Ringkasan Khotbah

25
Feb 2018
2 Raja-Raja 10:30-31
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.

Tuhan memerintahkan Yehu untuk memusnahkan keluarga Raja Ahab yang sangat jahat dan berdosa. Yehu didaulat menjadi raja menggantikan Ahab. Yehu melaksanakan tugas tersebut dengan baik, sehingga ia diberkati. Tetapi berkat yang didapatnya tidaklah langgeng dimilikinya, mengapa? Alasannya adalah karena Yehu tidaksungguh-sungguh mempercayai Tuhan dan hidup sesuai perintah Tuhan dengan segenap hatinya. Ia tidak menjauh dari dosa-dosa Yerobeam.Yang dimaksud dengan dosa Yerobeam: Membuat tata ibadah baru karena alasan politik (1 Raj. 12:25-28). Musa memerintahkan bahwa ibadah bangsa Israel dilakukan di tempat yang dipilih Tuhan dan dengan cara yang telah diatur Tuhan.

Sebenarnya Yerobeam telah mendapat firman Tuhan bahwa jika ia setia kepada Tuhan maka ia akan memimpin Kerajaan Israel (Utara) yang memisahkan diri dari Raja Rehabeam, anak Salomo (Kerajaan Selatan). Yerobeam tadinya adalah orang Israel biasa, salah satu orang penting dalam Kerajaan Salomo. Tuhan berjanji jika Yerobeam setia memimpin umat Tuhan dengan menaati Tuhan, maka Tuhan akan mengokohkan kerajaannya. Namun masalahnya: Tempat ibadah yang dipilih Tuhanterletak di wilayah kerajaan Salomo, di selatan, sedang Yerobeam memimpin kerajaan utara. Logikanya: Jika ia membiarkan orang Israel beribadah ke Yehuda, maka suatu hari mereka dapat kembali kepada keluarga Raja Daud. Jadi Yerobeam menghadapi 2 pilihan: (1). Percaya pada Tuhan bahwa Ia akan meneguhkankerajaannya meskipun orang Israel tetap beribadah di Yehuda. (2). Percaya pada logikanya sendiri, melawan Tuhan dengan cara mendirikan ritual penyembahan sendiri di wilayah Israel. Sayangnya Yerobeam memilih untuk tidak mempercayai Tuhan. Tindakannya menyebabkan bangsa Israel jauh lebih buruk dari sebelumnya, karena ia mendirikan ibadah sesuai aturannya sendiri dan melawan perintah Tuhan. Akhirnya Yerobeam dihukum Tuhan, keluarganya yang seluruhnya jahat dimusnahkan.Lalu apakah Yehumenghadapi keadaan serupa? Ya. Ia menghadapi godaan yang sama dengan Yerobeam. Dan ia memilih membiarkan ibadah yang melanggar Taurat demi memastikan agar rakyat yang mengikutinya setia kepadanya dan tidak kembali pada keluarga Raja Daud. Memang pada waktu itu ia sedang dalam keadaan lemah dan berperangdengan Kerajaan lain, ia memerlukan dukungan mutlak dari rakyatnya. Intinya: Yehu lebih mempercayai pemikiran politiknya daripada mempercayai Tuhan. Ia membuktikan dirinya tidak dapat dipercaya mengelola tanggung jawab. Apakah Yehumengetahui kesalahan Yerobeam dan akibat yang dialaminya? Ya! Namun mengapa ia masih melakukan kesalahan yang sama? Lucunya, Yehu tahu bahwa firman Tuhan selalu digenapi, bahkan ia mengakui bahwa nubuatan Elia digenapi. Dan ia sendiri menerima nubuatan dari penebusan nabi Elia. Ia percaya bahwa nubuatan Elia untuk keluarga Ahab digenapi tetapi meragukan nubuatan Nabi Elisa untuk dirinya sendiri (2 Raj10:10). Yehu tidak mengatur pikirannya dengan benar! Apakah ia mengalami kerugian seperti Yerobeam? Ya, keturunannya hanya memerintah sampai generasi ke empat. Apakah Tuhan memang merencanakan hanya memberkatinya sampai keturunan kesempatan? Tidak! Sebenarnya Tuhan menawarkan berkat yang langgeng dan penuh. Apakah Anda ingin berkat penuh dari Tuhan?

Bagaimana mengatur pikiran dengan benar agar kita mengalami berkat penuh dari Tuhan?

1. Izinkan firman Tuhan menuntun logika kita. Manusia di karuniai logika untuk menolong dirinya agar mempercayai Tuhan, namun seringkali justru logika manusia membuatnya sulit mempercayai Tuhan. Logika itu baik, tetapi harus dikendalikan karena tidak selalu benar. Kasus Yerobeam dan Yehu: Menerima firman/perintah Tuhan, yang seharusnya memberikan jaminanbahwa yang mereka kuatirkan tidak akan terjadi. Jika taat pada Tuhan, maka meskipun rakyat beribadah di wilayah Kerajaan Yehuda, rakyat akan tetap setia mengikuti mereka di Kerajaan Israel. Mereka berdua memilih mempercayai perhitungan militer dan akal budi mereka saja. Mari kita pakai akal budi kita untuk mempelajari jalan Tuhan. Jalan Tuhan kadang bertentangan dengan logika! Contoh: Mengampuni vs balas dendam. Orang yang mengandalkan logika sendiri memang dapat diberkati dalam batas tertentu, tapi tidak bisa menerima berkat penuh. Apa artinya sukses dalam hal keuangan tetapi dikuasai dendam. Orang yang hidup dalam dendam kehilangan berkat sukacita dan damai sejahtera (Mat. 5:44-48).

2. Pahami bahwa yang tampak sebagai kenyataan seringkali bukanlah sebuah kebenaran. Kenyataan yang diharapkan Yerobeam dan Yehu: Bangsa Israel yang tadinya dipimpin oleh keturunan Raja Saul yang ditolak Tuhan, pada akhirnya menundukkan diri di bawah kepemimpinan Raja Daud. Bagi Yerobeam dan Yehu hal tersebut merupakan sebuah kenyataan. Namun apa yang terjadi sesungguhnya? Tuhan berjanji kepada Daud bahwa Tuhan akan memberikan seluruh Israel dalam kepemimpinannya, dan itu terjadi sesuai firman-Nya. Jadi kenyataan mana yang menjadi kebenaran? Ternyata fIrman/janji Tuhanlah yang menjadi kebenaran! Bagaimana menemukan kebenaran? Renungan firman Tuhan dan berdoa agar dapat dipimpin Tuhan menemukan kebenaran di balik kenyataan. Contoh: Apakah semua orang yang tampil dengan barang mewah adalah orang kaya? Apakah orang yang tampil lusuh adalah orang miskin? Belum tentu! (Ams13:7). Di balik masalah dapat tersimpan berkat besar di baliknya! Contoh: Ketika Daud menghadapi Goliat, ia belum tahu bahwa di balik kemenangannya ada rencana Tuhan yang besar atas hidupnya. Untungnya ia tidak mengeluh. Di balik kesulitan yang di alami oleh Rut dan Naomi ada berkat besar dipersiapkan Tuhan bagi mereka, Nama Rut tertulis dalam silsilah keluarga yang dipilih Tuhan untuk menjadi saluran kelahiran Mesias (Rm. 8:28). Di balik pergumulan dapat tersimpan mujizat dan berkat besar.

3. Berhati-hatilah membuat penilaian dan keputusan. Waktu kadangkala diperlukan untuk memahami kehendak dan rencana Tuhan dalam hidup kita. Dengan waktu berjalan, potongan-potongan rencana Allah dinyatakan sedikit demi sedikit. Ketika Anda memasang puzzle, gambaran akan tampak semakin jelas dengan berjalannya waktu pengerjaan. Contoh: Ketika Yosafat terjepit di Padang gurun, Tuhan memberinya air melimpah bukan datang dalam bentuk hujan. Penilaian Raja Israel dan Yosafat jauh bertolak belakang (2 Raj. 3:9-12). Jika Anda sedang dalam pergumulan, teruslah mengingat kasih dan kesetiaan Tuhan menolong kita. Jika kemarin Tuhan menolong, hari inipun Ia dapat menolong dengan cara apapun. Cara Tuhan sangat dinamis. Daud selalu mengingat pertolongan Tuhan, itulah sebabnya saat ia menghadapi kesulitan baru, ia tetap percaya dan berjuang dalam iman. Perhatikan kata “telah” dan kata “akan” (1 Sam. 17:37a). Buru-buru membuat penilaian dan keputusan dapat merugikan. Waktu merenung dan konsultasi sangatlah penting dalam membuat penilaian dan keputusan (Mzm. 62:9). Amin!

22
Jul 2018
di Ruang C-D
Pkl. 11:00
29
Jul 2018
di Ruang Ibadah
18-19
Agu 2018
di Hotel Laras Asri Salatiga
15
Jul 2018
Pdt. Johan Chrisdianto
8
Jul 2018
Ps. Benny Yulianto, S. Th.
1
Jul 2018
Bp. Bambang Sulistyo, M.Th.
24
Jun 2018
Ps. Benny Yulianto, S. Th.