Ringkasan Khotbah

23
Sep 2018
MAZMUR 55:23
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.

Daud dikhianati oleh sahabat dekatnya sendiri. Ini pengalaman memiliki musuh dalam selimut. “Musuh dalam selimut” merupakan sebutan yang diberikan bagi musuh dari kalangan sendiri. Ada orang yang berpendapat bahwa lebih mudah menghadapi musuh yang nyata daripada kawan yang berkhianat. Daud tidak lepas dari “musuh dalam selimut”. Orang itu malah tampaknya sangat akrab, dan bahkan pergi beribadah sama-sama dengan Daud. Jadi Daud sedang menghadapi orang yang keras hati, tampak beribadah tetapi bebal. Meskipun mendengar Firman tetapi tidak takut Tuhan, meskipun memahami Firman tetapi terus sengaja berbuat jahat dan menyakiti Daud. Daudmerasa dikhianati, sehingga ia merasa terluka dan tertekan.

Gaya Baru dalam menghadapi pengkhianatan:

1.Jangan biarkan kejahatan merusak damai dan sukacita dalam hati kita (Mzm. 55:7-8). Mengapa Daud ingin bermalam di Padang gurun? Bukan karena ia takut, tetapi karena ia tidak ingin membalas. Ia tidak ingin menjadi jahat karena kejahatan orang lain. Jika Anda membalas orang lain dengan penuh dendam dan kebencian, maka Anda telah berubah, iblis berhasil merubah hati Anda dari yang penuh kedamaian dan sukacita menjadi penuh kebencian, bukan pengecut. Ingatlah bagaimana ia menghadapi Goliat ketika tidak ada seorang Israel pun yang berani menghadapinya. Kejahatan orang lain terhadap kita tidak boleh mengubah kita menjadi orang yang penuh dengan kebencian. Orang yang penuh kebencian sebenarnya akan penuh dengan kejahatan, sebab kebencian tidak akan pernah dipuaskan. Pembalasan dendam tidak akan pernah puas walaupun orang yang dibenci telah mati. Pembalasandendam itu mottonya “once will never enough“. “Apakah dengan menyakiti orang yang telah menyakiti Anda akan menyelesaikan masalah?” “Apakah dengan membentak orang yang telah membentak Anda menjadikan Anda berdua saling berdamai?” “Apakah dengan mengumpat, mencaci, mengotori mulutmu dengan kata-kata kasar kepada orang yang menghardik Anda akan membuat Anda menjadi lebih baik darinya?” Orang yang berkata: “ya” akan tenggelam dalam api amarah. Dendam memenuhi hatinya. Sampai kapan dia mampu bertahan dengan itu? Kenyataan yang sebenarnya adalah: Ketika Anda menyakiti orang yang menyakitimu, apakah akan menjadi impas? Tidak! Masalah tidak terselesaikan begitu saja tanpa adanya saling memaafkan. Kenyataannya, kalian akan saling terus membenci dan bertambah benci. Dua orang yang saling membentak tidak akan berhenti, kecuali salah satunya berhenti. Dua orang yang saling membenci tidak akan pernah usai, selain salah satunya menghentikan kebenciannya. Ini pilihan, antara dia yang berhenti membencimu lalu meraih ketenangannya, atau Anda menghentikan kebencianmu lalu meraih ketentraman hatimu. Silahkan pilih. Jikahatimu dan mulutmu dikotori dengan kebencian lalu bergunjing tentang keburukan-keburukan orang itu, coba kau tanyakan pada dirimu sendiri, “apa bedanya aku dengan dia?” jika kau berkata kotor sebagai balasan karena dia telah berkata kotor kepadamu, apa bedanya? Kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu tidak akan pernah membuatmu lebih baik. Ini kenyataan. Mungkin ada perasaan puas, tapi tetap kebencian itu tidak pernah sirna, justru semakin membara dan meletup-letup. Absalom membiarkan dirinya dipenuhi kebencian, dan akhirnya kebencian itu menguasai dirinya dan mengubahnya menjadi seorang monster. Ia membunuh Amnon, mengadakan kudeta terhadap ayahnya, meniduri gundik-gundik ayahnya, ingin membunuh ayahnya dengan tangannya sendiri, dan akhirnya ia sendiri mati dengan penuh kebencian. Jika sedari awal ia menghadapinya dengan pengampunan dan meminta ayahnya menegakkan hukum kerajaan maka kisah hidupnya tentu berbeda (2 Sam13:22). Satu-satunya cara menghentikan itu hanyalah dengan memenuhi hati dengan cinta kasih. Perwujudan cinta kasih itu adalah adanya maaf. Bukan menuntut maaf dari orang lain, tapi maaf yang muncul dari dalam hati Anda. Itulah yang akan membuat hati Anda penuh kedamaian.

2 .Mencari Tuhan untuk menguatkan. Daud hanya mencari Allah. Ia meminta agar Allah memerhatikan masalahnya dan mendengarkan permohonannya Ia meminta Allah yang bertindak atas orang yang berkhianat itu. Permohonan itu didasarkan pada keyakinan bahwa Allah akan memelihara umat-Nya. Melalui Mazmur ini, Daud mendorong orang Israel dan pembaca Mazmur yang mengalami hal tersebut untuk menyerahkan beban mereka kepada Allah daripada menanggung hal itu sendirian. Menghadapisikap orang yang memusuhi kita saja sudah tidak menyenangkan, apalagi bila harus menanggung pengkhianatan dari orang yang karib dengan kita atau saudara seiman kita. Rasa sakitnya melebihi daripada disakiti oleh orang lain. Dalam keadaan berat seperti itu sangat sulit untuk menguasai emosi dan perasaan. Umumnya orang akan terombang-ambing hanyut dalam perasaan yang kacau sehingga mengalami tekanan berat. Kadangmudah mengampuni, tetapi kadang terasa sangat berat. Naluri alami manusia ketika disakiti umumnya: membalas, membenci dan mengasihani/melukai diri sendiri. Saat merasa tidak mampu mengampuni, carilah Tuhan, seperti Daud mencari Tuhan. Tuhan akan memberikan kekuatan yang kita perlukan untuk mengampuni dan memberkati orang-orang yang menyakiti hati kita. Gileadmemiliki isteri dan anak-anak, namun suatu hari ia membawa pulang seorang perempuan sundal dan kemudian memiliki anak bernama Yefta. Sejak kecil Yefta hidup dalam hinaan saudara-saudaranya, anak-anak ayahnya. Yefta lahir ke dunia bukan karena ingin lahir sebagai anak seorang perempuan sundal. Yang harus disalahkan adalah Gilead, bukan Yefta. Lalu setelah besar, maka anak-anak Gilead mengusir Yefta dari rumah itu, Yefta pergi dengan kepahitan dan ia menjadi seorang yang keras dan menjadi kepala perampok, terbiasa berperang demi mempertahankan hidupnya. Ia merasa tertolak dan terbuang.Lalu orang Amon menyerang wilayah Gilead. Dalam keadaan terdesak, tua-tua daerah itu yang adalah saudara-saudara Yefta, anak-anak ayahnya datang meminta tolong kepada Yefta. Yefta mengampuni saudara-saudara kandungnya yang mengusir dia pergi dari rumah, dan bahkan menolong mereka (Hak11:7-8, 11). Yefta mencari Tuhan dalam pergumulan batin yang dihadapinya itu. Terlepas dari sumpah ceroboh yang diucapkannya, Yefta mengampuni orang yang menyakitinya, karena ia dimampukan oleh Tuhan.

3. Menyerahkanhak untuk membalas ke  dalam tangan Allah. Gaya lama: Balas dendam. Pembalasan dendam bukanlah sebuah jalan keluar, mencari keadilan dari pengadilan dunia juga tidak selalu memecahkan masalah. Kitatidak boleh membalas kejahatan dengan kejahatan (Ams20:22; Rm. 12:19-21). Standar orang percaya adalah mampu memberkati orang-orang yang menyakiti hati kita (Luk6:27-29). Yusuf mengampuni dan memberkati saudara-saudaranya yang menjualnya ke Mesir menjadi budak. Ia bahkan memberkati dan memelihara mereka. Membalas kejahatan dengan kebaikan. Itulah sebabnya ia disebut istimewa! Bukan diistimewakan, tetapi ia orang yang memang luar biasa (Kej49:26). Anda akan menjadi orang yang istimewa jika dapat mengampuni dan memberkati orang yang menyakiti Anda (Mat. 5:44-47). Adakah yang tersakiti? Carilah Tuhan agar Ia menguatkan Anda untuk mengampuni. Serahkan hak pembalasan ke dalam tangan Allah. Amin!

17
Des 2018
di Ruang Rehat
Pkl. 18:00
23
Des 2018
di Ruang Ibadah
Pkl. 08:30
2
Des 2018
Bp. Bambang Sulistyo, M.Th.
25
Nov 2018
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
18
Nov 2018
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
11
Nov 2018
Ps. Benjamin Chew