Ringkasan Khotbah

15
Okt 2017
Mazmur 86:11
Paul G. Caram

Pada saat kita lahir baru, kita bagaikan bayi yang baru lahir: sangat kecil, sangat lemah, dan tidak banyak mengerti. Tetapi, Tuhan akan datang menjemput pengantin-Nya dengan penuh kemuliaan. Oleh karenanya, mari kita terus bertumbuh dengan baik. Untuk itu, kita harus menjadikan Tuhan nomor satu dalam hidup kita. Seringkali, orang Kristen tidak hidup dalam kepuasan. Tidak hidup damaidantidak hidup tenang. Sebabnya,karena orang Kristen hidup dengan hati yang bercabang. Kita cinta Tuhan, tetapi juga cinta kepada hal-hal yang lain. Itu sebabnya Tuhan ingin memberikan kepada kita hati yang bulat/utuh. Dalam bahasa aslinya, kata “damai” dan “bulat/utuh” memiliki akar kata yang sama. Ketika kita memiliki hati yang bulat/utuh/fokus, maka kita juga akan memiliki damai. Yesus berkata bahwa tidak ada orang yang bisa melayani dua tuan. Namun, orang Kristen ingin menyembah Tuhan dan hal-hal lain yang dia anggap penting dalam hidupnya. Itu sebabnya Raja Daud berdoa dalam Mazmur 86:11 agar Tuhan memberikannya hati yang bulat untuk takut akan nama-Nya. Daud mencintai Tuhan, tapi ada saat dia begitu sembrono sehingga jatuh dalam dosa moral. Maka, dia berdoa agar Tuhan memberikannya hati yang bulat (Yak. 1:8; Kel. 34:14).

Kata “hati” disebutkan sebanyak 950 kali dalam Alkitab. Apa yang Alkitab maksudkan? Hati adalah pusat dari segala sesuatu (sumber). Ketika Alkitab berbicara tentang hati, ini merujuk kepada roh manusia: pusat cinta, motivasi, keputusan, hal-hal yang penting (Yer. 17:9). Kita tidak mengerti isi hati kita, karenanya mari terus berdoa agar Tuhan menyelidiki isi hati kita. Dosa dimulai dari hati kita. Tuhan ingin menuliskan hukum-hukum-Nya ke dalam hati dan pikiran kita, sebab itu hati kita harus bulat. Salah satu masalah dengan hati adalah kita memiliki sesuatu yang kita utamakan lebih daripada Tuhan (berhala). Allah memiliki banyak nama, salah satu nama-Nya adalah Cemburuan (Kel. 34:14), artinya: menuntut menjadi nomor satu (Kol. 3:1-2; Yer. 2:13).

Berhala adalah sesuatu yang kita utamakan lebih dari Tuhan/menggantikan posisi Tuhan. Manusia memiliki beberapa bentuk berhala:

1. Berhala cinta (1 Tim. 2:13-14; Yoh4). Adam lebih memilih cinta kepada perempuan dibandingkan cinta kepada Tuhan. Adam tidak tertipu oleh ular, tetapi dia memilih apa yang dipilih Hawa oleh karena tidak ingin kehilangannya. Kelemahan yang Adam miliki terdapat juga di dalam diri semua umat manusia. Namun, ketika seseorang datang kepada Tuhan dengan hati yang bulat, hidupnya akan berbuah meskipun masa lalunya buruk. Tuhan akan memulihkan dan memakai hidupnya menjadi berkat seperti wanita Samaria.

2. Berhala pujian manusia (Yoh. 12:43; Mat. 10:37). Banyak orang mencari kehormatan, pujian, pendapat dari manusiasehingga mereka gagal menuju Surga. Mereka tidak mencari pujian dari Tuhan.

3. Berhala pencapaian hidup. Manusia rela menjual jiwanya untuk mencapai prestasi dan menjadi nomer satu. Roh dunia ini adalah ambisi menjadi nomer satu, mencari semua pujian untuk kita. Setan mencuri sesuatu yang seharusnya menjadi milik Tuhan, yaitu kemuliaan dan posisi Tuhan.

4. Berhala posisi. Lucifer mencintai posisinya lebih dari mencintai hubungannya dengan Tuhan. Apapun yang kita cintai lebih dari Tuhan tidak akan membuat kita puas, sebaliknya menghancurkan kita.

5. Berhala uang: kerakusan, ketamakan. Yudas memiliki kuasa kerasulan yang besar, tetapi ia lebih memilih uang daripada Tuhan (Mat. 10:1; 7:24, 26) dan mengkhianati Yesus demi 30 keping perak.

6. Berhala tradisi (Mrk. 7:9, 13). Banyak orang yang mencintai tradisi/kebiasaan daripada Tuhan. Mereka sangat mempertahankannya dan memeliharanya dengan teliti dan hati-hati lebih daripada memelihara firman Tuhan dalam hatinya (contoh: orang Farisi lebih mengutamakan tradisi hukum Taurat sehingga mereka tidak bisa menerima Yesus dan ajaran-Nya).

7. Berhala idola yang salah. Hal ini terutamaterjadi pada anak-anak muda yang menyukai orang-orang tenar dan ingin menjadi seperti idola mereka.

8. Berhala ego/”aku” (2 Tim.3:1-3). Manusia mencintai diri sendiri lebih daripada Tuhan.

Jika kita mengutamakan yang lain lebih daripada Tuhan, itulah berhala kita. Serahkanlah hati kita sepenuhnya pada Tuhan, maka kita akan mendapatkan kepuasan dan kedamaian sejati. Amin!

25
Agu 2019
di Ruang Ibadah
Pkl. 08:30
18
Agu 2019
Ps. Benny Yulianto, S. Th.
11
Agu 2019
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
4
Agu 2019
Bp. Bambang Sulistyo, M.Th.
28
Jul 2019
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.