Ringkasan Khotbah

26
Nov 2017
HAKIM-HAKIM 21:25
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.

Lima kitab pertama Alkitab berbicara mengenai aneka macam perjanjian yang dibuat antara Allah dan manusia: (1). Perjanjian tidak bersyarat: Perjanjian tentang datangnya Juruselamat melalui keturunan Adam - Yehuda dan perjanjian untuk membawa umat Tuhan masuk ke Tanah Perjanjian. Perjanjian mengenai keselamatan hanya melalui datangnya Juruselamat. Keselamatan bukan diperoleh melalui usaha manusia, tetapi hanya diperoleh melalui penebusan Sang Juruselamat (Kej3:7,15,21).

(2). Perjanjian bersyarat: Perjanjian antara Tuhan dan bangsa Israel. Tujuannya: Agar Israel langgeng memiliki Tanah Perjanjian maka mereka harus menuruti Perjanjian yang dibuat melalui perantaraan Musa. Perjanjian ini kelak dikenal sebagai Hukum Taurat. Jika dilanggar maka Israel akan diusir keluar dari Tanah Perjanjian (Ula. 4:40; 32:47). Musa sudah memperingatkan bahwa penindasan oleh bangsa-bangsa asing akan menimpa Israel sebagai hukuman ketika mereka melanggar Perjanjian Musa. Ritus perjanjian ini bukan berlaku untuk segala bangsa, dan bukan syarat agar manusia masuk ke dalam surga.

   Kitab Yosua membuktikan bahwa Allah menepati setiap janji-Nya (Yos21:45). Kitab Hakim-hakim sampai Maleakhi membuktikan bahwa umat Tuhan terus-menerus tidak menepati perjanjian. Israel berulang kali melanggar perjanjian Musa/Taurat (Hak.17:6).Intinya:Tuhantelah menepati janji-Nya kepada Abraham dengan memberikan negeri Perjanjian pada Israel. Tuhan bermaksud agar mereka memiliki negeri itu selama-lamanya, syaratnya adalah menaati peraturan-peraturan sipil negeri itu yang tertulis dalam Hukum Taurat, untuk selama-lamanya. Perjanjian bersyarat akan batal ketika salah satu pihak mengingkarinya. Terbukti dalam kitab Hakim-hakim sampai Maleakhi dijelaskan bahwa Israel berulang kali melanggar perjanjian. Kitab Hakim-hakim menunjukkan bahwa bangsa Israel belum siap menjaga berkat tersebut. Mereka hanya memilikinya sementara, dan berulang kali dijajah oleh bangsa-bangsa lain. Apa yang tertulis dalam kitab ini? A. Perilaku bangsa Israel yang tidak setia kepada Tuhan. B. Perilaku beberapa Hakim yang tidak memiliki karakter yang baik dan tidak memahami firman Tuhan dengan benar. Contoh yang menonjol: Gideon, Yefta, dan Simson. Masing-masing dengan kelemahannya. Keberhasilan mereka dinodai dengan darah karena tidak sepenuhnya menaati firman Tuhan.

      Firman Tuhan dalam Kitab ini sebenarnya dituliskan agar umat Tuhan selalu menyadari bahwa meskipun umat Tuhan berulang kali tidak setia, tetapi Allah tetap setia. Allah mengirimkan para Hakim agar menyadarkan dan menolong umat-Nya agar hidup sesuai dengan instruksi Allah. Tujuannya adalah agar umat Tuhan dapat langgeng memiliki berkat yang Tuhan sediakan.Tuhan berulang kali mengirimkan para hakim agar umat Tuhan dapat memiliki Tanah Berkat secara langgeng. Namun kelemahan para pemimpin tersebut rupanya menjadi halangan untuk mencapai perbaikan umat Tuhan. Akibat dari kegagalan para pemimpin sangatlah berat. Umat Tuhan yang tidak memiliki pemimpin yang cakap ternyata terus-menerus jatuh bangun dalam dosanya, sehingga gagal memiliki berkat Tuhan secara langgeng.

Panggilan Tuhan bagi para pemimpin umat:

1. Memberikan teladan hidup sesuai firman Tuhan. Beberapa hakim dalam kitab ini ternyata memiliki karakter yang tidak menunjang pelayanan mereka. Ada banyak kelebihan yang mereka miliki, kita harus menghargainya, namun Alkitab menyebutkan kelemahan-kelemahan yang menjatuhkan mereka. Akibatnya umat Tuhan tidak sepenuhnya mentaati instruksi yang diberikan oleh Tuhan. Yefta: sempat hidup dalam kepahitan, bernazar sembarangan, tidak meminta pimpinan Tuhan secara cukup ketika mengambil keputusan. Gideon: membuat efod. Simson: lemah dalam hal wanita. Teladan merupakan sebuah hal yang sangat penting untuk memimpin. Contoh: Imam Eli (1 Sam .2:29; 1 Tim4:12). Seorang ayah harus memberikan teladan yang baik bagi anak-anaknya. Seorang suami harus memberikan teladan yang baik bagi isterinya. Seorang atasan harus memberikan teladan yang baik bagi anak buahnya. Namun tidak ada orang yang sempurna, teladan yang dapat diberikan adalah perubahan hidup. Jangan menuntut pemimpin berlebihan. Mereka adalah manusia biasa. Jangan bersikap negatif/melawan para pemimpin. Kalau belum bisa lebih baik dari oranglain, tidak perlu menuntut.

2. Mengajar jemaat memahami dan menaati maksud Tuhan dengan benar. Kitab ini diakhiri dengan menekankan bahwa sepanjang masa para hakim, bangsa Israel mengabaikan standar-standar Allah bagi mereka dan melakukan apa yang baik menurut pandangan mereka sendiri. Akan tetapi, sebagaimana dikemukakan Amsal, pikiran dan pendapat manusia kurang memadai dalam mempertimbangkan kebenaran (Ams14:12; 16:25). Menjadikan pandangan kita dan bukan firman Allah sebagai penuntun kehidupan kita merupakan pemberontakan terhadap-Nya. Membaca firman Tuhan haruslah dengan hati yang murni. Jika membaca firman dengan prasangka atau dengan pikiran yang tidak bersih dapat tersesat. Pikiran manusia dapat membenarkan dirinya sendiri, mencari-cari pembenar bagi keinginan, dll. Beberapa peringatan agar kita mewaspadai pikiran kita (Ams14:12; 3:15; Yer17:9). Yesus menegur keras para pemuka Yahudi karena terus mengeraskan hati dan menolak Tuhan (Mat.  23:37-39). Buka hati dan selidiki firman dengan pimpinan Roh Kudus (1 Tim.2:13). Orang tua memiliki tugas mendidik anaknya memahami dan menaati  Alkitab. Para pemimpin rohani juga demikian (Ibr. 13:17). Amin!

22
Okt 2018
di Ruang Rehat
Pkl. 18:00
28
Okt 2018
di Ruang Ibadah
Pkl. 08:30
14
Okt 2018
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
7
Okt 2018
Bp. Bambang Sulistyo, M.Th.
30
Sep 2018
Ev. Surya Supeno (Jakarta)
23
Sep 2018
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.