tetapi ia tidak takut sebab ia percaya bahwa Tuhan akan menolongnya. Ia bahkan berkata bahwa ia tidak akan mati tetapi ia akan hidup, karena Tuhan menolongnya (Mzm. 118:17). Mazmur ini merupakan lagu yang dinyanyikan orang-orang Israel untuk menyongsong Paskah. Dan lagu ini seharusnya dinyanyikan juga oleh Tuhan Yesus dan para murid sebelum Ia berdoa di Taman Getsemani menjelang penyaliban dan kebangkitanNya. Yesus juga ditolak dan dikerumuni tokoh-tokoh agama dan rakyat yang ingin membunuh-Nya. Lagu ini sebetulnya merupakan pengalaman Pemazmur, namun sekaligus ternyata menggambarkan mengenai apa yang dialami oleh Tuhan Yesus ratusan tahun kemudian di Getsemani dan Golgota.

Pemazmur merasakan bahwa ia serupa sebuah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan, namun ternyata ia malah menjadi batu penjuru (Mzm. 118:22). Tukang bangunan memiliki rencana sendiri mengenai bangunan seperti apa yang akan dibangunnya, lalu ia memilih batu yang tepat sesuai rencananya. Jika tukang bangunan merasa batu tertentu tidak sesuai dengan rencananya, maka ia akan membuang batu itu dan memilih batu yang lain, yang sesuai dengan yang ia inginkan. Pemazmur merasa bahwa orang-orang yang membencinya mencoba untuk “menyingkirkannya“ atau membunuhnya. Namun justru TUHAN menjadikannya batu yang paling penting dalam sebuah bangunan.

Batu penjuru adalah  batu yang diletakkan di pondasi bagian sudut bangunan untuk menopang tembok yang bersatu dari sudut yang berbeda 90 derajat agar tidak roboh. Dengan kata lain pemazmur berkata bahwa meskipun orang lain menolaknya dan mencoba untuk membunuhnya atau menyingkirkannya, tetapi Tuhan mengangkatnya tinggi untuk menjadi bagian paling penting dalam rencana Allah. Ini nantinya digenapi dalam Diri Tuhan Yesus (Mat21:42).

Jadi intinya: Diitolak oleh manusia tidak masalah, yang penting tidak ditolak oleh Tuhan. Yang jauh lebih penting adalah kita diterima oleh Tuhan menjadi bagian penting dalam rencana Allah. Tuhan Yesus ditolak oleh ahli Taurat, imam-imam dan orang Farisi, karena mereka memiliki rencana, gambaran, keinginan sendiri tentang Juruselamat. Itulah sebabnya mereka berusaha menyingkirkan/membuang/membunuh Tuhan Yesus. Tetapi justru TUHAN YESUS menjadi BATU PENJURU sebuah bangunan rohani baru yang berasal dari Allah, yaitu GEREJA (Kis.  4:11-12; Ef.2:19-22).

Mengapa para “tukang bangunan“ ingin menyingkirkan Tuhan Yesus? A.Mereka mengejar kepentingan sendiri, bukan rencana Allah. Sosok Juruselamat yang mereka inginkan bukan Yang menyelamatkan manusia dari hukuman dosa, tetapi seorang yang melepaskan mereka dari perbudakan bangsa Romawi dan memimpin mereka kembali menegakkan kerajaan Israel yang makmur. Keinginan mereka ini jelas tidak sesuai dengan janji TUHAN. B. Mereka tidak dapat melihat gambaran keseluruhan dari rencana Allah, tetapi membuat kesimpulan berdasarkan keadaan yang mereka lihat saat itu. Mereka fokus pada keadaan mereka yang terjajah, itulah sebabnya mereka tidak dapat melihat gambaran utuh dari rencana Allah sejak zaman Adam. Semangat nasionalisme yang tinggi menyebabkan mereka mendambakan sosok Juruselamat yang melepaskan mereka dari perbudakan Roma.

Seorang penulis dari Harvard (Rosabeth Moss Kanter) menuliskan sebuah artikel tentang Zoom in and zoom out pada tahun 2011. (1.). Zoom in: memperbesar tampilan obyek pada kamera dengan cara mendekatkan lensa. (2.).Zoom out: memperkecil tampilan obyek dengan cara menjauhkan lensa. Zoom in membuat orang melihat satu objek kecil dari keseluruhan objek besar secara detil, tetapi ia tidak melihat gambaran utuh objek tersebut. Inilah kegagalan yang dialami oleh ahli Taurat, para imam dan orang Farisi sehingga mereka menolak Kristus.

Apa hikmat yang dapat kita pelajari dari Mazmur ini? Yaitu: Kemampuan melihat detail dan gambaran utuh secara seimbang menolong kita menilai dengan bijaksana. Seorang panglima perang tidak dapat memenangkan peperangan jika hanya berfokus pada satu medan perang kecil saja, ia harus dapat melihat gambaran keseluruhan wilayah di mana medan perang itu berada. Orang-orang yang menolak pemazmur dan ingin menyingkirkannya tidak dapat melihat gambaran utuh kehidupan pemazmur, mereka hanya melihat pemazmur dari satu atau dua sisi kehidupannya, dan biasanya itu adalah kelemahannya saja. Contoh: Miopia: Hanya bisa melihat jelas dari jarak dekat. Hipermetropia: Hanya bisa melihat jelas dari jarak jauh. Presbiopia: Kondisi mata yang kehilangan kemampuan fokus secara bertahap, untuk melihat objek pada jarak dekat. Seiring bertambahnya usia, otot di sekitar lensa mata akan kehilangan elastisitasnya dan mengeras. Kondisi mengerasnya otot-otot lensa itu lah yang menyebabkan presbiopi. Lensa menjadi kaku dan tidak bisa berubah bentuk, membuat cahaya yang masuk ke retina tidak fokus. Kalau itu terjadi secara jasmani, maka secara mental kadang manusia juga dapat mengalaminya. Mereka tidak dapat melihat hidupnya dari gambaran keseluruhan, berpikir bahwa hidupnya sangat menderita karena selalu fokus pada beberapa pergumulan yang mereka alami, sebaliknya mereka tidak dapat melihat gambaran besar rencana dan  pertolongan Allah dalam hidupnya.

Bagaimana Anda memandang kehidupan Anda? Jika Anda dapat melihat gambaran utuh kehidupan Anda, maka Anda akan dapat mensyukuri berkat-berkat yang Anda nikmati bertahun-tahun. Jangan hanya fokus pada masalah saja. Bagaimana Anda memandang pasangan Anda?orang tua Anda? anak-anak Anda? Jika yang nampak hanya kejelekan saja, maka kita perlu memeriksa cara  kita memandang mereka. Jika kita ingin memiliki keluarga yang bahagia, kita perlu melihat secara seimbang. Jangan hanya melihat kelemahan saja. Perhatikan kelebihan mereka. Be a fair person (1 Sam16:7). Agar tidak mudah tersinggung, jangan hanya terpaku pada perbuatan atau perkataan orang kepada kita, tetapi lihatlah maksudnya (Ams27:6). Bagaimana Anda memandang gereja ini? Jika kita terus melihat kelemahan pada satu atau dua hal, dan tidak melihat gambaran secara keseluruhan, maka kita dapat membuat kesimpulan yang kurang seimbang. Seluruh pelayan Tuhan harus dapat menjaga keseimbangan zoom in dan zoom out. Jangan terpaku pada kelemahan yang kita miliki, tetapi belajarlah melihat pada berkat yang Tuhan berikan bagi kita.Amin!

17
Des 2018
di Ruang Rehat
Pkl. 18:00
23
Des 2018
di Ruang Ibadah
Pkl. 08:30
2
Des 2018
Bp. Bambang Sulistyo, M.Th.
25
Nov 2018
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
18
Nov 2018
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
11
Nov 2018
Ps. Benjamin Chew