Ringkasan Khotbah

14
Okt 2018
MAZMUR 76:4
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.

Mazmur ini sepertinya ditulis pada saat umat Allah mengalami sebuah kemenangan besar atas musuh tertentu yang mengancam, dan dimaksudkan untuk menyanjung kemenangan itu. Septuaginta menyebutnya, “Lagu tentang bangsa Asyur,” sehingga banyak para penafsir handal menyimpulkan bahwa mazmur ini dituliskan ketika pasukan Sanherib, yang saat itu sedang mengepung Yerusalem, disapu habis oleh malaikat pembinasa pada zaman Hizkia.

Latar belakang penulisan Mazmur ini oleh keturunan Asaf (2 Taw32:9-11, 16-17, 20-22). Dan memang beberapa perikop dalam mazmur ini sangat cocok dikaitkan dengan kejadian ajaib itu. Akan tetapi, di sana juga terkandung sorak-sorai rohani yang diraih oleh karena suatu kemenangan lain, yaitu pada masa Yosafat, yang mungkin juga merupakan pokok bahasan dari mazmur inidanbisa disebut sebagai “sebuah lagu Asaf,” karena selalu dinyanyikan oleh putra-putra Asaf. Atau, mazmur ini mungkin ditulis oleh Asaf yang hidup di zaman Daud, ketika mereka mengalami banyak kemenangan yang dianugerahkan Allah untuk menghormati masa pemerintahan itu. Apa pun kemenangan besar yang dimaksudkandi dalam mazmur ini.

Mazmur ini sesuai untuk dipakai pada hari pengucapan syukur atas keberhasilan umat Allah dan juga cocok dipakai dalam kesempatan lain. Sebab, di setiap waktu, kita selalu bisa mempermuliakan Allah atas perbuatan ajaib yang Ia lakukan bagi umat-Nya dulu, terutama atas kemenangan Sang Penebus melawan kuasa kegelapan, yang diperlambangkan oleh segala kemenangan dalam Perjanjian Lama, setidaknya kemenangan-kemenangan yang dirayakan di dalam mazmur-mazmur.Jadi secara sederhana kita bisa melihat gaya hidup keturunan Asaf yang selalu memuji Tuhan. Setiap kali mereka melihat karya Tuhan, mereka memuliakan Tuhan. Memuji Tuhan telah menjadi gaya hidup mereka. Nyanyian ini diajarkan kepada umat Tuhan, dengan tujuan agar nyanyian ini dinyanyikan dalam keseharian mereka dalam segala keadaan. Dengan kata lain, umat Tuhan diajarkan untuk memuji Tuhan sebagai gaya hidup mereka.Dalamsusah maupun senang memuji Tuhan. Ini gaya hidup yang sangat baik.

Bagaimana kita bisa memuji Tuhan sebagai gaya hidup kita?

1. Menghargai dan mengingatkarya Tuhan dalam hidup kita. Keturunan Asaf menyebutkan karya Tuhan dalam Mazmur ini karena mereka menghargainya, dan itulah sebabnya mereka tidak ingin karya Tuhan terlupakan. Mereka menceritakan bagaimana Tuhan menolong mereka dengan cara yang ajaib. Ketika dalam keadaan terjepit Tuhan menyelamatkan mereka. Lagu ini dicatat agar karya Tuhan dicatat dan diingat turun-temurun. Jika kita benar-benar menghargai karya Tuhan dalam hidup kita, kita tidak akan pernah melupakannya. Karya Tuhan adalah hal yang terpenting bagi kita. Manusia akan melupakan hal-hal yang dianggapnya kurang penting (Ul4:9-10). Ada peribahasa: Kita tidak perlu mengingat kebaikan yang kita lakukan untuk orang lain, tetapi kita harus mengingat kebaikan yang orang lain lakukan untuk kita. Maksudnya adalah ketika kita berbuat baik kepada orang lain, kita tidak sedang ingin dihargai. Tetapi jika kita menghargai kebaikan orang lain kepada kita, maka kita tidak akan pernah melupakannya. Bangsa Israel melupakan kebaikan Tuhan, sehingga mereka berbuat dosa (Hak.3:7). Pujian harus setiap hari dilakukan sebagai bentuk penghargaan kepada Tuhan.

2. Mempercayai Tuhan dalam segala keadaan. Orang yang memiliki gaya hidup memuji Tuhan akan melakukannya dalam segala keadaan, entah susah maupun senang, mudah maupun sulit. Nyanyian ini dinyanyikan agar umat Tuhan belajar memuji Tuhan dalam segala keadaan. Asaf menyadari bahwa jalan hidup kadang dapat menghadapi tantangan, namun jika dihadapi dengan mempercayai Tuhan dengan sungguh-sungguh maka kemenangan bisa didapatkan. Ketikadalam keadaan enak, memuji Tuhan itu mudah, tetapi ketika dalam keadaan tidak enak dan kita masih dapat memuji Tuhan, itu yang luar biasa. Itu berarti kita mempercayai kebaikan Tuhan dalam segala keadaan, itu berarti kita mempercayai rencana Tuhan di atas rencana dan akal pikiran kita. Kadang akal pikiran manusia menjadi halangan untuk mempercayai Tuhan, tetapi akal pikiran harus tunduk pada firman. Ketika kita mempercayai Tuhan dalam segala keadaan, kita akan menjadi umat yang tidak mudah meragukan Tuhan. Dengan demikian gaya hidup memuji Tuhan akan menjadikan kita kuat. MemujiTuhan ketika keadaan berat menunjukkan bahwa kita mempercayai Tuhan dengan segenap hati, menyerahkan masa depan dalam pertolongan Tuhan. Ini artinya sedang mempercayai sifat Tuhan yang senang menolong umat-Nya (Yes.  41:10).

3. Menempatkan Allah dalam posisi yang benar dalam hidup kita. Bos kita adalah Tuhan, bukan keinginan kita. Jika kita hanya memuji Tuhan pada saat semua nyaman-nyaman saja, dan mengatai Tuhan ketika keinginan kita tidak dituruti, maka kita lah yang menjadi bos bagi diri kita sendiri. Penyembahan berhala dilakukan kepada berhala yang menuruti keinginan umatnya, siapa bos yang sesungguhnya jika demikian? Allah bertahta di atas pujian umat-Nya (Mzm. 22:4). Ketika umat Tuhan memuji-Nya dalam keadaan berat ini membuktikan bahwa manusia tidak menyetir Tuhan, tetapi tunduk pada rencana danwaktu-Nya. Pada saat kita memuji Tuhan, maka iblis dikalahkan. Kita lebih memilih untuk mempercayai Tuhan daripada godaan setan. Asaf mengajarkan kita untuk menghargai dan mengingatkarya Tuhan dalam hidup kita, mempercayai Tuhan dalam setiap keadaan, dan memastikan Tuhan bertahta dalam hidup kita! Itu hanya dapat dicapai dengan memiliki gaya hidup memuji Tuhan setiap saat. Amin!

19
Nov 2018
di Ruang Rehat
Pkl. 18:00
9
Des 2018
di Ruang Baptis
Pkl. 11:00
11
Nov 2018
Ps. Benjamin Chew
4
Nov 2018
Bp. Bambang Sulistyo, M.Th.
28
Okt 2018
Pdt. Agus Setiadi (GES Solo Baru)
21
Okt 2018
Ps. Benny Yulianto, S. Th.