Ringkasan Khotbah

16
Sep 2018
Mazmur 48: 1-14
Ps. Benny Yulianto, S. Th.

Sion menggambarkan tentang kemuliaan, keselamatan dan kebanggaan bagi umat Tuhan sehingga merupakan pusat penyembahan umat Israel pada masa itu. Tentang kemuliaan Sion, bani Korah memuji Allah karena Sion menjadi mulia sebab ada Tuhan yang besar dan sangat terpuji di dalam kota itu. Bani Korah juga memuji atas keselamatan  yang telah Allah perbuat atas Sion karena Allah menegakkan kota itu sehingga tetap jaya. 

          Umat Allah bukan hanya mendengar tetapi juga mengalaminya sendiri yaitu bagaimana Allah hadir di dalam hidup mereka. Bani Korah juga bangga atas Sion karena kemasyuran Allah menjadi penguasa Sion dan umat Israel dan istimewanya Sion menjadi milik Allah. Nyanyian ini dibuat dan dinyanyikan guna mengingat kebesaran, keagungan serta kemuliaan Tuhan yang harus diperdengarkan terus menerus dan sebagai bentuk penyembahan kepada Tuhan. Dalam Perjanjian Baru konsep penyembahan orang Yahudi sudah diperbaharui oleh Yesus di saat Yesus bertemu dengan wanita Samaria di sumur Yakub (Yoh.  4:21-24)

          Penyembahan yang saya maksud di sini adalah bentuk penghormatan kepada Tuhan baik melalui nyanyian maupun perilaku kehidupan kita sehari-hari sebagai ungkapan rasa syukur atas kebaikan Tuhan seperti yang dilakukan umat Tuhan di Sion. Dalam menyatakan rasa hormat dan syukur mereka kepada Tuhan, Yesus mengajarkan kepada orang Yahudi tidak lagi dilakukan di  Gunung Gerizim atau Yerusalem (Gunung Sion) tetapi kepada Bapa dalam roh dan kebenaran sebab itulah yang dikehendaki oleh Bapa. Yesus sudah memperbaharui konsep penyembahan mereka bukan lagi diarahkan kepada gunung gerizim atau Yerusalem (gunung Sion) tetapi dilakukan dalam roh dan kebenaran. Tidak lagi kepada simbol-simbol keagamaan tetapi dalam roh dan kebenaran yang artinya bukan sekedar melakukan ritual agamawi tetapi dengan kesunguhan hati dengan rasa hormat dan takut akan Tuhan. Hati-hati dengan kembalinya konsep Penyembahan Gunung Gerizim dan Yerusalem (Kiblat yang lama) sebab Tuhan Yesus telah mengajarkan penyembahan dalam roh dan kebenaran (kiblat yang baru) artinya jangan mengembalikan fokus penyembahan kita kepada hal-hal yang bersifat materi atau lahiriah tetapi berfokus kepada Tuhan Yesus.

Prinsip penyembahan yang diperbaharui:

1. Esensi penyembahan. Pusat penyembahan kita adalah Tuhan dan bukan yang lain (Mzm. 48:1,3). Menyembah dalam bahasa asli yaitu memberi hormat kepada Tuhan. Kaburnya esensi (hakekat/inti) dari penyembahan menjadikan seseorang memiliki fokus yang salah yaitu kepada yang bersifat lahiriah dan bukan kepada Tuhan. Jemaat bukan lagi berfokus kepada Tuhan tetapi kepada diri sendiri dan kepada perkara-perkara duniawi. Mereka rajin ke gereja bukan untuk membangun iman sehingga nampak di saat menghadapi masalah mereka merasa kuatir dan tidak memiliki iman kepada Tuhan yang besar (2 Tim. 3:5). Permasalahan-permasalahan dan perselisihan yang timbul di tengah-tengah jemaat juga disebabkan karena masing-masing mencari kepentingan-kepentingan diri sendiri dan bukan kepentingan Kristus (Fil. 2:21). Tuhan Yesus yang harus dimuliakan dalam hidup kita dan bukan diri kita sendiri. Tuhan Yesus yang harus ditinggikan dan bukan diri kita sendiri. Esensi penyembahan yang benar akan berdampak kepada berkat kehidupan rohani yang besar yaitu hati kita beroleh kepuasan secara rohani (Yoh. 4:14). Kalau kita menempatkan Yesus Tuhan sebagai penyembahan kita maka kita akan beroleh sumber air kehidupan. Mari kita miliki esensi penyembahan yang benar agar terpancar air kehidupan yang menjadikan kita dapat bersukacita meskipun dalam kesesakan dan beroleh kekuatan disaat mengalami tekanan (Fil. 4:13).

2. Sikap penyembahan. Penyembahan dilakukan dalam sikap yang benar dan bukan sekedar tindakan ritual agama (Mzm. 48:8-9). Pemberian rasa hormat dan kemuliaan yang diberikan kepada Tuhan benar-benar berdasarkan dari sebuah pengalaman hidup dan bukan sekedar tuntutan hukum taurat. Sikap penyembahan yang salah menjadikan pemberian hormat dan syukur seseorang hanya sebagai bentuk rutinitas ritual saja sehingga tidak membawa dampak peningkatan rohani. Seperti wanita Samaria ini menyembah kepada apa yang tidak dikenal ini merupakan sikap yang salah (Yoh. 4:22). Orang merasa puas ketika telah melakukan kegiatan agama secara rutin di tempat yang sama dan tidak memperhatikan dampak dari penyembahan itu sendiri ini adalah sebuah tindakan yang salah sebab apa yang dilakukannya tidak tahu kepada siapa dan untuk siapa mereka melakukan (Yes. 29:13). Merasa puas kalau sudah pergi ke gereja di hari Minggu, atau sebaliknya merasa ketakutan kalau hari Minggu tidak beribadah. Ketakutan bukan pengertian hormat tetapi ketakutan kehilangan berkat duniawinya; contoh takut besok makan apa, takut bisnisnya bangkrut, takut terjadi kesialan, dll. Marilah kita beribadah dengan cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut dan bukan dengan cara atau kemauan kita sendiri (Ibr. 12:28-29). Milikilah sikap penyembahan yang benar yang akan mendatangkan sumber kehidupan.

3. Motivasi penyembahan. Motivasi dari penyembahan untuk kebesaran nama Tuhan (Mzm. 48:14). Motivasi penghormatan yang salah akan membelokkan penyembahan kita, bukan lagi untuk kebesaran nama Tuhan dan kepentingan kerajaan-Nya tetapi kemuliaan pribadi. Wanita Samaria meminta air yang ditawarkan Yesus hanya untuk memuaskan diri sendiri atau untuk kepentingan diri sendiri (Yoh. 4:15). Tetapi setelah mendengar dan mengenal siapa Yesus maka berubahlah hidupnya dan pergi untuk menyatakan kemuliaan Tuhan (Yoh. 4:29-30). Motivasi atau tujuan penyembahaan yang benar akan membawa perubahan hidup bagi kemuliaan Tuhan (Mzm. 48:13). Lakukanlah segala sesuatu unuk kemuliaan Tuhan baik pelayanan kita maupun apa yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari sebagai bentuk penghormatan atau penyembahan kita kepada Tuhan (1 Pet. 4:11). Amin!

19
Nov 2018
di Ruang Rehat
Pkl. 18:00
9
Des 2018
di Ruang Baptis
Pkl. 11:00
11
Nov 2018
Ps. Benjamin Chew
4
Nov 2018
Bp. Bambang Sulistyo, M.Th.
28
Okt 2018
Pdt. Agus Setiadi (GES Solo Baru)
21
Okt 2018
Ps. Benny Yulianto, S. Th.