Ringkasan Khotbah

18
Mar 2018
1 Tawarikh 6:31-32
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.

Kitab Tawarikh ditulis untuk orang Yahudi buangan yang dibawa kembali pulang ke negerinya pada masa Ezra dan Nehemia. Tujuannya adalah agar mereka tidak kehilangan hubungan dengan leluhur mereka dan terkhusus agar mereka dapat memahami rencana Allah melalui mereka sejak zaman Adam hingga masa saat mereka hidup setelah masa pembuangan akan tetap digenapi oleh Tuhan. Itulah sebabnya di bagian awal Kitab Tawarikh dituliskan silsilah bangsa Yahudi sejak Adam. Juga dituliskan hubungan silsilah bangsa Yahudi dengan suku-suku Israel.

Bagian ini kita melihat silsilah suku Lewi, keturunan Harun dan para penyanyi/pemuji dalam Bait Allah. Hal ini sangat penting bagi jalannya ritual ibadah bangsa tersebut kepada Tuhan, sebab selama menjalani masa pembuangan sepanjang 70-an tahun, secara umum umat Tuhan tidak mengenal dan menjalankan ritual ibadah tersebut. Dengan kata lain, model ibadah yang mereka miliki perlu dilestarikan. Model ibadah tersebut sebenarnya melambangkan kehidupan yang harus mereka jalani dalam Tuhan. Contoh: Kompleks Kemah Suci dibuat 3 lapis yaitu pelataran, Ruang Kudus dan Ruang Maha Kudus untuk melambangkan 3 tingkatan langit. Langit pertama adalah di mana ada awan, langit ke dua adalah di mana ada matahari, bulan dan bintang. Langit ke tiga adalah Tempat Tahta Allah. Ornamen tumbuhan, buah-buahan, malaikat, dll. melambangkan peristiwa kejatuhan Adam di Taman Eden dan juga rencana Allah untuk menyelamatkan manusia. Ritual ibadah pengorbanan, imam besar, dll. melambangkan bahwa dosa diampuni karena penebusan Tuhan. Itu menggambarkan Tuhan Yesus yang datang menebus dosa manusia.

Dalam pasal 6 secara khusus disebutkan tentang pelayanan orang Lewi, keturunan Harun yang adalah jalur imam besar, dan sekaligus para pemuji dalam rumah Allah. Hal ini berbicara mengenai pelayanan di dalam acara ibadah. Dan semua ritual tersebut merupakan model hidup mereka dalam Tuhan. Apa yang mereka lihat dan alami dalam semua ritual tersebut merupakan sebuah model untuk dilakukan dalam keseharian, bukan lagi dalam bentuk ritual, tetapi dalam esensi kehidupan sehari-hari. Model ibadah yang Anda lihat di gereja, seharusnya menjadi model dalam kehidupan sehari-hari.

Bagaimanakah model hidup dalam Tuhan yang perlu kita jalani?

1. Memuji dan menyembah Tuhan. Daud mengatur para pelayan pujian dan penyembahan karena hal tersebut sangat penting bagi kehidupan rohani orang percaya. Datang on time dalam acara ibadah. Mengikuti PW itu penting. Jadikan model untuk kehidupan sehari-hari.Puji dan sembah melalui perbuatan memang sangat penting, tetapi memuji menyembah melalui lagu juga penting. Belajar menyanyi setiap hari untuk memuji Tuhan. Perhatikan lagu-lagu yang kita nyanyikan. Biasanya ritual ibadah penyembahan umat Tuhan disertai ucapan berkat dari imam (Bil6:22-27). Itulah mengapa ibadah diakhiri dengan doa berkat, dan itu juga penting.

2. Saling melayani dan mengampuni. Ritual korban yang dilakukan oleh orang-orang Lewi menggambarkan tentang pelayanan yang diberikan oleh Tuhan kepada kita untuk menebus dosa kita.Allah yang adalah Raja atas alam semesta melayani kita untuk menyelamatkan kita dari hukuman dosa (Kej. 3:15). Ayat di atas menunjukkan bahwa karena iblis memerangi Kerajaan Allah maka Allah sendiri yang akan datang untuk berperang melawan iblis dan mengalahkannya secara total. Perhatikan kata “Aku akan”, kata tersebut menunjukkan bahwa Tuhan sendiri yang akan datang untuk menyelamatkan manusia dari hukuman dosa, dengan cara diremukkan tumit-Nya atau menjadi tidak berdaya/mati untuk sementara. Itulah sebabnya Yesus datang dan mati disalib bagi kita lalu bangkit dari kematian pada hari ketiga untuk penggenapan nubuatan Tuhan (Mat. 20:26-28). Tuhan memberikan teladan melayani. Bagaimana kita melayani? Di gereja kita melihat orang-orang melayani Tuhan dan sesama, itu juga harus menjadi model bagi orang Kristen dalam hidup sehari-hari bahwa kita dipanggil Tuhan untuk melayani sesama. Secara umum biasanya orang ingin dilayani, juga diperlakukan istimewa, namun di dalam Tuhan kita diajar untuk melayani. Bagaimana bentuk memberi diri melayani sesama dalam hidup sehari-hari? Tuhan memberikan teladan mengampuni. Bagaimana sikap kita dalam mengampuni?

3. Merenungkan firman Tuhan setiap hari. Kitab Tawarikh ditulis oleh Ezra agar dibaca, direnungkan, dipahami dandilakukan oleh umat Tuhan. Para imam Lewi juga memiliki tugas mengajarkan firman Tuhan. Jika di gereja Anda mendengarkan firman Tuhan disampaikan, maka diharapkan dalam keseharian Anda membaca firman dan merenungkannya. Belajar memetik hikmah yang dapat diambil dari firman Tuhan, dan hidup sesuai ajaran Tuhan. Jangan terjebak pada pernak-pernik yang ada dalam teka Alkitab, akibatnya malah kita lupa esensi yang terpenting. Contoh: Bagaimana memetik hikmah dari sebuah cerita.Percobaan seorang guru: Segelas air diisi cacing, gelas lain diisi alkohol. Cacing dalam alkohol mati, sedangkan cacing dalam air tetap hidup. Apa hikmahnya? Jangan minum alkohol. Tapi repotnya ada yang berpikir bahwa supaya tidak cacingan harus minum alkohol. Saat Maria mendengar berita kedatangan Juruselamat ia merenungkannya (Luk2:19).

4. Memberi bagi pekerjaan Tuhan. Kota-kotaorang Lewi menggambarkan tatanan yang diatur Tuhan untuk menghormati orang-orang yang dipilih Tuhan untuk menjalankan ritual ibadah. Itu dituliskan dengan tujuan agar apa yang menjadi hak orang Lewi diketahui dan dihormati oleh seluruh Israel.Umat Tuhan memberikan persembahan kepada Tuhan, untuk digunakan bagi pekerjaan Tuhan. Suku Lewi dikhususkan untuk melayani seluruh umat Tuhan, sedangkan persembahan persepuluhan yang diberikan kepada Tuhan dipergunakan untuk menopang pelayanan suku Lewi tersebut. Itu semua kembali lagi kepada bangsa Israel dalam bentuk pelayanan rohani yang mereka nikmati. Jadi sebenarnya persembahan yang mereka berikan kepada Tuhan kembali lagi kepada mereka. Persembahan materi yang diberikan Israel kepada Tuhan kembali lagi kepada mereka sendiri dalam bentuk pelayanan kerohanian oleh suku Lewi. Tetapi pemberian berupa pujian dan penyembahan kepada Tuhanlah yang menyenangkan hati Tuhan secara langsung, jika dilakukan dengan segenap hati dan dalam kehidupan yang menaati firman Tuhan. Memberi bagi pekerjaan Tuhan sebenarnya menolong kita untuk tidak dikuasai kedagingan. Menolong kita agar tidak mendahulukan diri sendiri lebih dari Tuhan. Daud memberi kepada Tuhan dengan segenap hatinya (1 Taw. 29:1-5). Daudmemilki sikap memberi kepada Tuhan sebagai bukti ia mengutamakan Tuhan, rumah Allah yang ingin dia bangun harus lebih megah dari istananya sendiri. Tetapi Salomo anaknya, nantinya membangun istana pribadinya 2x lebih besar dari Bait Allah. Hal tersebut menunjukkan awal kejatuhan Salomo dalam dosa. Ketika seorang manusia mengutamakan dirinya maka itulah awal kejatuhan. Memberi merupakan sebuah disiplin rohani yang baik agar kita dapat melatih diri mengasihi Tuhan bahkan lebih dari diri kita sendiri. Amin!

17
Des 2018
di Ruang Rehat
Pkl. 18:00
23
Des 2018
di Ruang Ibadah
Pkl. 08:30
2
Des 2018
Bp. Bambang Sulistyo, M.Th.
25
Nov 2018
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
18
Nov 2018
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
11
Nov 2018
Ps. Benjamin Chew