Ringkasan Khotbah

17
Jun 2018
Ester 9:32
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.

Tuhan memerintahkan Raja Saul untuk menumpas bangsa Amalek pada zaman pemerintahannya. Tetapi Saul menolak menaati perintah Tuhan, ia menyelamatkan Agag dan keluarganya. MengapaTuhan hendak memusnahkan bangsa Amalek? Sebab mereka tidak mau bertobat sama sekali meskipun berulang kali diperingatkan oleh Tuhan. Mereka terkenal menjadi bangsa yang sangat bejat dan berdosa, lagipula sangat kejam. Mereka menjadi bangsa yang mendatangkan kesusahan bagi bangsa-bangsa lain. Lagipula mereka ingin memusnahkan bangsa Israel bahkan pada saat Israel lemah, dan baru saja keluar dari perbudakan Mesir. Pemusnahan bangsa Amalek adalah keputusan Tuhan, sama seperti ketika Tuhan memusnahkan Sodom danGomora (1 Sam15:17-23).Alkitab mengatakan bahwa kemudian Nabi Samuel mencincang Agag di hadapan Tuhan (1 Sam. 15:33). Namun masalahnya, karena kesalahan Saul tersebut maka keluarga Agag berhasil melarikan diri.

Selama masa pemerintahan Saul dan Daud, bangsa Israel berada dalam koridor iman yang lumayan baik, tetapi setelah itu selama ratusan tahun mereka juga berbuat jahat kepada Tuhan, bahkan kelakuan mereka jauh lebih jahat dibandingkan bangsa-bangsa lain yang ditumpas Tuhan. Sebagaiakibat dosanya, bangsa Israel dihukum Tuhan untuk kembali menjalani perbudakan di tanah Siria, Babel dan Persia. Ketikasedang menjalani perbudakan di Persia, maka salah satu keturunan Agag yang selamat berusaha memusnahkan umat Tuhan. Orang itu adalah Haman, seorang pejabat kerajaan Raja Ahasyweros. Ia membuang pur/undian untuk merencanakan hari pemusnahan total bagi orang-orang Yahudi pada masanya. Rencanaitu dimulai ketika Haman diangkat menjadi salah satu pejabat kerajaan Media Persia. Ia ingin disembah seperti orang menyembah dewa, namun Mordekhai, seorang pejabat kerajaan yang juga adalah orang Yahudi, menolak penyembahan seperti itu, sebab bagi Mordekhai penyembahan hanya layak diterima oleh Tuhan saja. Sedangkan bagi Mordekhai menghormati Haman secara baik sudah cukup. Karena panas hati, maka Haman memerintahkan penyelidikan atas kebangsaan Mordekhai dan akhirnya ia menemukan bahwa Mordekhai adalah orang Yahudi. Luka lama sejarah keluarganya yang seharusnya dimusnahkan oleh Saul muncul kembali, sekarang Haman berusaha memusnahkan orang Yahudi secara total. Haman berhasil merancang keputusan pemusnahan total bangsa Yahudi yang disetujui oleh Raja Ahasyweros, yang tertipu oleh akal licik Haman.

Singkat cerita seluruh orang Yahudi di wilayah Kerajaan Ahasyweros bersusah hati, Mordekhai dan RatuEster berusaha keras menyelamatkan bangsanya. Mereka berdoa, berpuasa dan mempertaruhkan nyawa untuk keselamatan bangsanya, dan akhirnya berhasil.  Bangsa Yahudi yang seharusnya musnah pada tanggal 14 bulan Adar tidak jadi dimusnahkan, malah rencana jahat dan sadis yang diatur oleh Haman dan keluarganya berbalik menimpa mereka sendiri. Permaisuri Ester memerintahkan seluruh orang Yahudi untuk merayakan hari kelepasan mereka tersebut. Pur/undian yang dibuat Haman untuk memusnahkan mereka berbalik menjadi pertolongan total dari Tuhan. Hari itu mereka merayakan:

1. Hidup mereka tidak ditentukan oleh pur (undian)/tangan manusia, tetapi tangan Tuhan.

2. Mereka berbuat dosa lebih berat dari bangsa-bangsa yang pernah dimusnahkan oleh Tuhan, tetapi dalam pertobatan mereka diampuni oleh Tuhan.

3. Mereka belajar bahwa meskipun mereka tidak layak diberkati tetapi Tuhan tetap berbelas kasih pada mereka.

Intinya: Tuhan tidak memperhitungkan kesalahan mereka yang tidak terhitung. Tetapi Tuhan mengampuni mereka.

Jika Tuhan menghitung kesalahan mereka, maka habislah sudah riwayat mereka semuanya. Umat Tuhan pada masa itu nyaris binasa tetapi Tuhan membalikkan keadaan. Apa yang mereka alami sebagai akibat jangka panjang kesalahan Saul yang menolak membinasakan Agag dan Amalek. Permaisuri Ester memerintahkan mereka merayakan Purim, untuk memperingati kasih Tuhan yang besar. Lalu Mordekhai memerintahkan agar hari raya itu diperingati selama dua hari setiap tanggal 14-15 bulan Adar, dengan antar mengantar makanan danbersedekah pada orang miskin untuk memperingati kebaikan Tuhan.

Apa hikmah yang dapat dipetik dari peristiwa itu?

1. Tuhan tidak perhitungan kepada kita. JikaTuhan perhitungan kepada kita, dan mengingat-ingat segala dosa kita, maka tidak akan ada seorangpun di antara kita yang selamat. Daridulu iblis ingin memusnahkan dan menghancurkan manusia. Jika bukan Tuhan yang melindungi kita, maka sudah dari dulu peradaban manusia musnah (Mzm. 124:1-8). Kita harus menyadari posisi kita menerima anugerah Tuhan. Tidak layak menerima, tetapi diberi karunia dan belas kasihan untuk menerimanya (Mzm. 103:13-14). Tuhan bahkan rela mengorbankan nyawa-Nya dengan cara turun ke dunia, lahir menjadi Manusia untuk menebus dosa kita. Hukum dunia adalah balas-membalas. Umumnya manusia akan membalas setiap per uatan jahat yang dilakukan orang lain terhadap dirinya. Namun Tuhan memberikan teladan yang jauh berbeda (Mat. 5:44). Ingat bahwa kita telah menerima anugerah yang terbesar!

2. Janganlah kita perhitungan kepada Tuhan. Mengapa Permaisuri Ester bersedia mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan bangsanya? Karena ia menyadari posisinya yang telah mendapatkan karunia yang luar biasa karena kasih Tuhan. Orang didorong untuk menyadari bahwa semua yang ia alami berasal dari Tuhan, untuk itu kita perlu menggunakan apapun yang kita miliki untuk memuliakan Tuhan. Tidak lagi berfokus pada “aku”, tetapi pada rencana Allah. Rakyat diperintahkan untuk bermurah hati kepada sesamanya, dan tidak mengadakan perhitungan karena perintah tersebut. Mereka diperintahkan untuk antar-mengantar makanan kepada orang yang tidak mampu. Mereka diperintahkan untuk menggunakan hartanya bagi kemuliaan Tuhan. Orangyang sadar bahwa ia menerima anugerah Tuhan tidak akan perhitungan ketika memberi kepada Tuhan. Memberi kepada Tuhan dan sesama sebagai bukti “more for God andless of me”. Belajarlah mengabdi dan memberi kepada Tuhan lebih dari batas minimum tersebut. Kita dapat belajar bahwa: Sebanyak apapun kita memberi kepada Tuhan, tidak akan pernah cukup untuk membalas kebaikan Tuhan. Para Rasul dan jemaat mula-mula tidak memberi 10% saja, tetapi mereka bahkan banyak memberi 100% hidup mereka kepada Tuhan. Tidak sedikit yang mengorbankan nyawanya untuk mempertahankan imannya. JikaAnda diminta memilih memberi sebagian/seluruh hidup Anda, mana yang Anda pilih? Alkitab mengajar kita memberi 100% hidup kita kepada Tuhan. Artinya taat dan setia melakukan semua perintah-Nya, bukan keinginan kita. Memberi kepada Tuhan bukan hanya uang, tetapi seluruh hidup kita guna menaati firman. Itu semua sebenarnya demi kebaikan kita sendiri (1 Sam. 15:22-23). Amin!

19
Nov 2018
di Ruang Rehat
Pkl. 18:00
9
Des 2018
di Ruang Baptis
Pkl. 11:00
11
Nov 2018
Ps. Benjamin Chew
4
Nov 2018
Bp. Bambang Sulistyo, M.Th.
28
Okt 2018
Pdt. Agus Setiadi (GES Solo Baru)
21
Okt 2018
Ps. Benny Yulianto, S. Th.