Ringkasan Khotbah

13
Agu 2017
Bilangan 10:1-10
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.

Allah memerintahkan pembuatan dua nafiri dari perak tempaan sebagai alat komunikasi dari Tuhan kepada umat-Nya, dan dari umat Tuhan kepada-Nya. Peniup nafiri: Keturunan Imam Harun. Kedua nafiri ditiup: Seluruh umat Tuhan berkumpul. Satu Nafiri ditiup: Para pemimpin dan Kepala pasukan berkumpul.Tanda semboyan (Ibrani:  teruah): (a).Untuk menyuruh umat Tuhan berangkat sesuai arahan Tuhan. (b). Ketika menghadapi peperangan agar diingat dan diselamatkan Tuhan.Tiupan Nafiri biasa/bukan tanda semboyan:  (a). Untuk menyuruh umat Tuhan berkumpul. (b). Ketika berada dalam hari-hari sukaria: perayaan-perayaan, bulan-bulan baru, persembahan korban bakaran dan Korban keselamatan agar diingat Tuhan.

 Apa yang kita bisa pelajari dari Bilangan 10?

1. Menyampaikan pesan dari Tuhan kepada umat-Nya. Melalui hamba-hamba Tuhan kepada umat Tuhan. Itulah sebabnya digambarkan bahwa peniup nafiri adalah keturunan Harun. Macam pesan Tuhan: (a). Pesan untuk berkumpul guna mendengarkan pimpinan Tuhan. Pesan untuk memanggil umat Tuhan agar berbalik kepada Tuhan dan mendengarkan firman Tuhan. Diberikan kepada para pemimpin umat Tuhan, dan juga kepada seluruh umat Tuhan secara langsung. (b). Pesan untuk berangkat melakukan perintah Tuhan. Bergerak secara aktif untuk melakukan firman Allah dengan setia. Pada masa Tuhan Yesus melayani di bumi, orang-orang Yahudi menolak Dia, hingga Yesus berkata bahwa Yerusalem membunuh nabi-nabi dan merajam utusan-utusan Allah, Tuhan rindu mengumpulkan mereka seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya tetapi mereka tidak mau. Kita menerima firman Allah melalui hamba-hamba Tuhan. Aplikasi:  (a). Rajinlah beribadah untuk menerima pengajaran firman Tuhan yang sehat. Bergereja lokal dengan benar. Hari Mingguadalahwaktu untuk perkumpulan raya untuk mendengarkan firman Tuhan. Kita perlu menghormati waktu yang diberikan oleh Tuhan kepada kita (Ibr10:25). (b). Menjadi pelaku firman Tuhan dalam hidup sehari-hari. Firman Tuhan bukan hanya untuk didengar dan diingat, tetapi direnungkan dan dilakukan dengan setia (Yak. 1:22). Contoh: Mengampuni sesama dengan sepenuh hati. Illustrasi orang tua sedih ketika melihat anak-anaknya bertengkar, sebaiknya anak-anak hidup saling mengasihi dan mendukung. Di dalam gereja juga demikian, kumpulan orang percaya adalah anak-anak Allah yang harus belajar saling mengasihi.

2. Menyampaikan pesan dari umat kepada Tuhan. Doa memohon penyertaan dan pertolongan Tuhan dan ucapan syukur kepada Tuhan. Di saat susah maupun senang senantiasa mengingat Tuhan.Nafiri ditiup untuk menyatakan ketergantungan kepada pertolongan dan pimpinan Tuhan.Saat umat Tuhan menghadapi kesulitan, mereka berdoa kepada Tuhan, dan meniup nafiri menunjukkan sikap hati mereka bergantung kepada Tuhan. Saat perayaan-perayaan, bulan-bulan baru, korban bakaran dan korban keselamatan, dan meniup nafiri menunjukkan hati mereka yang percaya pada kebaikan Tuhan. Hal-hal tersebut mengingatkan umat Tuhan untuk merayakan kebaikan dan kemurahan Tuhan, sekaligus mengingat janji setia Tuhan yang akan datang untuk menyelamatkan umatNya dari dosa melalui pengorbanan Juruselamat yang digambarkan melalui ritual korban. Jadi setiap kali umat Tuhan merayakan hari-hari sukaria, mereka harus mengucap syukur karena dua hal: (a). Karena pertolongan dan berkat Tuhan. Pertolongan dan berkat Tuhan yang sudah diterima. (b). Karena mempercayai kesetiaan Tuhan. Pertolongan dan berkat Tuhan yang akan diterima. Mempercayai rencana Tuhan adalah yang terbaik – berserah/mempercayakan hidup kepada Tuhan. Untuk itu umat Tuhan harus hidup di dalam doa dan ucapan syukur. Doa untuk keperluan pribadi, baik ketika menerima berkat atau dalam pergumulan doa untuk bangsa dan negara, doa untuk pemberitaan kabar bai. Aplikasi: Waktu perkumpulan raya semacam ini (ibadah raya) merupakan waktu yang baik untuk menaikkan doa permohonan sekaligus ucapan syukur kepada Tuhan (Yer. 17:5-8).

3. Umat Tuhan harus peka memahami dan menyuarakan pesan Tuhan.Umat Tuhan harus peka mendengar tetapi juga harus memahami tanda nafiri yang ada beberapa macam, tidak boleh keliru mengartikan tanda nafiri biasa dan tanda semboyan. Berikutnya mereka perlu memahami kehendak Tuhan, sehingga dapat melakukan kehendak Tuhan dengan baik. Umat Allah harus sensitif terhadap tanda yang diberikan oleh Tuhan. Contoh: Pentahbisan Bait Suci Salomo merupakan tipologi pentahbisan gereja. Ketika Bait Suci Salomo/Rumah Allah didirikan, ada 120 orang imam peniup nafiri (2 Taw5:12). Ketika Bait Allah Perjanjian Baru (gereja) didirikan, ada 120 orang yang berkumpul dalam sebuah tempat, yang kemudian dipenuhi Roh Kudus (Kis. 1:15; 2:7-12). Orang-orang Yahudi yang memahami pesan Tuhan melalui “nafiri"  disuarakan oleh 120 orang Perjanjian Baru” tersebut menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat dan memperoleh keselamatan! Namun sebagian besar orang Yahudi yang lain tidak peka memahami “nafiri Allah” itu sehingga mereka menolak Tuhan Yesus dan bahkan menganiaya orang-orang percaya, sebagai akibatnya kelompok tersebut tidak dapat melakukan kehendak Tuhan untuk memberitakan kabar keselamatan pada segala bangsa, justru sebaliknya menganiaya orang-orang Kristen (Yoh12:37-41). Kita mendapat mandat untuk pergi menjadikan semua bangsa murid Tuhan, membaptis dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus, dan mengajar mereka melakukan segala perintah Tuhan. Bukan hanya sekedar memberitakan kabar baik, namun memuridkan orang percaya.Mencetak para pekerja dalam Kerajaan Allah. Pemuridan itu sangat penting! Aplikasi: Orang percaya harus memahami Alkitab dengan benar sehingga dapat melakukan tugasnya dengan benar. Perlu dididik dengan baik, dipersiapkan, dilatih untuk melayani. Dimuridkan untuk mencetak murid Kristus yang setia. Amin!

18
Des 2017
di Ruang Rehat
Pkl. 18:00
19
Des 2017
di Ruang Ibadah
Pkl. 17:00
24
Des 2017
di Ruang Baptis
Pkl. 11:00
25
Des 2017
di Ruang Ibadah
Pkl. 17:00
10
Des 2017
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
3
Des 2017
Bp. Bambang Sulistyo, M.Th.
26
Nov 2017
Ps. Dr. dr. Liem Pik Jiang, M. Th.
19
Nov 2017
Ps. Benny Yulianto, S. Th.