Ringkasan Khotbah

29
Apr 2018
2 Tawarikh 19:1-3; Amsal 7:2
Ps. Benny Yulianto, S. Th.

Memang tidak disebutkan sesungguhnya apa yang menjadi alasan Yosafat menolong Ahab dan bersahabat dengan orang yang membenci Tuhan tersebut. Yosafat memang tercatat sebagai besan dari Ahab. Kemungkinan besar hal inilah yang dapat menjadi alasan Yosafat menolong Ahab untuk memerangi Ramot-Gilead. Namun demikian apa yang dilakukan Yosafat adalah salah di mata Tuhan karena telah menolong Ahab dan bersahabat dengan dia sehingga Yosafat ditegur oleh Tuhan melalui pelihat yang bernama Yehu di mana Yosafat kedapatan berelasi dengan orang yang tergolong fasik dan membenci Tuhan.   

       Bagaimanakah dengan kehidupan kita di zaman modern ini,yang berarti kita tidak lagi hidup seperti di zaman Yosafat yang dengan jelas ada pemisahan antara umat Tuhan dengan umat di luar Tuhan atau disebutnya orang fasik, tetapi kita hidup berada di antara orang-orang fasik dan tinggal bersama dan membangun relasi dengan mereka, ada yang bekerja, berbisnis dengan orang yang belum percaya dan kita juga hidup di bawah pemerintahan mereka, dll.

      Bagaimana sesungguhnya sikap kita sebagai orang Kristen yang berada di antara orang fasik dengan tidak melanggar ketetapan firman Tuhan sehingga hidup kita berkenan kepada Tuhan. Dalam ilmu etika kristen dikenal dengan dua macam bentuk, yaitu Etika Deontologis dan Etika Teleologis. Etika Deontologis artinya hukum lebih penting daripada hasil sedang Etika Teleologis adalah hasil lebih penting daripada hukum.

        Etika Kristen itu  Deontologis, yakin hukum lebih penting dari hasil. Jadi beberapa perbuatan yang dianggap gagal pun itu tetap baik asal tidak melanggar firman Tuhan. Contohnya: adalah lebih baik mengasihi meskipun kehilangan daripada tidak mengasihi sama sekali (Luk. 6:29). Yesus pun ketika hidup di dalam dunia tidak terlepas dari konflik-konflik moral. Konflik besar yang dihadapi oleh Yesus adalah ketika harus mengorbankan keadilan demi manusia beroleh belas kasihan melalui salib. Tentu ada pengecualian pada kasus-kasus tertentu sepertinya Tuhan mengizinkan hasil lebih penting dari hukum. Contoh: berbohong demi kebaikan. Seperti kasusnya para bidan Israel yang berbohong kepada Firaun demi menyelamatkan bayi-bayi Israel yang harus dibunuh. Kasusnya Rahab menyembunyikan para pengintai dan menyelamatkan mereka dengan berbohong kepada musuhnya. Namun demikian pada prinsipnya berbohong tetaplah salah atau dosa.

Apa yang bisa kita pelajari dari kisah ini dan bagaimana menerapkannya di dalam kehidupan modern ini?

1. Alkitab harus menjadi standar utama dalam membangun sebuah relasi. Dalam berelasi dengan orang dunia pastilah diperhadapkan dengan konflik-konflik moral yang nyata. Sebagai contoh bagaimana kita harus bersikap ketika bekerja dengan majikan yang tidak kenal Tuhan? Jika kita bekerja dengan orang lain apalagi orang yang tidak kenal Tuhan, kita harus tetap menghormati majikan kita berdasarkan firman Tuhan dengan tujuan agar nama Tuhan dipermuliakan meskipun keburukan yang kita terima. Mungkin kita diperlakukan tidak adil kita tetap menghormati mereka (1 Tim. 6:1). Bukan hasil yang ingin kita capai sekalipun kita butuhkan tetapi jauh lebih penting melakukan kebenaran firman Tuhan dengan tujuan supaya nama Tuhan dipermuliakan. Bagaimana seharusnya kita dalam membangun bisnis dengan orang yang tidak mengenal Tuhan? Ketika kita membangun hubungan bisnis dengan orang yang tidak mengenal Tuhan, sebagus apapun hasil yang kita peroleh, jika yang kita lakukan melanggar firman Tuhan maka kita harus lebih menaati firman Tuhan daripada melanggar Firman Tuhan (2 Kor. 6:14). Firman Tuhan harus ditempatkan menjadi hal yang lebih utama dan bukan hasil. Inilah yang seringkali menjadi masalah besar yang terjadi. Banyak orang Kristen menjadi batu sandungan bagi orang dunia yang seharusnya kita membawa kemuliaan bagi Tuhan. Kita seringkali lebih mengutamakan hasil meskipun harus melanggar firman Tuhan. Janganlah melihat keberhasilan sebagai berkat Tuhan jika yang kita kerjakan melanggar firman Tuhan. Tidak semua keberhasilan itu berkenan kepada Tuhan jika kedapatan melanggar firman Tuhan. Korupsi sudah menjadi penyakit sosial di tengah masyarakat yang sedang dihadapi oleh bangsa ini. Orang korupsi pada dasarnya ingin mengejar hasil yang banyak meskipun harus melanggar kebenaran. Mereka lebih mengejar kebahagiaan daripada menderita karena melakukan kebenaran firman Tuhan. Korupsi sekalipun tampaknya perolehannya banyak tetapi hal itu melanggar ketetapan Tuhan (Ams. 16:8). Orang Kristen yang lebih mengejar hasil daripada hidup melayani Tuhan dan memprioritaskan Tuhan terjebak kepada hedonisme lebih mengutamakan kenikmatan daging dan memperkaya hidup dengan melanggar kebenaran. Terkadang dijumpai orang Kristen masih berpijak pada dua dunia; sekuler dan rohani. Jadi mereka memisahkan antara yang sekuker dan yang rohani. Maka tidak mustahil kalau orang lain tidak bisa membedakan mana orang Kristen dan mana orang non Kristen bila mereka tinggal bersama. Bagaimana sikap sebagai majikan Kristen terhadap karyawannya? (Kol . 4:1, Ef. 6:9)

2. Segera bertobat jika kedapatan melanggar firman Tuhan. Yosafat mengambil keputusan yang tepat dengan bertobat ketika mendapat teguran dari Tuhan atas kesalahannya. Menjadi hal yang tidak mudah ketika harus mengorbankan sesuatu yang nampaknya baik demi tidak melanggar firman Tuhan. Kita harus berani meninggalkan segala sesuatu yang kita lakukan jika itu melanggar firman Tuhan meskipun hasil yang diperoleh baik alias menguntungkan diri sendiri. Hidup orang percaya harus bergantung kepada Tuhan dan bukan kepada keberhasilan kita (Yer. 27:5-7). Bahayanya orang yang sudah tidak dapat membedakan mana kehendak Tuhan dan mana yang bukan kehendak Tuhan. Mereka akan melakukan segala sesuatu menurut kemauannya sendiri demi keuntungan yang besar bagi diri sendiri. Maka perlunya kita selalu memperbaharui pikiran dan hati kita sesuai dengan firman Tuhan (Rm. 12:2). Kegagalan Yudas menjadi murid Yesus karena pikirannya lebih kepada harta dibandingkan dengan menaati frman Tuhan sehingga Yudas mampu menjual Yesus. Demikianlah kita seringkali demi meraih keuntungan duniawi kita mampu menjual iman kita. Hidup lebih mengutamakan hasil daripada hukum menjadikan kita mudah kompromi atau menghalalkan segala cara demi meraih apa yang kita inginkan dan bukan apa yang Tuhan inginkan. Marilah kita meneladani Yosafat yang cepat berbalik dari kesalahannya dan beroleh pemulihan dari Tuhan. Utamakanlah kebenaran firman Allah di atas segalanya. Amin!

25
Agu 2019
di Ruang Ibadah
Pkl. 08:30
18
Agu 2019
Ps. Benny Yulianto, S. Th.
11
Agu 2019
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
4
Agu 2019
Bp. Bambang Sulistyo, M.Th.
28
Jul 2019
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.